Spei : Ganggu Pegunungan Bintang, sama dengan ganggu kehidupan manusia Papua

Manokwari (10/2/2026) – Di ketinggian yang menyentuh awan, di mana kabut pagi menyelimuti lereng-lereng hijau yang tak terjamah, Pegunungan Bintang berdiri sebagai penjaga diam-diam atas kehidupan Papua. Sungai-sungai besar lahir di sini, mengalir seperti urat nadi yang menghidupi tanah Melanesia—Digul ke selatan, Mambramo ke utara, Sepik ke timur, dan Inlanden ke barat daya. “Ganggu Pegunungan Bintang, sama dengan ganggu kehidupan manusia Papua,” kata Bupati Spei Yan Bidana, ST, M.Si, di Manokwari,Selasa(10/2/2026)

Sehari sebelumnya, di Kantor Gubernur Papua Barat, sebuah perjanjian kerjasama (MOU) ditandatangani, menyatukan visi pembangunan berkelanjutan antara Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Pegunungan Bintang. Gubernur Drs. Dominggus Mandacan, M.Si, dan Bupati Bidana menekan pena, seolah menandai babak baru bagi alam yang rapuh ini.

Bayangkan: Puncak Mandala, yang oleh penduduk setempat disebut Ablimabom, menjulang hingga 4.870 meter, sebuah monumen alam yang menyimpan rahasia biodiversitas. Kanguru pohon melompat di antara dedaunan endemik, buah merah berwarna kuning-hijau menyimpan khasiat obat yang lebih kaya dari legenda lokal, dan tanaman obat yang belum terjamah menunggu peneliti. Ini bukan sekadar kabupaten; ini adalah “mama air Papua,” pusat hidrologi yang mengendalikan alur sungai-sungai utama.

Bupati Spei Yan Bidana, ST, M.Si, ketika diwawancarai di Manokwari,Selasa(10/2/2026).

Seperti yang dijelaskan Bidana dalam wawancaranya baru-baru ini, “Sungai Digul, pusatnya di Pegunungan Bintang yang ke selatan sampai Mapi. Sungai Mambramo ke utara bermuara di Waropen.” Ekologi di sini adalah jalinan rumit, dari upland ke lowland, di mana kerusakan satu titik bisa memicu banjir atau kekeringan di ribuan kilometer jauhnya.

MOU ini lahir dari urgensi itu. Papua Barat, yang telah memiliki Perda tentang provinsi konservasi, kini menjadi mentor bagi Pegunungan Bintang. “Kami mau Pemda Papua Barat membantu kami menyusun konsep pembangunan berkelanjutan,” ujar Bidana, matanya menyirat tekad seorang pemimpin yang melihat masa depan.

Kerjasama ini mencakup penelitian biodiversitas, pengelolaan watershed, dan pemberdayaan masyarakat. Universitas seperti UNIPA (Universitas Papua), UNCEN (Universitas Cenderawasih), dan bahkan UI (Universitas Indonesia) diundang turun tangan, dibantu Universitas Okmin di Pegunungan Bintang, NGO seperti WWF dan Econusa. Tujuannya? Mengubah kekayaan alam menjadi kesejahteraan rakyat tanpa merusaknya—kopi organik, obat herbal dari tanaman endemik, hingga pariwisata berbasis konservasi.

Bidana, yang baru saja memaparkan visinya di Simposium Flora dan Fauna di Manokwari pada 10 Februari 2026, menekankan dimensi budaya. Pegunungan Bintang bukan hanya pusat ekologi, tapi juga jantung kebudayaan Melanesia. Kajian antropologi oleh Dr. Feon mengungkap wilayah kebudayaan Og, Meg, dan Min—sistem bahasa dan religi yang menyebar dari Sorong hingga Samarai. “Kita mau reposisi, bukan wilayah adat semata, tapi wilayah kebudayaan yang mencakup alam, manusia, dan religi,” katanya. Ini sejalan dengan inisiatif WWF yang membentuk PACE (Papua Action for Conservation and Environment), yang disebut Bidana sebagai “sangat tepat demi jaga pembangunan berkelanjutan di Pegubin dan Tanah Papua.”

Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, M.Si dan Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST,M.Si saat memperlihatkan naskah perjanjian kerjasama, di Kantor Gubernur Papua Barat, Senin(9/2/2026)

Di balik pena yang ditandatangani, ada cerita yang lebih dalam. Kunjungan Pemda Pegunungan Bintang ke Papua Barat pada Juli 2025 lalu telah membuka mata atas praktik Perda pembangunan berkelanjutan. Kini, dengan MOU ini, harapan bergulir: kajian etnografi dan spasial selesai tahun ini, diikuti Perda baru pada 2027. “Kita berharap besok lusa bisa PKS supaya di tahun depan,” tambah Bidana. Intervensi akademik dari UNIPA dan BRIDA (Badan Riset dan Inovasi Daerah) akan mendorong riset yang menghasilkan produk unggulan—kapsul dari tanaman obat, misalnya—sambil melestarikan biodiversitas.

Namun, pesan Bidana adalah seruan bagi semua: akademisi, peneliti, pemerhati, bahkan negara. “Papua utuh ini harus dijadikan provinsi undang-undang tentang provinsi konservasi,” katanya, suaranya seperti angin gunung yang membawa peringatan. Merusak Pegunungan Bintang berarti mengganggu generasi mendatang. Di tengah ancaman perubahan iklim, strategi “ridge to reef” Papua Barat—dari pegunungan ke terumbu karang—menjadi model. Ini bukan sekadar perjanjian; ini adalah puisi alam yang ditulis ulang, di mana manusia belajar hidup selaras dengan bumi.

Seperti ayat suci yang tertulis di tanah Papua, kata Bidana, “Harus kita jaga.” Dan dengan MOU ini, janji itu mulai terwujud—sebuah cerita konservasi yang tak hanya menyelamatkan air, tapi juga jiwa Melanesia.(*)

Related Posts

Tudepoint, Manokwari(13/8/2026) — Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengajak para tokoh agama, masyarakat adat, pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, perempuan, pemuda, dan media memperkuat kolaborasi untuk menjaga hutan…

Tudepoint, Manokwari(11/8/2026)  — Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si., FLS., mengingatkan pentingnya memastikan seluruh persiapan peluncuran Interfaith Rainforest Initiative…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HAM DAN KEAMANAN

Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

  • Juli 4, 2026
  • 42 views
Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

  • Juli 4, 2026
  • 47 views
PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

  • Juli 3, 2026
  • 39 views
Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

  • Mei 15, 2026
  • 94 views
Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

  • Mei 13, 2026
  • 59 views
Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua

  • Mei 13, 2026
  • 122 views
Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua