
Manokwari, Tudepoint(03/11/2026) – Universitas Papua (UNIPA) terus memperkuat perannya sebagai salah satu pusat pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, dan inovasi di Tanah Papua. Memasuki usia ke-26 tahun, perguruan tinggi negeri yang berkedudukan di Manokwari, Papua Barat, itu telah menghasilkan 16.445 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan.
Capaian tersebut disampaikan Rektor Universitas Papua, Hugo Warami, dalam pidatonya pada Rapat Terbuka Senat UNIPA dalam rangka Dies Natalis ke-26, Selasa (3/11/2026), di Aula UNIPA Manokwari.
Mengusung tema “UNIPA Bersinergi dalam Inovasi Menuju Peradaban Unggul untuk Kemandirian Negeri”, peringatan tahun ini menjadi momentum bagi universitas untuk mengevaluasi perjalanan kelembagaan sekaligus memperkuat komitmennya membangun pendidikan tinggi yang bermutu, bermartabat, dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam pidatonya, Warami menegaskan bahwa perjalanan UNIPA tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang pendidikan tinggi di Tanah Papua, khususnya upaya menghadirkan kesempatan pendidikan bagi masyarakat Papua.
Hingga pelaksanaan wisuda periode ketiga tahun 2026, UNIPA telah menghasilkan 16.445 lulusan. Jumlah tersebut mencakup 33 lulusan program doktor, 732 magister, 10.123 sarjana, 3.748 lulusan program S0, 101 lulusan profesi dokter, dan 1.707 lulusan Pendidikan Profesi Guru.
Menurut Warami, ribuan lulusan tersebut merupakan bagian dari kontribusi UNIPA dalam menyiapkan generasi terdidik yang diharapkan mampu mengambil peran dalam pembangunan daerah maupun nasional.
Dengan modal sumber daya manusia tersebut, UNIPA bertekad terus mengembangkan keunggulannya sebagai perguruan tinggi yang berakar pada karakteristik dan potensi Tanah Papua.
Jumlah guru besar bertambah, akreditasi unggul diperkuat

Memasuki usia ke-26, UNIPA juga mencatat sejumlah perkembangan dalam penguatan kapasitas akademik.
Salah satunya adalah bertambahnya jumlah guru besar menjadi 29 orang, setelah disetujuinya kenaikan jabatan akademik Prof. Dr. Jean Mumu, S.Pd., M.Sc., dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Peningkatan jumlah guru besar tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Selain penguatan tenaga akademik, UNIPA terus mendorong peningkatan akreditasi program studi.
Pada awal 2026, Program Studi Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya berhasil memperoleh akreditasi Unggul. Dengan pencapaian tersebut, UNIPA kini memiliki tiga program studi berakreditasi Unggul.
Sebanyak 24 program studi lainnya sedang dipersiapkan untuk meningkatkan status akreditasinya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi universitas untuk meningkatkan akreditasi institusi dari predikat Baik Sekali menjadi Unggul.
Buka program studi baru, termasuk persiapan pendidikan dokter gigi
UNIPA juga memperluas akses pendidikan tinggi melalui pembukaan program studi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia.
Sepanjang 2026, universitas tersebut menambah dua program studi, yakni Sarjana Akuakultur pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Magister Perencanaan Wilayah pada Program Pascasarjana.
Dua program studi lainnya, yaitu Sarjana Pariwisata dan Magister Manajemen Pendidikan, masih menjalani proses pengusulan.
Sementara itu, Senat UNIPA telah memberikan pertimbangan dan rekomendasi bagi pembukaan lima program studi baru, yakni Magister Manajemen, Sarjana Arsitektur, Sarjana Teknik Lingkungan, Sarjana Sistem Informasi, serta Sarjana Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Rekreasi.
Pengembangan bidang pendidikan kesehatan juga mendapat perhatian.
Warami mengungkapkan, UNIPA telah menerima mandat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk membuka Program Studi Pendidikan Dokter Gigi melalui surat tertanggal 29 Agustus dan 2 Oktober 2026.
