
MANOKWARI, Tudepoint.com(02/11/2026) — Kepala BAPPEDA Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun,S.Hut, M.Si,FLS, mendorong Universitas Papua (UNIPA) mengambil peran lebih besar sebagai pusat riset biodiversitas sekaligus penggerak pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.
Pandangan tersebut disampaikannya dalam kegiatan Sharing Session bersama para profesor di lingkungan UNIPA, di Aula UNIPA, Senin (2/11/2026). Menurut Charlie, kekayaan hayati Papua perlu menjadi fondasi pembangunan yang menyejahterakan masyarakat serta menjaga identitas ekologis dan budaya.
“Papua tidak boleh hanya dikenal sebagai wilayah yang kaya keanekaragaman hayati, tetapi harus dikenal sebagai wilayah yang mampu mengubah kekayaan biodiversitas menjadi kesejahteraan masyarakat tanpa kehilangan identitas ekologis dan budayanya,” tegasnya.
Ia menilai, kekayaan flora dan fauna Papua tidak cukup hanya menjadi kebanggaan atau objek penelitian. Pengetahuan yang dihasilkan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama masyarakat adat sebagai pemilik wilayah dan penjaga pengetahuan lokal.
Dalam kesempatan itu, Charlie mengemukakan lima agenda strategis yang perlu didorong untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masa depan Papua.

Agenda pertama adalah menjadikan Papua sebagai pusat keunggulan riset biodiversitas tropika dunia. UNIPA diharapkan memperkuat penelitian keanekaragaman hayati New Guinea, mencakup taksonomi, sistematika, ekologi, genetika, biogeografi, dan perubahan iklim.
Upaya tersebut membutuhkan dukungan koleksi herbarium, kebun raya, laboratorium, basis data biodiversitas, serta jejaring kolaborasi nasional dan internasional.
“Kita tidak boleh hanya menjadi lokasi pengambilan sampel penelitian, tetapi harus menjadi pusat lahirnya pengetahuan dan inovasi,” ujarnya.
Agenda kedua adalah menghubungkan konservasi dengan kesejahteraan masyarakat. Menurut Charlie, konservasi perlu ditempatkan sebagai fondasi pembangunan karena hutan, tumbuhan, satwa liar, mangrove, dan ekosistem pesisir memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, serta ekonomi.
Ia menyebut pengembangan hasil hutan bukan kayu, bioprospeksi yang bertanggung jawab, ekowisata, dan solusi berbasis alam atau Nature-based Solutions sebagai sejumlah pendekatan yang dapat didorong.
Agenda ketiga menyangkut penguatan kebijakan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Charlie menekankan perlunya menjadikan hasil penelitian perguruan tinggi sebagai dasar perencanaan pembangunan daerah.
Untuk itu, kemitraan UNIPA dengan pemerintah daerah, BRIDA, BAPPEDA, dunia usaha, lembaga konservasi, dan masyarakat adat perlu diperkuat. Ia juga menyoroti kebutuhan sistem data biodiversitas terintegrasi untuk mendukung perencanaan tata ruang, perlindungan kawasan penting, pengendalian pembangunan, serta mitigasi perubahan iklim.
Agenda keempat adalah memperkuat kepemimpinan akademik dan regenerasi ilmuwan Papua. Generasi baru peneliti, menurutnya, harus memiliki kompetensi global sekaligus tetap berakar pada kebutuhan dan kearifan lokal.
Para profesor memiliki peran penting sebagai mentor, pembuka jejaring internasional, serta penggerak kelompok riset lintas disiplin. Dosen muda dan mahasiswa juga perlu memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam penelitian berkualitas.
Adapun agenda kelima adalah menjadikan UNIPA sebagai penggerak transformasi pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Charlie membayangkan adanya pusat unggulan riset yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi digital, pengetahuan masyarakat adat, dan inovasi kebijakan.
Pusat tersebut diharapkan menjadi simpul kolaborasi yang mampu menghasilkan solusi bagi kebutuhan masyarakat sekaligus berkontribusi terhadap persoalan lingkungan global.
Ia menegaskan, pengelolaan kekayaan hayati harus bergerak dari sekadar mengenali biodiversitas menuju upaya memahami, melindungi, memulihkan, dan memanfaatkannya secara berkelanjutan.
“Mari kita jadikan kepakaran para Guru Besar bukan hanya sebagai pencapaian akademik individual, tetapi sebagai kekuatan kolektif untuk membangun masa depan Papua yang lestari, sejahtera, berkeadilan, dan diakui dunia,” katanya.*
(abe)






