
Jayapura (9/12/2025) – Penelitian terbaru yang dilakukan oleh para akademisi dari Indonesia dan Pakistan mengungkapkan bahwa pemberitaan isu lingkungan di televisi Indonesia masih sangat minim dan tidak merata. Selama satu tahun pengamatan, hanya 11 dari 63 stasiun televisi nasional yang menayangkan berita lingkungan, dengan total 425 tayangan.
Riset ini dilakukan oleh Anna Agustina, Tribuan Tungga Dewi, dan Nathalia Perdani Soemantri dari Universitas Pancasila, serta Noman Yaser Qureshi dari University of Sargodha, Pakistan, dan Gede Moenanto. Temuan mereka dipublikasikan dalam jurnal ASPIRATION Journal Vol.1(1) Juli 2022, p.56–72, dengan fokus pada komunikasi lingkungan dalam pemberitaan televisi Indonesia.
Metro TV Tertinggi, MNC TV dan Trans TV Hanya Menayangkan Satu Berita
Dari 11 stasiun televisi yang menayangkan isu lingkungan, Metro TV menjadi yang paling banyak memberitakan isu tersebut, dengan 132 tayangan dalam setahun, disusul Kompas TV (117) dan iNews (85). Sebaliknya, MNC TV dan Trans TV hanya menayangkan satu berita lingkungan sepanjang tahun penelitian.
| No | Stasiun TV | Jumlah Berita Lingkungan |
| 1 | Metro TV | 132 |
| 2 | Kompas TV | 117 |
| 3 | iNews | 85 |
| 4 | TVRI | 29 |
| 5 | RCTI | 22 |
| 6 | TVOne | 13 |
| 7 | SCTV | 10 |
| 8 | Trans7 | 9 |
| 9 | ANTV | 6 |
| 10 | MNC TV | 1 |
| 11 | Trans TV | 1 |
Liputan Sangat Tergantung Musim: Juli–Agustus Meledak, November Hampir Nol
Studi ini menemukan bahwa jumlah berita lingkungan sangat dipengaruhi musim. Pada Juli 2017, televisi menyiarkan 128 berita, dan 118 berita pada Agustus. Namun ketika musim hujan tiba, pemberitaan anjlok drastis—hanya dua berita pada November 2017.
Hal ini menunjukkan pola liputan yang reaktif, bukan berkelanjutan.
Jumlah Berita Lingkungan per Bulan (Juli 2017–Juni 2018)
- Juli 2017: 128
- Agustus 2017: 118
- September 2017: 63
- Oktober 2017: 24
- November 2017: 2 (terendah)
- Desember 2017: 9
- Januari 2018: 11
- Februari 2018: 37
- Maret 2018: 16
- April 2018: 7
- Mei 2018: 7
- Juni 2018: 3
Para peneliti menyimpulkan bahwa televisi hanya “tergerak” saat bencana besar, terutama kebakaran hutan.
Isu Paling Banyak Diberitakan: Kebakaran Hutan, Titik Panas, dan Kabut Asap
Tabel temuan studi menunjukkan lima kategori isu yang paling dominan dalam pemberitaan televisi Indonesia:
Topik Paling Sering Dimuat TV (Juli 2017–Juni 2018)
- Smog – Selimut asap tebal mengganggu sekolah, permukiman, dan kualitas udara.
- Hotspot – Laporan kenaikan titik panas, pemantauan satelit, dan dampak kualitas udara.
- Forest Fires – Kebakaran hutan dan lahan yang berulang tiap tahun.
- Forests and Land Fires – Ancaman terhadap pejabat dan upaya pemadaman.
- Protected Areas – Kebakaran di kawasan hutan lindung.
- Mitigation Efforts – Penindakan pelaku pembakaran dan upaya damkar.
Para peneliti menilai bahwa liputan TV cukup baik dalam menjelaskan variasi kebakaran—mulai dari lokasi, jenis lahan yang terbakar, hingga upaya pemadaman. Namun liputan untuk isu lain seperti banjir, tanah longsor, erosi, polusi air, hilangnya biodiversitas, dan kenaikan permukaan laut hampir tidak ada.
Sumber Berita Didominasi Pemerintah: TV Jadi Corong Negara
Salah satu temuan paling penting adalah ketergantungan ekstrem televisi pada narasumber pemerintah.
Narasumber yang Paling Sering Dikutip:
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), khususnya Menteri Siti Nurbaya
- Presiden Joko Widodo
- Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, terkait kebakaran hutan yang sering terjadi di wilayahnya
Kelompok masyarakat, LSM lingkungan, akademisi, komunitas adat, dan kelompok terdampak nyaris tidak muncul dalam pemberitaan.
“Televisi Indonesia masih tampak sebagai corong pemerintah dalam mengomunikasikan isu lingkungan,” tulis para peneliti.
Akibatnya, pemberitaan menjadi kurang kritis dan tidak mencerminkan keragaman perspektif.
Isu Penting Lain Hampir Tidak Terliput
Para peneliti menyoroti bahwa meski kebakaran hutan penting, Indonesia memiliki banyak ancaman lingkungan lain seperti:
- Penurunan permukaan tanah
- Risiko kenaikan permukaan laut
- Polusi sungai
- Pencemaran industri
- Krisis biodiversitas
- Degradasi pesisir dan mangrove
Namun isu-isu tersebut tidak muncul dalam liputan TV sepanjang periode studi.
Ketiadaan isu selama musim hujan—termasuk banjir besar dan tanah longsor, yang terjadi setiap tahun—menunjukkan kegagalan televisi dalam menjalankan fungsi edukatif dan jurnalisme mitigasi bencana.
Kesimpulan Para Peneliti
Dalam ringkasannya, tim akademisi menyimpulkan:
- Televisi Indonesia kekurangan liputan lingkungan.
- Pemberitaan sangat musiman dan reaktif, hanya fokus pada kebakaran hutan.
- Sumber berita didominasi pemerintah, sehingga perspektif publik minim.
- Berita lingkungan lain yang berdampak besar bagi masyarakat tidak terangkat.
- Peran TV sebagai media edukasi publik belum optimal, harus diperbaiki untuk meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat.
Para peneliti menekankan pentingnya memperluas sumber informasi, melibatkan ilmuwan, masyarakat lokal, komunitas adat, dan LSM lingkungan dalam pemberitaan.
Penelitian ini menegaskan bahwa media televisi sebagai sumber informasi paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia harus berperan lebih aktif dan kritis dalam menyampaikan informasi lingkungan. Di tengah peningkatan ancaman perubahan iklim dan degradasi ekologis, jurnalisme lingkungan bukan hanya kebutuhan, tetapi sebuah keharusan.(*)