Mandat tersebut menjadi langkah awal yang penting bagi pengembangan pendidikan kedokteran gigi di UNIPA.
Mahasiswa baru mencapai 3.016 orang
Minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di UNIPA juga menunjukkan perkembangan positif.
Dalam laporannya, Warami menyebut jumlah penerimaan mahasiswa baru pada 2026 mencapai 3.016 orang, atau meningkat hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Mahasiswa tersebut diterima melalui berbagai jalur, antara lain Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) sebanyak 501 orang, Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 289 orang, jalur SESAMA UNIPA 707 orang, dan jalur Lokal Mandiri UNIPA sebanyak 1.075 orang.
Penerimaan juga berlangsung melalui jalur mandiri Fakultas Kedokteran bagi Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP, program pascasarjana, Pendidikan Profesi Guru, Rekognisi Pembelajaran Lampau, serta sejumlah jalur lainnya.
Menurut Warami, jumlah mahasiswa baru tersebut masih berpotensi bertambah karena beberapa proses penerimaan dan program kerja sama pendidikan dengan pemerintah daerah belum sepenuhnya selesai.
Peningkatan jumlah mahasiswa baru menjadi tantangan tersendiri bagi UNIPA untuk memastikan pertumbuhan akses pendidikan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas layanan akademik, tenaga pengajar, dan fasilitas pendukung.
UNIPA Press diaktifkan kembali, 13 buku terbit sepanjang 2026
Selain memperkuat pendidikan formal, UNIPA mulai menempatkan penerbitan karya ilmiah sebagai salah satu instrumen penting dalam pengembangan universitas berbasis riset.
Sejak 2025, UNIPA kembali mengaktifkan UNIPA Press sebagai lembaga penerbitan akademik.
Dalam periode Januari hingga Oktober 2026, UNIPA Press berhasil menerbitkan 13 judul buku yang mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari lingkungan, perikanan, peternakan, pendidikan, hingga metodologi penelitian.
Dalam pidatonya, Warami menggambarkan UNIPA Press bukan sekadar unit penerbitan di lingkungan kampus, melainkan lembaga yang memiliki tanggung jawab dalam pengembangan literasi dan pelestarian kebudayaan.
Keberadaan penerbit universitas itu diharapkan mampu menjembatani hasil penelitian akademisi dengan kebutuhan masyarakat Papua dan komunitas ilmiah yang lebih luas.
Penguatan UNIPA Press sekaligus menjadi bagian dari agenda transformasi UNIPA menuju Research University 2035 atau universitas berbasis riset pada 2035.
Catat 793 sertifikat kekayaan intelektual
Perkembangan penelitian dan inovasi UNIPA juga tercermin dari capaian perlindungan kekayaan intelektual.
Sepanjang 2005–2026, UNIPA mencatat sekitar 793 sertifikat hak kekayaan intelektual, 13 paten, dan 16 paten sederhana yang terdaftar pada instansi pemerintah terkait.
Sebagian besar karya yang memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual berupa buku, karya ilmiah, modul pembelajaran, perangkat lunak, serta produk akademik lainnya.
Capaian tersebut menunjukkan aktivitas penelitian dan pengembangan inovasi yang berlangsung di lingkungan universitas.
Bagi UNIPA, pengembangan paten dan kekayaan intelektual tidak hanya berkaitan dengan pengakuan terhadap hasil karya akademisi, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk memberikan nilai tambah bagi sumber daya alam Papua.
Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil penelitian dan inovasi tersebut dapat diterapkan secara nyata, baik untuk mendukung pengembangan ekonomi masyarakat, pengelolaan lingkungan, maupun penyelesaian berbagai persoalan pembangunan di Tanah Papua.
Berakar dari sejarah panjang pendidikan tinggi di Papua
Dalam pidatonya, Warami juga mengajak sivitas akademika menengok kembali sejarah panjang berdirinya UNIPA.
Perjalanan universitas tersebut memiliki hubungan erat dengan perkembangan lembaga penelitian dan pendidikan pertanian di Manokwari sejak awal 1960-an.
