Di Tanah Papua, suara perlawanan tidak selalu lahir dari senjata. Kadang ia muncul dari lagu — dari suara parau Bob Marley yang menyanyikan “I shot the sheriff, but I didn’t shoot no deputy.”
Sebuah lagu yang lahir dari Jamaika, tapi gema maknanya terasa hingga ke pegunungan dan pesisir Papua. Tentang seseorang yang dituduh bersalah, padahal hanya sedang mempertahankan hak untuk hidup.
Benih yang Ditebang Sebelum Tumbuh
Dalam salah satu baitnya, Marley menyanyi: “Every time I plant a seed, he said kill it before it grow.”
Kalimat sederhana ini seolah berbicara langsung kepada realitas Papua hari ini. Setiap kali masyarakat menanam benih harapan — membangun sekolah kampung, membentuk koperasi nelayan, mengelola tanah adat mereka — selalu ada tangan kekuasaan yang datang mencabutnya dengan alasan “keamanan negara” atau “aturan pembangunan”.
Benih itu bukan sekadar tanaman; ia adalah simbol kehidupan, martabat, dan masa depan. Namun, dalam logika kekuasaan yang curiga, benih dianggap ancaman. Maka, sebelum ia tumbuh, ia ditebang.
Hak untuk Bertahan
Marley menyanyikan: “I shot the sheriff, but I swear it was in self-defence.”
Kalimat itu bukan pembenaran kekerasan, melainkan seruan moral tentang hak manusia untuk bertahan dari penindasan. Dalam pandangan filsafat eksistensial, seperti yang diungkap Albert Camus dalam The Rebel, manusia memberontak bukan karena membenci hukum, tapi karena ingin menegakkan martabat yang diinjak.
Demikian pula di Papua, suara protes sering dituduh sebagai ancaman negara. Padahal, rakyat hanya membela haknya atas tanah, udara, dan sungai yang telah memberi hidup sejak leluhur. Mereka bukan pelaku kekacauan, melainkan korban dari sistem yang menolak mendengar.
Sheriff John Brown dan Kekuasaan yang Tak Mengenal Rakyatnya
Dalam lagu itu, Sheriff John Brown adalah simbol kekuasaan yang buta — aparat yang datang bukan untuk melindungi, melainkan untuk menaklukkan.
Setiap kali rakyat berbicara tentang hak, ia menjawab dengan peluru.
Setiap kali rakyat menanam harapan, ia datang membawa surat izin dan pasal hukum.
Kekuasaan seperti itu, kata Hannah Arendt, bukan lagi wujud “power”, melainkan “violence” — kekerasan yang menggantikan dialog. Di Papua, sheriff bisa bermuka banyak: dari aparat berseragam hingga pejabat yang menandatangani izin tambang di tanah adat. Semua hadir dengan keyakinan bahwa mereka membawa hukum, padahal sering kali mereka hanya membawa ketakutan.
Keadilan yang Menjadi Dosa
Marley menulis: “Reflexes had got the better of me, and what is to be must be.”
Di titik tertentu, naluri untuk bertahan mengalahkan semua logika hukum. Dalam situasi di mana keadilan dibungkam, bertahan hidup bisa tampak seperti dosa. Tapi di situlah manusia diuji: apakah ia akan tunduk pada sistem yang menindas, atau berdiri mempertahankan dirinya sebagai manusia merdeka?
Filsafat etika mengajarkan bahwa keadilan sejati lahir dari pengakuan terhadap martabat manusia. Dan ketika negara gagal mengakuinya, rakyat akan menafsirkan keadilan dengan caranya sendiri — meski dengan harga yang mahal.
Menembak Sheriff dalam Arti Baru
Hari ini, “menembak sheriff” di Papua bukan berarti mengangkat senjata. Ia berarti berani melawan ketidakadilan dengan pikiran, pena, dan kesadaran.
Ia berarti menolak diam ketika tanah adat dijual tanpa musyawarah.
Ia berarti berani berdiri ketika hutan ditebang atas nama investasi.
Ia berarti menanam benih kehidupan, walau dunia di sekeliling berkata, “Kill it before it grow.”
Bob Marley menutup lagunya dengan kalimat, “If I am guilty, I will pay.”
Itulah suara manusia yang sadar akan tanggung jawabnya — bukan pemberontak yang gila kuasa, tapi manusia yang tidak ingin mati dalam diam.
Dari Jamaika ke Papua
Lagu itu, meski lahir jauh di Karibia, menemukan maknanya di Tanah Papua. Di tempat di mana keadilan sering datang terlambat, dan kebenaran disembunyikan di balik laporan resmi.
Papua tidak sedang menembak sheriff dengan peluru. Papua sedang menembak sistem — dengan kesadaran, dengan kebenaran, dengan keberanian untuk hidup sebagai manusia yang utuh.
Dan di situlah letak filsafatnya:
Bahwa kebebasan bukan tentang melawan hukum, tapi tentang mengembalikan hukum kepada nurani manusia.
Bahwa keadilan bukan hadiah dari kekuasaan, tapi hasil dari keberanian untuk berkata — I shot the sheriff, but only to defend my life.(*)
( Penulis : Alberth Yomo – Jurnalis di Media Jubi )






