
Manokwari, Tudepoint(26/9/2026) — Papua bukan hanya wilayah dengan kekayaan hayati dan budaya yang tinggi. Dari perspektif genetika, Papua menyimpan bagian penting dari sejarah perjalanan manusia di Nusantara, bahkan dapat membantu menjelaskan dinamika migrasi manusia antara Asia, Wallacea, dan Sahul sejak puluhan ribu tahun lalu.
Hal itu tergambar dalam materi kuliah umum Prof. dr. Herawati Sudoyo, Ph.D., dari Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI), bertajuk “Cerita DNA Nusantara: Keragaman Genetika dalam Bingkai Indonesia, pada kuliah tamu yang berlangsung di Gedung Pasca Sarjana UNIPA, Kamis(17/9/2026).
Dalam paparannya, Herawati menempatkan Indonesia sebagai sebuah “teater” dinamika migrasi dan perkembangan manusia. Indonesia tidak hanya memiliki keanekaragaman hayati, budaya, dan bahasa, tetapi juga dipengaruhi beberapa gelombang migrasi manusia. Materi tersebut menyebut adanya jejak manusia modern sekitar 67 ribu tahun lalu serta jejak introgresi Denisovan pada populasi Indonesia timur dan Neanderthal pada populasi Indonesia barat.
Papua penting dalam sejarah manusia
Posisi Papua menjadi penting karena struktur populasinya dinilai sangat tua dan kompleks. Papua juga memiliki keragaman bahasa yang sangat tinggi, sementara data genetik dari banyak wilayahnya masih terbatas dan belum banyak dikaji.
Kondisi itu menjadikan Papua penting bagi pengembangan pengetahuan global mengenai sejarah migrasi manusia.
Riset yang dipaparkan Herawati dan tim telah menjangkau lebih dari 100 komunitas di Indonesia dengan lebih dari 5.000 sampel. Sekitar 3.000 di antaranya berupa data Whole Genome Sequences dan lebih dari 500 data genome-wide. Kajian tersebut membentang dari Sumatra hingga Papua dan menggabungkan informasi genetika, bahasa, budaya, serta informasi klinis.
Pendekatan multidisiplin itu penting karena genetika tidak berdiri sendiri. Bahasa dan kebudayaan juga dapat menjadi petunjuk untuk memahami sejarah populasi manusia.
Herawati menunjukkan bahwa sebagian besar populasi Nusantara menggunakan bahasa Austronesia, sementara di wilayah timur terdapat pula bahasa non-Austronesia atau Australomelanesia.
Indonesia persimpangan Asia, Oceania dan Sahul
Dalam rekonstruksi migrasi manusia, Indonesia digambarkan sebagai jalur persimpangan Asia–Oceania–Sahul. Materi kuliah umum membagi perjalanan itu dalam beberapa fase.
Fase pertama merupakan migrasi awal manusia modern dari Asia menuju Sahul. Fase berikutnya ditandai ledakan populasi di Papua serta kemungkinan migrasi balik dari Sahul menuju Wallacea. Kemudian berlangsung migrasi dari daratan Asia menuju kawasan kepulauan Asia Tenggara, disusul ekspansi Austronesia dari Taiwan yang membawa teknologi pelayaran jarak jauh, pertanian, budaya material baru, serta bahasa Austronesia.
Salah satu temuan menarik yang dipaparkan adalah pengaruh genetik Papua terhadap populasi di Indonesia timur.
Populasi Wallacea yang sebagian besar berbahasa Austronesia ternyata juga memiliki komponen genetik Papua. Berdasarkan penelitian timnya, data DNA mitokondria menunjukkan adanya ledakan populasi sekitar 16.000 tahun lalu di Papua. Analisis genetik autosomal juga mengindikasikan migrasi balik dari Papua menuju Wallacea sekitar 3.500 tahun lalu, yang kemudian berkaitan dengan dinamika populasi Austronesia.
Temuan itu membawa perhatian khusus pada kawasan Kepala Burung Papua. Dalam materi tersebut, kawasan Kepala Burung diduga berperan sebagai salah satu sumber komponen genetik Papua pada populasi Indonesia timur.
Pegunungan Arfak menjadi lokasi penting penelitian
Salah satu rencana studi yang dipaparkan secara khusus menyasar Pegunungan Arfak dan Kabupaten Manokwari.
Penelitian itu diarahkan untuk memahami distribusi variasi genetik di wilayah interior Papua sekaligus mengevaluasi hubungan antara komposisi genetik dengan penggunaan bahasa dalam populasi lokal.