Salah satu tonggak sejarahnya adalah berdirinya Agrarische Proefstation Manokwari pada 16 Maret 1961, yang kemudian mengalami berbagai perubahan kelembagaan.
Perkembangan pendidikan tinggi di Papua juga ditandai dengan berdirinya Universitas Cenderawasih pada 1962.
Pada 1964, Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Universitas Cenderawasih mulai menyelenggarakan perkuliahan di Manokwari.
Lembaga tersebut kemudian mengalami sejumlah perubahan sebelum berkembang menjadi Universitas Negeri Papua berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 2000, tertanggal 3 November 2000.
UNIPA selanjutnya diresmikan pada 28 Juli 2001.
Sejak 2014, universitas tersebut menggunakan nama Universitas Papua.
Warami mengingatkan bahwa sejarah panjang tersebut menunjukkan keberadaan UNIPA sebagai bagian dari perjuangan menghadirkan pendidikan tinggi yang dapat meningkatkan kemampuan, martabat, dan kemandirian masyarakat Papua.
Peringatan Dies Natalis ke-26 juga bertepatan dengan momentum peringatan 101 tahun peradaban pendidikan bagi Orang Papua, yang diperingati pada 25 Oktober 2026.
Menurutnya, semangat pendidikan harus terus diarahkan untuk membangun kemampuan masyarakat Papua dalam menentukan dan memimpin masa depannya sendiri.
Perkuat kerja sama pembangunan di Tanah Papua
Dalam mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, UNIPA juga memperluas kemitraan dengan pemerintah daerah.
Warami menyebut sejumlah mitra strategis UNIPA, termasuk Pemerintah Provinsi Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Tengah.
Kerja sama juga terjalin dengan berbagai pemerintah kabupaten, antara lain Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Teluk Wondama, Kaimana, Sorong, Sorong Selatan, Maybrat, Tambrauw, Raja Ampat, Paniai, Mimika, Tolikara, Jayawijaya, dan Keerom.
Kemitraan tersebut menjadi salah satu landasan bagi UNIPA untuk memperluas kontribusi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan berbagai potensi sumber daya alam dan tantangan pembangunan di Tanah Papua, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menghasilkan kajian ilmiah dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan daerah.
Menuju universitas yang mandiri dan unggul

Memasuki periode kepemimpinan 2024–2028, UNIPA mengusung visi pengembangan ekosistem tridarma perguruan tinggi yang berkualitas, dengan orientasi penguatan sumber daya manusia melalui nilai KASIHMU.
Nilai tersebut mencakup Kuat, Adab, Sinergis, Harmonis, Integritas, Mandiri, dan Unggul, dengan tetap menjunjung tinggi kemanusiaan.
Warami menekankan pentingnya membangun universitas sebagai ruang bersama yang mampu merawat keberagaman, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menjaga hubungan harmonis antara pendidikan, masyarakat, dan kebudayaan Papua.
Menutup pidatonya, ia mengibaratkan UNIPA sebagai sebuah perahu besar yang harus terus bergerak menghadapi berbagai perubahan.
“Jika kita mengatakan bahwa UNIPA ibarat sebuah perahu besar, maka kita tidak akan bisa mengendalikan angin saat berlayar, tapi kita bisa menyesuaikan layarnya sambil mendayung,” kata Warami.
Ia juga menggambarkan UNIPA sebagai rumah besar Honai/Rum Sram, tempat ilmu pengetahuan, keberagaman, dan nilai-nilai kemanusiaan tumbuh bersama.
Pada usia ke-26 tahun, UNIPA menghadapi tantangan untuk memastikan kemajuan kelembagaan, pertumbuhan jumlah mahasiswa, peningkatan kualitas akademik, dan produktivitas penelitian benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan fondasi sejarah pendidikan yang panjang dan agenda transformasi menuju universitas riset pada 2035, UNIPA memiliki peluang memperkuat perannya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi yang berpijak pada kebutuhan serta masa depan Tanah Papua. (*)
(abe)






