Bustar Maitar: Ekonomi Berbasis Alam Papua Bisa Melampaui Industri Ekstraktif

Manokwari(10/2/2026) — Rektor Universitas Okmin Papua, Dr. Yohanes Kore, OFM, menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan yang berangkat dari proses akar rumput dalam upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi Plenary Session 1 – Nature-Based Climate Solutions: Concepts & Practices pada Konferensi Internasional Nature-Based Climate Solutions di Manokwari, Senin (9/2/ 2026).

Dr. Yohanes Kore, OFM,

Dalam forum ilmiah internasional tersebut, Yohanes Kore mengaku tertarik dengan pendekatan yang dijalankan oleh EcoNusa Foundation. Menurutnya, program yang menekankan proses bertahap dari potensi lokal sangat relevan dengan konteks sosial masyarakat Papua.

“Program seperti ini sangat tepat untuk Papua karena sekaligus mendidik masyarakat. Di beberapa tempat, masyarakat mudah tergoda dana besar dari perusahaan yang menjanjikan eksploitasi hutan. Tetapi ketika diajak berproses dari hal-hal kecil, dari kekuatan mereka sendiri, itu justru terasa lebih sulit,” ujar Yohanes.

Ia menilai tantangan utama bukan pada ketiadaan potensi, melainkan pada bagaimana membangun kesadaran dan kesabaran untuk menumbuhkan usaha berbasis lokal secara berkelanjutan. Karena itu, ia berharap pengalaman pendampingan yang dilakukan EcoNusa dapat dibagikan lebih luas agar bisa direplikasi di wilayah lain, termasuk di lingkungan akademik dan komunitas yang ia pimpin.

Pendampingan dan Kepercayaan Diri Masyarakat

Bustar Maitar

Menanggapi hal tersebut, Bustar Maitar, CEO EcoNusa Foundation, menekankan bahwa kunci utama keberhasilan program berbasis alam terletak pada pendampingan yang konsisten dan menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan.

Menurut Bustar, anggapan bahwa masyarakat adat telah “terkontaminasi” kepentingan luar sering kali tidak sepenuhnya benar. “Kalau kita duduk bersama masyarakat, masih banyak yang punya kemauan kuat untuk mengelola apa yang mereka miliki dengan lebih baik. Masalahnya sering kali adalah kurangnya rasa percaya diri,” ujarnya.

Ia mencontohkan pendampingan masyarakat di Sorong Selatan. Pada awalnya, membentuk koperasi saja terasa berat karena minimnya kepercayaan diri. Namun setelah tiga tahun berjalan, koperasi tersebut mampu menjual rata-rata satu ton udang per bulan langsung ke pembeli tanpa melalui perantara. Hal serupa terjadi pada komoditas kopra dari Kaimana yang kini bisa dikirim langsung ke Surabaya dengan harga pabrik, serta inisiatif serupa di Jayapura dan Sarmi.

“Pendampingan harus disertai contoh-contoh konkret. Di Papua, kalau satu atau dua komunitas sudah berhasil, itu sangat mudah direplikasi ke tempat lain,” kata Bustar.

Lebih Menguntungkan dari Industri Ekstraktif

Bustar juga menegaskan pentingnya menggeser paradigma pembangunan dari industri ekstraktif ke ekonomi berbasis restorasi alam. Ia mengungkapkan bahwa studi terbaru EcoNusa tentang ekonomi biorestoratif menunjukkan potensi pendapatan yang bahkan bisa melampaui industri ekstraktif jika dikelola dengan baik.

Tantangan lain yang disoroti adalah ketiadaan pusat pengolahan komoditas di Tanah Papua. Selama ini, banyak produk harus dikirim ke luar daerah—bahkan hingga Surabaya—untuk diolah sebelum dipasarkan. “Ini yang harus kita pikirkan bersama, bagaimana pemerintah daerah dan mitra industri membangun pusat pengolahan di Papua, supaya kita tidak terus-menerus hanya menjadi wilayah ekstraksi,” ujarnya.

Diskusi dalam sesi plenary tersebut menegaskan bahwa solusi iklim berbasis alam bukan semata soal konservasi, tetapi juga tentang membangun kemandirian ekonomi, kepercayaan diri masyarakat adat, serta keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam. Bagi para peserta simposium, pengalaman-pengalaman konkret ini menjadi pengingat bahwa masa depan Papua dapat dibangun dari kekuatan lokal yang dirawat, ditemani, dan dikembangkan secara berkelanjutan.(abe)

 

Admin

Related Posts

Tim Kolaborasi Film Pesta Babi Minta Publik Tidak Menghakimi Mama Yasinta

Jayapura(30/5/2026) – Tim kolaborasi film dokumenter Pesta Babi menyatakan penghormatan terhadap sikap yang saat ini diambil Mama Yasinta, tokoh perempuan adat Malind yang selama ini dikenal memperjuangkan hak-hak dirinya dan…

Forum Dialog Dorong Percepatan Pembangunan Terintegrasi di Tanah Papua

Jakarta(26/5/2026) – Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan mitra pembangunan menggelar Forum Dialog Kemitraan Percepatan Pembangunan Tanah Papua di Novotel Jakarta Cikini, Selasa (26/5/2026). Forum tersebut menjadi ruang koordinasi dan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Tiket Sukarela Penonton Pesta Babi Rp 517, 3 Juta Sudah Disalurkan kepada Pengungsi

  • By
  • Juli 6, 2026
  • 0
  • 10 views
Tiket Sukarela Penonton Pesta Babi Rp 517, 3 Juta Sudah Disalurkan kepada Pengungsi

Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

  • By
  • Juli 4, 2026
  • 0
  • 9 views
Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

  • By
  • Juli 4, 2026
  • 0
  • 9 views
PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

  • By
  • Juli 3, 2026
  • 0
  • 9 views
Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

Penutupan Piala Presiden U-10 dan U-12 Zona Papua Barat Tahun 2026

  • By
  • Juni 30, 2026
  • 0
  • 18 views
Penutupan Piala Presiden U-10 dan U-12 Zona Papua Barat Tahun 2026

Tim Kolaborasi Film Pesta Babi Minta Publik Tidak Menghakimi Mama Yasinta

  • By
  • Mei 30, 2026
  • 0
  • 25 views
Tim Kolaborasi Film Pesta Babi Minta Publik Tidak Menghakimi Mama Yasinta