Target penelitian mencakup kelompok penutur bahasa Papua seperti Meyah, Hatam, Manikion, Moskona dan kelompok lainnya, serta penutur bahasa Austronesia seperti Wandamen dan Tanahmerah di Kabupaten Manokwari dan sekitarnya.
Kajian tersebut menjadi menarik karena wilayah Kepala Burung sendiri mempunyai lanskap bahasa yang sangat beragam. Materi Herawati mengelompokkan bahasa di kawasan itu antara lain ke dalam kelompok Papua Barat (West Papuan), Kepala Burung, Trans-New Guinea, dan Austronesia.
Presentasi bahkan memperlihatkan perbandingan visual antara Rumah Kaki Seribu di Kampung Udohotma, Pegunungan Arfak, dengan rumah tinggi masyarakat Paiwan di Taiwan Selatan. Perbandingan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai budaya sebagai salah satu marka untuk membaca perjalanan dan hubungan antarpopulasi.
Fakfak dan jejak migrasi ke Indonesia Timur
Selain Pegunungan Arfak, Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak menjadi wilayah penting lainnya.
Dalam studi kedua yang dipaparkan, Semenanjung Onin diduga menjadi salah satu titik awal ekspansi prasejarah kelompok penutur bahasa Papua menuju kawasan Timor, Alor, dan Pantar.
Penelitian itu dirancang untuk menelusuri jejak genetik ekspansi populasi Papua ke Indonesia timur sekaligus memahami hubungan antara migrasi manusia dan distribusi bahasa Papua di pesisir barat Papua. Kelompok sasaran meliputi penutur bahasa Kalamang, Mbaham, Iha, dan Onin di Fakfak.
Hubungan antara bahasa dan genetika juga menjadi salah satu perhatian penelitian. Data yang disajikan menunjukkan adanya asosiasi bahasa dan genetika pada populasi Papua yang diteliti, sementara pola serupa tidak ditemukan di Wallacea.
Namun, basis data penelitian Papua masih terbatas. Populasi yang dibahas dalam kajian tersebut baru berasal dari tiga lokasi, yakni Sorong, Keerom, dan Mappi. Materi itu juga menunjukkan populasi Papua yang menggunakan bahasa Austronesia memiliki peningkatan komponen genetik Austronesia secara bermakna dibandingkan populasi berbahasa Papua yang diteliti.
DNA bukan hanya soal asal-usul
Penelitian genom tidak berhenti pada pertanyaan tentang dari mana manusia berasal. Data genetika juga berpotensi memberikan pemahaman mengenai kesehatan masyarakat.
Salah satu contoh yang dipaparkan berkaitan dengan farmakogenomik, yakni hubungan variasi genetik dengan respons tubuh terhadap obat. Presentasi membahas gen SLCO1B1, yang berkaitan dengan respons terhadap statin atau obat penurun kolesterol. Data yang ditampilkan menunjukkan variasi fungsi gen tersebut berbeda antar-populasi, termasuk pada populasi Papua.
Karena itu, penelitian populasi Nusantara menjadi penting bukan hanya untuk merekonstruksi sejarah leluhur, tetapi juga memahami hubungan antara keragaman genetik, perubahan lingkungan, gaya hidup, budaya dan kesehatan.
Menurutnya, Indonesia masih menghadapi kesenjangan data genomik. Kondisi itu sekaligus membuka peluang membangun kemandirian ilmiah melalui penelitian yang lebih luas dan representatif.
Papua perlu masuk dalam peta genom Indonesia
Sebagai kesimpulan, Herawati menekankan kompleksitas populasi Indonesia. Berbagai sejarah leluhur serta adaptasi terhadap lingkungan dan gaya hidup secara bersama-sama membentuk arsitektur genetik yang unik di seluruh kepulauan.
Karena itu, diperlukan dataset genom referensi yang mampu menggambarkan variasi spesifik setiap populasi. Dalam konteks tersebut, data dari Papua diperlukan untuk melengkapi basis data yang telah tersedia.
Kajian mengenai manusia juga tidak cukup hanya bertumpu pada DNA. Data genetika perlu dibaca bersama faktor lain agar ilmu pengetahuan dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai manusia dan kondisi kesehatannya.
Dari Pegunungan Arfak hingga Semenanjung Onin di Fakfak, penelitian genom pada akhirnya tidak hanya membaca susunan DNA masyarakat Papua. Di dalamnya tersimpan kemungkinan untuk merekonstruksi perjalanan manusia selama ribuan tahun—bagaimana manusia berpindah, berbaur, membawa bahasa dan kebudayaan, beradaptasi dengan lingkungan, serta membentuk keragaman masyarakat Indonesia hari ini.*
(abe)






