Lagu “Paradise” dari Oyaba bukan sekadar musik. Ia merupakan perjalanan eksistensial — sebuah pencarian manusia akan tempat yang sempurna. Tempat yang melampaui batas ruang dan waktu.
Ketika penyanyi membuka lagu dengan kalimat “I had a dream of a lifetime / A dream of a land sent from above”, ia sedang menyuarakan kerinduan terdalam manusia terhadap dunia yang penuh harmoni. Ini adalah tempat di mana keindahan, kebaikan, dan kedamaian menyatu.
Dan dalam konteks Papua, lirik ini menemukan gema yang amat dalam.
Papua: Surga yang Hidup dan Bernapas
Papua, dalam imajinasi kolektif, adalah wujud nyata dari paradise yang dimaksud Oyaba. Gunung-gunungnya yang berwarna, sungai-sungainya yang mengalir seperti laut, dan keragaman budayanya yang megah menjadikan Papua bukan hanya ruang geografis, tetapi simbol metafisik tentang hubungan manusia dengan alam.
Dalam pandangan filsafat fenomenologi — terutama Heidegger — manusia (Dasein) menemukan makna keberadaannya melalui tempat tinggal (dwelling).
Ketika penyanyi berkata, “I felt like I belonged to that place”, ia sesungguhnya sedang mengungkapkan kesadaran eksistensial. Manusia hanya sungguh hidup ketika ia merasa menjadi bagian dari dunia yang ia huni, bukan penguasa atasnya.
Itulah Papua — tanah yang tidak dimiliki, melainkan dihormati.
Cahaya dan Kegelapan di Tanah Surga
Namun keindahan Papua tidak datang tanpa paradoks.
Dalam lirik “Shining like a star surrounded by the dark”, tersirat ironi mendalam. Kegelapan sosial—kemiskinan, ketidakadilan, eksploitasi sumber daya, dan kekerasan struktural yang tak henti-hentinya—sering melingkupi cahaya alam dan budaya Papua.
Filsafat eksistensial mengajarkan bahwa manusia tidak dapat memahami surga tanpa mengenali penderitaan.
“Paradise” dalam konteks Papua bukan hanya tentang panorama alam. Para pejuang Papua berupaya mengembalikan martabat bangsanya yang telah direnggut oleh sistem dan sejarah panjang kolonialisme modern. Surga itu tetap ada, tetapi ia menangis di tangan manusia yang melupakannya.
Surga Sebagai Kesadaran dan Tanggung Jawab
Lirik “Angels stretched their wings to fly, singing like a choir” menggambarkan suasana spiritual yang sakral — seakan Papua adalah altar tempat langit dan bumi bertemu.
Dalam teologi kontekstual Melanesia, alam bukanlah benda mati. Melainkan, ini adalah roh yang hidup: gunung, sungai, dan hutan memiliki jiwa yang harus dihormati.
Dalam kerangka filsafat teologis, paradise bukan hanya tempat, tetapi keadaan batin ketika manusia berdamai dengan ciptaan.
Ketika masyarakat adat Papua menjaga hutan, laut, dan adatnya, mereka sebenarnya sedang menjaga surga agar tidak hilang dari bumi.
Mereka bukan hanya pelestari alam. Mereka adalah penjaga keseimbangan kosmos — hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Surga Bukan Tempat, Tapi Pilihan Hidup
Pertanyaan reflektif dalam lagu — “Tell me if I’m dreaming / Tell me if this is paradise” — adalah suara batin manusia modern yang gelisah. Ini mempertanyakan apakah surga itu nyata, atau hanya mimpi yang tak tergapai.
Sartre dan Kierkegaard menjawab bahwa surga bukan ruang di luar sana, melainkan kesadaran yang lahir dari pilihan hidup yang autentik.
Papua akan menjadi paradise sejati bukan karena keindahan alamnya semata. Tetapi karena manusia Papua memilih untuk hidup dalam keadilan, kebersamaan (enaimoo), dan harmoni dengan alam.
Menjaga Surga di Bumi Papua
Manusia merefleksikan hubungannya dengan tanah dan dirinya sendiri melalui lagu “Paradise.” Lagu ini menegaskan bahwa manusia tidak menemukan surga, melainkan menjaganya sebagai realitas yang hidup melalui kesadaran dan cinta.
Papua adalah cerminan surga di dunia. Namun, surga itu bisa lenyap jika manusia kehilangan rasa hormat terhadap alam dan sesamanya.
Paradise bukan lagi mimpi semata, tetapi panggilan moral. Hal ini mengingatkan kita untuk menjadikan Tanah Papua tetap menjadi rumah bagi kehidupan, bukan medan perebutan kuasa.
Dan seperti kata lagu, “I felt like I belonged to that place” — barangkali tugas manusia Papua hari ini adalah memastikan bahwa generasi berikutnya juga dapat berkata hal yang sama:
“Aku merasa menjadi bagian dari tanah surga ini.” (*)
( Oleh Alberth Yomo – Jurnalis Jubi )






