Manokwari,(9/2/2026) — Setelah lebih dari 25 tahun penelitian intensif, sebuah karya raksasa dalam dunia botani akhirnya melihat dunia: buku Palms of New Guinea (Palem-Palem New Guinea). Buku setebal 726–752 halaman ini menjadi catatan taksonomi paling lengkap pertama tentang 250 spesies palem asli Pulau New Guinea — pulau terbesar kedua di dunia yang masih menyimpan lebih dari 70% hutan asli dan keanekaragaman hayati tropis yang luar biasa.

Buku monumental yang ditulis sejumlah pakar Botani Dunia ini diluncurkan oleh Gubernur Papua Barat, Drs.Dominggus Mandacan, M.Si di Kantor Gubernur Papua Barat, Manokwari, Senin (9/2/2026), disaksikan puluhan peneliti Internasional dari 16 negara. Beberapa buku itu kemudian diserahkan Gubernur kepada Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rektor Unipa, Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Bupati Pegunungan Bintang, Perwakilan Flora Malesiana Foundation dan sejumlah pihak, disaksikan langsung oleh salah satu penulisnya, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS.

Penyusunan buku ini dipimpin oleh William J. Baker PhD, Senior Research Leader di Royal Botanic Gardens, Kew (Inggris), dan dikerjakan bersama tim internasional yang terdiri dari sembilan penulis utama dari Inggris, Denmark, Australia, Swiss, Amerika Serikat, Indonesia, dan Papua New Guinea. Di antara nama-nama kunci lainnya adalah Anders S. Barfod, Rodrigo Cámara-Leret, John L. Dowe, John Dransfield, Charlie D. Heatubun, Peter Petoe, Jessica H. Turner, serta Scott Zona.

“Ini adalah buku yang kita tunggu-tunggu selama puluhan tahun,” tulis Kipiro Q. Damas, Senior Botanist dari PNG National Herbarium, dalam kata pengantarnya. “Buku ini bukan hanya untuk ahli, tapi juga ramah bagi masyarakat awam, termasuk generasi muda Papua New Guinea yang sudah mulai kehilangan pengetahuan tradisional tentang tumbuhan.”

Palem: Lebih dari Sekadar Pohon

Di New Guinea, palem bukan sekadar tanaman hias atau penghias hutan. Bagi masyarakat adat, palem adalah penopang hidup: sagu dari Metroxylon sagu menjadi makanan pokok di dataran rendah, buah pinang (Areca catechu) dipakai sebagai stimulan, pelepah dan selubung daun menjadi bahan atap dan dinding pondok sementara, bahkan bibit muda beberapa spesies dimakan langsung. Sayangnya, pengetahuan tradisional ini semakin pudar seiring generasi muda beralih ke gaya hidup modern dan pendidikan barat.

Buku ini berupaya menjembatani kesenjangan itu dengan menyajikan informasi yang sangat lengkap untuk setiap spesies:

  • Nama ilmiah yang diterima dan sinonim
  • Deskripsi morfologi lengkap (dengan ciri diagnostik dicetak miring)
  • Peta sebaran berdasarkan hampir 3.000 rekaman spesimen herbarium yang telah diverifikasi
  • Habitat dan ketinggian
  • Nama lokal (diambil dari label herbarium dan literatur)
  • Kegunaan tradisional
  • Status konservasi (berdasarkan IUCN Red List 2023 + penilaian awal khusus buku ini)

Setiap akun spesies dilengkapi peta, ilustrasi botani karya seniman pemenang penghargaan Lucy T. Smith (yang mengerjakannya selama 23 tahun), serta foto-foto lapangan yang diambil oleh puluhan kontributor dari berbagai negara.

Proses Panjang 25 Tahun dan Kolaborasi Luas

Proyek “Palms of New Guinea” dimulai pada akhir 1990-an, terinspirasi kesuksesan buku The Palms of Madagascar (1995). Tim awal mengumpulkan lebih dari 1.100 spesimen baru, menerbitkan hampir 40 makalah persiapan, mendeskripsikan 91 spesies baru (sekitar 37% dari total flora palem asli), dan bahkan menemukan tiga genus baru. Lebih dari 250 ilustrasi diagnostik dibuat, dan sebagian besar telah memenangkan medali emas dari Royal Horticultural Society.

