“This Choice I Made”: Luka dan Kesadaran Papua

Lirik “I’m Getting Divorced” dari Lagu It’s Not Easy yang dinyanyikan Lucky Dube bukan hanya kisah tentang pernikahan yang gagal, melainkan refleksi universal tentang pilihan yang salah dan konsekuensi dari kebutaan hati. Dalam kacamata filsafat sosial, lagu ini berbicara tentang kesadaran eksistensial manusia ketika ia sadar bahwa keputusan yang dulu dianggap benar ternyata melahirkan penderitaan.

Jika kita bawa pesan ini ke Papua, lagu Lucky Dube menjadi cermin yang sangat relevan — tentang relasi antara rakyat Papua dan sistem kekuasaan yang selama puluhan tahun membungkus diri dalam janji keindahan, tetapi sering berujung pada luka.

Ketika Lucky Dube bernyanyi, “I told her mama, I’m getting married… she is the best”, ia sedang menuturkan kegembiraan awal seseorang yang jatuh cinta pada ilusi. Dalam konteks Papua, cinta ini bisa dibaca sebagai cinta rakyat terhadap janji pembangunan dan integrasi, yang dulu dikumandangkan sebagai “pernikahan politik” antara Papua dan Indonesia — janji kesejahteraan, pendidikan, dan kemanusiaan.

Namun, seperti kata lirik berikutnya, “This choice I made didn’t work out the way I thought it would”, janji itu berubah menjadi rasa kecewa. Rakyat Papua menemukan bahwa cinta yang ditawarkan ternyata memiliki wajah ganda: pembangunan yang menjauhkan, kemajuan yang tidak adil, dan kebijakan yang lebih sering menyakiti daripada menyembuhkan.

Dalam filsafat eksistensial Jean-Paul Sartre, kebebasan manusia adalah beban yang tak bisa dihindari — karena setiap pilihan memiliki konsekuensi moral. “This choice I made” adalah pengakuan eksistensial: bahwa penderitaan lahir bukan hanya dari nasib, tapi dari pilihan yang pernah kita buat tanpa refleksi mendalam.

Demikian pula dalam kehidupan sosial Papua: banyak pilihan yang diambil tanpa pertimbangan kultural dan spiritual — dari kebijakan pembangunan yang menyingkirkan masyarakat adat, hingga proyek-proyek besar yang tidak menghormati tanah dan sejarah.
Lagu ini mengingatkan: keputusan tanpa pemahaman adalah bentuk buta terhadap masa depan.

Di tengah kesedihan, suara “Mama said to me, it’s not easy to understand it son, but I hope you’ll make it” menjadi simbol penting. Dalam konteks Papua, “Mama” bukan hanya ibu biologis, tetapi lambang kearifan lokal dan nilai adat yang memberi nasihat pada generasi muda.

Mama mewakili suara tanah, suara adat, suara rohani yang lembut namun tegas. Ia tidak menghakimi, tetapi menuntun agar manusia belajar dari penderitaan.
>Seperti dalam kehidupan sosial Papua hari ini, di tengah luka dan perpecahan, suara “Mama” adalah panggilan untuk kembali ke akar nilai — ke harmoni, kerja keras, dan gotong royong (Enaimoo) sebagai dasar rekonsiliasi sosial.

Lirik “Now I’m hurting… but Mama said, you’ll be happy again” memuat pesan eksistensial yang dalam: luka adalah bagian dari proses menuju kesadaran. Filsafat Viktor Frankl mengajarkan bahwa penderitaan memiliki makna bila manusia menemukannya dalam kerangka tujuan hidup.

Papua hari ini terluka — karena politik yang gagal memahami jiwa rakyatnya. Tetapi seperti pesan Lucky Dube, “kebahagiaan akan datang lagi” bila manusia mau belajar dari kesalahan dan menata kembali hubungan yang rusak: antara rakyat dan negara, antara pembangunan dan keadilan, antara manusia dan tanahnya sendiri. Paradoksnya, justru dari penderitaan sosial, muncul kemungkinan untuk membangun kesadaran baru tentang martabat dan kebebasan.

Lagu “It’s Not Easy” adalah refleksi moral tentang kebodohan awal dan kebijaksanaan yang lahir dari luka. Papua pun hidup dalam narasi serupa: perjalanan panjang dari janji indah menuju kenyataan pahit, dan kini, menuju pencarian jati diri yang lebih jujur.

Lagu ini mengajarkan filsafat yang menegaskan bahwa manusia menciptakan ilusi ketika mencintai tanpa pemahaman, dan melahirkan kekerasan ketika membangun tanpa keadilan — meski dikemas atas nama kemajuan.

Karena itu, ketika hari ini Papua berkata seperti Lucky Dube — “This choice I made didn’t work out the way I thought it would” — Papua sebenarnya tidak menyerah. Ia justru mulai sadar untuk memilih dengan hati, membangun dengan nilai, dan memulihkan hubungan dengan tanah serta sesama manusia.(*)

( Oleh : Alberth Yomo – Jurnalis Jubi )

 

Admin

Related Posts

Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Perubahan pola makan, lingkungan, hingga cara masyarakat memperoleh makanan tidak hanya mengubah kebiasaan hidup. Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi komunitas mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh manusia,…

Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Seorang ibu datang dari kampung bersama empat anaknya untuk menukar tomat dengan mi instan. Kisah yang beredar melalui video TikTok itu menjadi salah satu pembuka materi Ahmad…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Dies Natalis ke-26, UNIPA Catat 16.445 Lulusan dan Siapkan Transformasi Menuju Universitas Riset 2035

  • By
  • November 3, 2026
  • 6 views
Dies Natalis ke-26, UNIPA Catat 16.445 Lulusan dan Siapkan Transformasi Menuju Universitas Riset 2035

Prof. Charlie Dorong UNIPA Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan di Papua

  • By
  • November 2, 2026
  • 9 views
Prof. Charlie Dorong UNIPA Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan di Papua

Bappeda Papua Barat dan Terra Abadi Papua Jajaki Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan

  • By
  • Oktober 27, 2026
  • 18 views
Bappeda Papua Barat dan Terra Abadi Papua Jajaki Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan

Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

  • By
  • Oktober 9, 2026
  • 22 views
Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

  • By
  • Oktober 6, 2026
  • 29 views
Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana

  • By
  • Oktober 5, 2026
  • 28 views
Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana