
Manokwari(8/2/2026) — Manokwari, Papua Barat, akan menjadi episentrum diskusi ilmiah dan kebijakan global melalui penyelenggaraan The 12th Flora Malesiana Symposium (FM12) yang dirangkaikan dengan International Nature-Based Climate Solutions Conference (INBCS) pada 9–12 Februari 2026.
Forum internasional ini mempertemukan ratusan ilmuwan, akademisi, pembuat kebijakan, organisasi masyarakat sipil, serta komunitas adat dari berbagai negara untuk membahas keanekaragaman hayati kawasan Malesia dan peran strategis Solusi Berbasis Alam (Nature-Based Solutions/NbS) dalam merespons krisis iklim.
Hingga menjelang pelaksanaan, tercatat 195 peserta mendaftar secara daring, dengan 56 di antaranya merupakan peserta internasional, mencerminkan besarnya perhatian global terhadap Papua dan kawasan Malesia.
Ketua Bersama I Panitia FM12 & INBCS 2026, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS, menegaskan bahwa penyelenggaraan forum ini di Papua memiliki makna strategis, baik secara ilmiah maupun kebijakan.
“Papua bukan hanya pusat keanekaragaman hayati dunia, tetapi juga ruang belajar global tentang bagaimana ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kearifan lokal dapat berjalan bersama. FM12 dan INBCS menjadi momentum untuk memperkuat posisi Papua sebagai produsen pengetahuan, bukan sekadar objek penelitian,” ujar Heatubun, yang juga menjabat Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat serta Plt. Kepala Bappeda Papua Barat.

Kawasan Malesia, yang mencakup Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, dan wilayah sekitarnya, dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman tumbuhan tertinggi di dunia. Hingga kini tercatat sedikitnya 13.634 spesies tumbuhan berpembuluh endemik, atau sekitar 68 persen dari total spesies di kawasan tersebut. Papua menjadi salah satu benteng utama keanekaragaman hayati global, dengan hutan hujan tropis yang masih relatif utuh.
Ketua Bersama II Panitia, Prof. Dr. Agustinus Murdjoko,S.Hut, M.Sc menyebutkan bahwa FM12 memiliki peran penting dalam memperkuat fondasi keilmuan botani dan konservasi di kawasan tropis.
“Taksonomi dan sistematika tumbuhan adalah dasar dari seluruh upaya konservasi. Jika kita tidak mampu mengenali dan menamai keanekaragaman hayati kita sendiri, maka kita tidak akan mampu melindunginya. FM12 menjadi ruang strategis untuk memperkuat regenerasi ilmuwan dan riset flora Malesia, khususnya di Tanah Papua,” kata Murdjoko, akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Papua.
Sementara itu, rangkaian International Nature-Based Climate Solutions Conference menempatkan Papua dalam diskursus global mengenai solusi iklim yang adil, berbasis ekosistem, dan berpihak pada masyarakat lokal serta adat.
Ketua Bersama III Panitia, Bustar Maitar, menekankan pentingnya pendekatan NbS yang tidak melepaskan dimensi sosial dan keadilan.

“Solusi berbasis alam tidak boleh berhenti pada konsep teknis. Ia harus memastikan hutan, laut, dan wilayah adat tetap menjadi sumber kehidupan masyarakat. Papua menunjukkan bahwa perlindungan alam, kesejahteraan masyarakat, dan agenda iklim global bisa berjalan seiring,” ujar Bustar Maitar, CEO EcoNusa Foundation.
Selama pelaksanaan, FM12 & INBCS 2026 akan menghadirkan sesi pleno dan paralel yang membahas ekologi tumbuhan, sistematika dan evolusi flora, etnobotani, mangrove dan lamun, terumbu karang, hutan tropis dan lahan gambut, hingga praktik terbaik NbS dari berbagai negara. Sejumlah ilmuwan terkemuka dunia, peneliti nasional, serta perwakilan komunitas lokal akan berbagi temuan riset dan pengalaman lapangan.
Penyelenggaraan FM12 & INBCS 2026 di Manokwari diharapkan tidak hanya memperkuat kolaborasi riset internasional, tetapi juga mendorong pengakuan global terhadap Papua sebagai aktor penting dalam agenda keanekaragaman hayati dan perubahan iklim dunia.
Ragam Topik yang Dipresentasikan
- Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Lingkungan
Sesi ini membahas kondisi terkini keanekaragaman hayati di kawasan Malesia, termasuk Papua, serta tantangan pengelolaannya di tengah deforestasi, fragmentasi habitat, dan perubahan iklim. Para peneliti mempresentasikan temuan terbaru tentang spesies endemik, pola sebaran tumbuhan, dan strategi pengelolaan ekosistem berkelanjutan.
- Sistematik Tumbuhan dan Evolusi
Topik ini menyoroti perkembangan terbaru dalam taksonomi dan filogeni tumbuhan, termasuk pemanfaatan teknologi genomik untuk memahami hubungan evolusioner antarspesies. Diskusi menegaskan pentingnya sistematik tumbuhan sebagai dasar ilmiah bagi konservasi dan pengelolaan sumber daya alam.
- Konservasi Tumbuhan, Flora Lokal, dan Citizen Science
Para pemateri mengulas peran masyarakat dalam konservasi tumbuhan melalui pendekatan citizen science, dokumentasi flora lokal, serta kolaborasi antara ilmuwan dan komunitas adat. Papua dipandang memiliki peluang besar mengembangkan model konservasi partisipatif berbasis kampung.
- Solusi Berbasis Alam dan Komunitas
Sesi ini menempatkan Nature-Based Solutions (NbS) sebagai pendekatan kunci dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Diskusi mencakup peran hutan, bentang alam, dan praktik pengelolaan tradisional masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan ekologis sekaligus menopang ekonomi lokal.
- Mangrove dan Lamun: Iklim, Karbon, dan Pengelolaan Berkelanjutan
Mangrove dan lamun dibahas sebagai benteng alami pesisir dan penyerap karbon biru yang sangat efektif. Para pakar menegaskan bahwa perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan ekosistem pesisir menjadi strategi penting menghadapi kenaikan muka air laut dan perubahan iklim.
- Terumbu Karang dan Perikanan
Topik ini mengaitkan kesehatan terumbu karang dengan keberlanjutan perikanan dan ketahanan pangan masyarakat pesisir. Papua, sebagai bagian dari Coral Triangle, dipandang memiliki peran strategis dalam konservasi laut global.
- Ekologi Tumbuhan dan Keanekaragaman Kawasan Malesia
Sesi ini mengulas dinamika ekologi tumbuhan, interaksi spesies, serta respons ekosistem terhadap perubahan lingkungan. Pemaparan menekankan pentingnya riset jangka panjang untuk memahami ketahanan ekosistem tropis.
Dari Riset Global ke Aksi Lokal
Rangkaian simposium dan konferensi ini tidak hanya menghadirkan presentasi ilmiah, tetapi juga mendorong dialog lintas sektor antara peneliti, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil. Papua Barat diharapkan menjadi contoh bagaimana ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan.
Melalui FM12 dan NBCS, Manokwari tidak hanya menjadi tuan rumah pertemuan ilmiah internasional, tetapi juga ruang refleksi global tentang masa depan keanekaragaman hayati dan iklim—dengan Papua sebagai salah satu kunci utamanya. (*)
( Sumber : Siaran Pers Panitia)