“Kami sempat meremehkan tantangan ilmiahnya,” tulis para penulis dalam pengantar. “Tapi selama 25 tahun itu, kami tidak berdiam diri. Kami terus menjelajah, mengumpulkan, menganalisis DNA, dan membangun kapasitas peneliti lokal.”

Kerja sama lintas negara menjadi salah satu kekuatan utama buku ini. Institusi kunci yang terlibat meliputi Royal Botanic Gardens Kew, Universitas Aarhus, Universitas James Cook, Universitas Zurich, Universitas Papua (UNIPA), Lembaga Penelitian dan Inovasi Nasional Indonesia (BRIN/LIPI), PNG Forest Research Institute, WWF, dan banyak herbarium lokal.

Harapan ke Depan

Para penulis berharap buku ini menjadi titik awal, bukan akhir. Seperti yang terjadi di Madagaskar — di mana penemuan spesies palem melonjak 200% setelah monograf serupa terbit — mereka yakin Palms of New Guinea akan memicu gelombang penelitian baru, penemuan spesies, dan upaya konservasi yang lebih baik.

Gubernur Provinsi Papua Barat (2017–2022) H.E. Dominggus Mandacan, yang memberikan kata pengantar kedua, menyebut buku ini sebagai “warisan berharga bagi generasi mendatang” dan “fondasi bagi pembangunan berkelanjutan, pencegahan kehilangan keanekaragaman hayati, serta adaptasi terhadap perubahan iklim di pulau kami yang spektakuler.”

Buku Palms of New Guinea diterbitkan oleh Royal Botanic Gardens, Kew (2024) dan dapat diunduh secara gratis dalam format PDF melalui Zenodo (https://zenodo.org/records/10794336). Versi cetak juga tersedia untuk dibeli.

Dengan hadirnya buku ini, salah satu celah terbesar dalam pengetahuan flora palem dunia akhirnya terisi — sebuah kemenangan bagi ilmu pengetahuan, konservasi, dan masyarakat adat New Guinea.(*)

Admin

Related Posts

Gubernur Papua Barat Sambut Positif Simposium Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Solusi Iklim Berbasis Alam di Manokwari Manokwari(9/2/2026) – Provinsi Papua Barat secara resmi menjadi tuan rumah dua pertemuan ilmiah…

Manokwari(8/2/2026) — Manokwari, Papua Barat, akan menjadi episentrum diskusi ilmiah dan kebijakan global melalui penyelenggaraan The 12th Flora Malesiana Symposium (FM12) yang dirangkaikan dengan International Nature-Based Climate Solutions Conference (INBCS)…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Gubernur Papua Barat Luncurkan Buku Monumental “Palms of New Guinea” : Dokumentasi Lengkap 250 Jenis Palem di Pulau Terbesar di Dunia

  • By
  • Februari 9, 2026
  • 9 views
Gubernur Papua Barat Luncurkan Buku Monumental “Palms of New Guinea” : Dokumentasi Lengkap 250 Jenis Palem di Pulau Terbesar di Dunia

Mandacan : Terima kasih Untuk Kepercayaan Dunia Kepada Papua Barat

  • By
  • Februari 9, 2026
  • 3 views
Mandacan : Terima kasih Untuk Kepercayaan Dunia Kepada Papua Barat

FM12 dan INBCS 2026: Papua Barat Tegaskan Peran Strategis dalam Riset Keanekaragaman Hayati dan Solusi Iklim Global

  • By
  • Februari 8, 2026
  • 5 views
FM12 dan INBCS 2026: Papua Barat Tegaskan Peran Strategis dalam Riset Keanekaragaman Hayati dan Solusi Iklim Global

Wartawan Liput Masyarakat Adat dan Lingkungan, Raih Penghargaan Jurnalisme

  • By
  • Februari 2, 2026
  • 9 views
Wartawan Liput Masyarakat Adat dan Lingkungan, Raih Penghargaan Jurnalisme

Sulaman di Obhe: Ketekunan Mama-Mama Penjaga Danau

  • By
  • Januari 22, 2026
  • 5 views
Sulaman di Obhe: Ketekunan Mama-Mama Penjaga Danau

Jurnalis Papua Gelar Ibadah Natal dan Tahun Baru, Perkuat Kebersamaan dan Persaudaraan

  • By
  • Januari 22, 2026
  • 12 views
Jurnalis Papua Gelar Ibadah Natal dan Tahun Baru, Perkuat Kebersamaan dan Persaudaraan