
Jayapura, Tudepoint(25/9/2026) — Puluhan jurnalis di Kota dan Kabupaten Jayapura menggelar doa bersama dan menyalakan 1.000 lilin sebagai bentuk solidaritas bagi lima jurnalis yang hingga kini belum ditemukan setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Aksi solidaritas berlangsung di Taman Imbi, Kota Jayapura, Papua, Jumat (25/9/2026). Jurnalis dari berbagai media berkumpul dan menyalakan lilin sembari memanjatkan doa bagi rekan-rekan mereka yang hilang saat menjalankan tugas jurnalistik.
Wakil Wali Kota Jayapura Rustan Saru yang hadir dalam kegiatan itu berharap doa bersama tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk mendukung pencarian lima jurnalis.

Ia berharap, apabila kelima jurnalis masih selamat, mereka dapat segera ditemukan dan dipertemukan kembali dengan keluarga. Namun, apabila telah meninggal dunia, ia berharap keberadaan mereka segera ditemukan sehingga keluarga memperoleh kepastian.
“Kita berharap rekan-rekan kita, jurnalis yang meliput erupsi Gunung Krakatau, bisa segera ditemukan. Tuhan, Allah Yang Maha Esa, memberi ketabahan dan keikhlasan bagi keluarga rekan-rekan kita,” kata Rustan.
Ketua Panitia Aksi Solidaritas, Aman Hasibuan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian insan pers di Papua terhadap lima rekan mereka yang hilang ketika menjalankan tugas jurnalistik.
Menurut Hasibuan, para jurnalis berkumpul bukan hanya untuk menyalakan lilin, tetapi juga menyampaikan harapan agar pencarian terhadap lima wartawan tersebut menemukan titik terang.
“Hari ini kita berkumpul di Taman Imbi, Kota Jayapura, untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya lima teman-teman kita segera ditemukan,” ujar Hasibuan.
Hilang Saat Meliput Anak Krakatau
Lima jurnalis tersebut sebelumnya berada dalam satu rombongan bersama tiga awak kapal untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Kapal yang mereka tumpangi berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 7 September 2026. Dalam perjalanan, kapal tersebut kemudian dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Tim SAR gabungan melakukan operasi pencarian selama 10 hari sebelum operasi resmi dihentikan pada 17 September 2026. Hingga kini, lima jurnalis tersebut belum ditemukan.
Kelima jurnalis itu adalah M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto Kantor Berita ANTARA; Ari Basuki, pewarta foto Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, pewarta foto iNews; Firman Daus, jurnalis Anadolu Agency; dan Donal Husni, jurnalis lepas.
Identitas kelima jurnalis tersebut juga telah dikonfirmasi Kementerian Komunikasi dan Digital dalam keterangannya terkait hilangnya rombongan jurnalis di Selat Sunda.
Selain lima jurnalis, kapal tersebut membawa tiga awak, yakni Warta sebagai kapten, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto sebagai pemandu.
Dalam proses pencarian, jenazah Surakman ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu. Identitasnya kemudian dipastikan melalui pemeriksaan DNA.
Pengingat Penting Keselamatan Jurnalis

Perwakilan jurnalis, Odeodata H. Julia, mengatakan aksi menyalakan 1.000 lilin merupakan bentuk solidaritas spontan wartawan di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura terhadap lima rekan mereka.
Menurut dia, persiapan kegiatan hanya berlangsung sekitar tiga hari. Namun, respons insan pers cukup besar. Puluhan jurnalis hadir bersama perwakilan Pemerintah Kota Jayapura, Polresta Jayapura Kota, dan Kejaksaan Tinggi Papua.
Bagi Odeodata, peristiwa hilangnya lima jurnalis tersebut sekaligus menjadi pengingat penting mengenai keselamatan wartawan ketika melakukan peliputan, terutama di wilayah dengan risiko tinggi.
Ia mengatakan wartawan perlu mempersiapkan diri sebelum memasuki daerah rawan, memahami kondisi lapangan, membaca perubahan situasi, serta mempertimbangkan risiko yang mungkin dihadapi.
Ketika situasi dinilai membahayakan, menurutnya, wartawan tidak seharusnya memaksakan diri hanya demi mendapatkan berita.
“Tidak ada harga sebuah nyawa, tidak ada harga sebuah nilai berita,” tegas Odeodata.
Ia berharap tragedi yang menimpa rombongan jurnalis di Selat Sunda menjadi pelajaran bersama bagi insan pers, termasuk jurnalis di Papua, untuk menempatkan keselamatan sebagai prioritas dalam setiap peliputan.
Di Taman Imbi malam itu, nyala 1.000 lilin menjadi simbol solidaritas sekaligus harapan. Dari Jayapura, para jurnalis mengirimkan doa kepada lima rekan seprofesi yang belum kembali—serta kepada keluarga yang masih menunggu kepastian.*
(Siaran Pers)






