Manokwari (13/2/2026) — Simposium Flora Malesiana ke-12 yang digelar di Manokwari pada 2026 tidak hanya menjadi ajang pertemuan ilmiah internasional, tetapi juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis untuk memperkuat pengembangan ilmu botani, taksonomi, dan kapasitas riset di Tanah Papua.

Tujuh rekomendasi tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Flora Malesiana, Dr. Timothy Utteridge, sehari sebelum penutupan rangkaian kegiatan Simposium Flora Malesiana, Kamis (12/2/2026) di Manokwari, Papua Barat. Tujuh rekomendasi yang disampaikan dalam bahasa inggris itu kemudian diterjemahkan oleh Dr. Abdulrokhman Kartonegoro, Associate Researcher National Research and Innovation Agency (BRIN), sebagai catatan penting yang diharapkan dapat ditindaklanjuti terutama oleh institusi lokal, mahasiswa, dan peneliti muda di Papua Barat.

Menurut Abdulrokhman, meskipun konferensi berlangsung dalam waktu relatif singkat, banyak hal krusial yang perlu segera diperkuat agar manfaat kegiatan ilmiah ini berlanjut dalam kerja nyata di lapangan.

  1. Akses terhadap spesimen dan literatur ilmiah

Rekomendasi pertama menekankan pentingnya akses yang lebih luas terhadap spesimen botani dan literatur ilmiah. Dalam kajian botani dan taksonomi, penelitian sangat bergantung pada spesimen herbarium, koleksi hidup di kebun raya, serta referensi ilmiah seperti buku dan jurnal yang sering kali sulit diperoleh di daerah.

Para kolega senior dan pakar diharapkan dapat membantu memfasilitasi akses tersebut bagi mahasiswa dan peneliti di Papua agar proses pembelajaran dan penelitian berjalan lebih optimal.

  1. Penguatan pembelajaran dari para spesialis

Simposium ini juga memperlihatkan keberadaan para ahli yang mendalami kelompok tumbuhan tertentu, seperti Begonia dan kelompok tumbuhan lainnya. Mahasiswa dan peneliti muda didorong untuk belajar langsung dari para spesialis tersebut.

Dukungan institusi pendidikan, termasuk universitas seperti Universitas Papua (Unipa), dinilai penting untuk memastikan proses pembelajaran ini berjalan berkelanjutan, tidak hanya di Papua tetapi juga di wilayah lain seperti Kalimantan dan Sulawesi.

  1. Memperluas kolaborasi lintas institusi

Kolaborasi menjadi rekomendasi yang disebut paling penting dalam forum tersebut. Kerja sama antara institusi pemerintah, non-pemerintah, sektor swasta, hingga lembaga internasional dinilai menjadi kunci percepatan pengembangan riset botani.

Sebagai contoh, kolaborasi jangka panjang antara peneliti Papua dengan Royal Botanic Gardens, Kew, disebut sebagai model kerja sama yang berhasil dan bisa menjadi inspirasi bagi generasi peneliti berikutnya.

  1. Mendorong lahirnya spesialis baru

Peserta simposium didorong tidak hanya menjadi pecinta keanekaragaman hayati secara umum, tetapi juga mengambil langkah lebih maju dengan menetapkan fokus keahlian tertentu.

Menjadi spesialis pada satu kelompok organisme dinilai penting agar penelitian dapat berkembang lebih mendalam. Upaya ini dapat ditempuh melalui pelatihan, pendidikan formal, maupun studi lanjutan di dalam dan luar negeri.

  1. Pengembangan buku panduan lapangan yang ramah pemula

Rekomendasi berikutnya adalah penyusunan buku panduan identifikasi flora yang lebih mudah dipahami. Banyak buku flora saat ini dianggap terlalu teknis bagi pemula.

Karena itu, diperlukan panduan lapangan yang sederhana dan aplikatif sehingga dapat digunakan oleh mahasiswa maupun siswa sekolah dalam mengenal dan mengidentifikasi tumbuhan.

  1. Menutup kesenjangan koleksi (collecting gap)

Kesenjangan data koleksi tumbuhan di berbagai wilayah Papua, khususnya di kawasan Kepala Burung, masih menjadi tantangan besar. Kegiatan koleksi memerlukan biaya tinggi, namun dapat diatasi melalui kolaborasi dan pencarian pendanaan dari berbagai sumber, termasuk hibah penelitian nasional maupun internasional.

Pengisian gap koleksi ini dinilai penting untuk menghasilkan dokumentasi flora yang lebih komprehensif.

  1. Penguatan kurasi herbarium

Rekomendasi terakhir menyoroti pentingnya pengelolaan dan kurasi herbarium secara profesional. Peneliti muda didorong untuk bekerja langsung di herbarium guna memahami standar ilmiah dalam pengolahan spesimen.

Kurasi yang baik diyakini akan meningkatkan kredibilitas data ilmiah dan memperkuat kepercayaan terhadap hasil riset botanikal di masa depan.

Simposium Flora Malesiana ke-12 menegaskan bahwa masa depan riset flora di Papua tidak hanya bergantung pada kekayaan alam yang luar biasa, tetapi juga pada investasi terhadap pengetahuan, kolaborasi, serta generasi baru ilmuwan lokal. Tujuh rekomendasi ini menjadi peta jalan untuk memastikan Papua tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan botani di kawasan tropis.(abe)

Admin

Related Posts

Jayapura (20/2/2026) — Dewan Gereja Papua bersama Koalisi Transformasi Masyarakat Sipil (KO MASI) menyampaikan pernyataan sikap terkait situasi terkini di Tanah Papua yang dinilai tengah menghadapi persoalan serius, mulai dari…

Papua di titik krusial; Antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat lokal Manokwari (13/2/2026) – Enam pemerintah provinsi di Tanah Papua menyepakati piagam kolaborasi untuk mempercepat pembangunan berkelanjutan. Kesepakatan ini ditandatangani dalam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Dewan Gereja Papua dan KO MASI Desak Penghentian Militerisme dan Proyek Strategis Nasional di Tanah Papua

  • By
  • Februari 20, 2026
  • 0
  • 1 views
Dewan Gereja Papua dan KO MASI Desak Penghentian Militerisme dan Proyek Strategis Nasional di Tanah Papua

Senator Lis Tabuni Mengecam Penembakan Pilot Smart Aviation

  • By
  • Februari 15, 2026
  • 0
  • 11 views
Senator Lis Tabuni Mengecam Penembakan Pilot Smart Aviation

Senator Lis Tabuni Desak Percepatan Infrastruktur dan Pemberdayaan OAP

  • By
  • Februari 15, 2026
  • 0
  • 16 views
Senator Lis Tabuni Desak Percepatan Infrastruktur dan Pemberdayaan OAP

Enam Gubernur di Tanah Papua Deklarasikan Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan

  • By
  • Februari 13, 2026
  • 0
  • 10 views
Enam Gubernur di Tanah Papua Deklarasikan Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan

Tujuh Rekomendasi Simposium Flora Malesiana ke-12: Penguatan Botani dan Taksonomi untuk Masa Depan Papua

  • By
  • Februari 13, 2026
  • 0
  • 1 views
Tujuh Rekomendasi Simposium Flora Malesiana ke-12: Penguatan Botani dan Taksonomi untuk Masa Depan Papua

Jantung Air Melanesia: Janji Konservasi dari Puncak Pegunungan Bintang

  • By
  • Februari 11, 2026
  • 0
  • 16 views
Jantung Air Melanesia: Janji Konservasi dari Puncak Pegunungan Bintang