Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Perubahan pola makan, lingkungan, hingga cara masyarakat memperoleh makanan tidak hanya mengubah kebiasaan hidup. Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi komunitas mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh manusia, terutama mikrobiota usus, yang memiliki peran penting terhadap kesehatan.

Hal itu dipaparkan drh. Safarina G. Malik, MS, PhD, dalam materi bertajuk “Peran Keberagaman Leluhur dan Lingkungan dalam Membentuk Profil Mikrobiota Usus di Indonesia”, pada 17 September 2026 ketika memberikan kuliah tamu kepada para dosen dan mahasiswa Fakulitas MIPA UNIPA. Safarina merupakan salah satu peneliti senior dari Mochtar Riady Institute for Nanotechnology dan Yayasan Suara Sains Terbuka.

Dalam paparannya, Safarina menunjukkan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara gaya hidup, latar belakang genetik, dan mikrobiota usus. Populasi manusia memiliki keragaman lingkungan maupun genetik yang kemudian berinteraksi dengan komposisi mikrobiota di dalam tubuh.

Mikrobiota usus merupakan bagian integral dari tubuh manusia. Ekosistem mikroorganisme itu berperan dalam pencernaan, membantu melawan bakteri berbahaya, dan ikut mengendalikan sistem kekebalan tubuh. Perubahan pola makan dapat memengaruhi komposisi, metabolisme, dan fungsi komunitas mikroba tersebut.

Perannya bahkan lebih luas. Mikrobiota membantu memetabolisme makanan dan zat asing di usus, menyintesis vitamin seperti vitamin K, mendukung pertahanan imun, memodulasi inflamasi, hingga membantu perkembangan dan pematangan sistem imun.

Dari hutan hingga kota

Salah satu bagian penting penelitian yang dipaparkan Safarina adalah Indonesian Microbiome Ecology and Evolution (INDOMEE). Penelitian ini mempelajari pengaruh transisi gaya hidup manusia terhadap mikrobioma, kaitannya dengan status kesehatan, serta bagaimana kondisi tersebut berhubungan dengan proses adaptasi dan evolusi.

INDOMEE melibatkan 11 komunitas dengan 415 individu dari 156 keluarga. Materi Safarina memperlihatkan cakupan penelitian dari sejumlah komunitas dengan karakter gaya hidup berbeda, mulai dari masyarakat pemburu-peramu, masyarakat agraris, hingga kelompok yang semakin terhubung dengan kehidupan perkotaan.

Perbedaan itu memberi gambaran mengenai apa yang terjadi pada mikrobiota manusia ketika sebuah komunitas bergerak dari pola kehidupan terpencil menuju pedesaan dan kemudian perkotaan.

Penelitian terhadap 116 individu yang mencakup tujuh kelompok etnik Indonesia dan tiga kelompok etnik Singapura menunjukkan adanya perubahan biodiversitas maupun komposisi mikrobiota. Biodiversitas mikrobiota cenderung menurun sepanjang rentang gaya hidup terpencil–pedesaan–perkotaan, sementara komposisinya juga berubah mengikuti rentang tersebut.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa modernisasi bukan hanya fenomena sosial dan ekonomi. Jejak perubahannya juga dapat ditemukan dalam ekosistem mikroorganisme yang hidup di tubuh manusia.

Komunitas lebih berpengaruh

Hal menarik lainnya muncul ketika para peneliti membandingkan gaya hidup dengan diferensiasi mikrobiota.

Analisis pola makan dan gaya hidup dapat memisahkan kelompok mikrobiota dari populasi yang berbeda. Data juga menunjukkan korelasi kuat antara mikrobiota dengan pola diet dan gaya hidup. Bahkan, gaya hidup pada tingkat komunitas disebut lebih mampu memprediksi diferensiasi mikrobiota dibandingkan gaya hidup individu.

Temuan itu memberikan perspektif bahwa kesehatan seseorang tidak selalu dapat dipahami hanya dari pilihan individual. Lingkungan sosial tempat seseorang tinggal, pola konsumsi yang berkembang dalam komunitas, serta perubahan cara hidup bersama turut membentuk kondisi biologis tubuh.

Kedekatan sosial bahkan meninggalkan jejak pada mikrobiota. Data penelitian menunjukkan bahwa orang yang tinggal serumah memiliki kemiripan dalam komposisi mikrobiota.

Ketika pasar mengubah makanan

Persoalan menjadi semakin penting ketika perubahan gaya hidup berhubungan dengan akses terhadap pasar.

Dalam materi tersebut disebutkan bahwa akses terhadap pasar memengaruhi perubahan pola makan dan peningkatan risiko penyakit. Transisi gaya hidup, termasuk perubahan cara memperoleh makanan serta meningkatnya akses ke pasar, juga ditemukan berasosiasi dengan peningkatan risiko obesitas.

Dengan demikian, perubahan dari pangan yang diperoleh langsung dari alam atau kebun menuju makanan yang semakin bergantung pada pasar berpotensi membawa konsekuensi yang lebih kompleks daripada sekadar perubahan menu.

Apa yang dimakan manusia dapat memengaruhi mikrobiota. Perubahan diet dapat mengubah komunitas mikroba, sementara mikrobiota sendiri berhubungan dengan berbagai fungsi tubuh dan kesehatan. Materi Safarina secara khusus menggambarkan hubungan antara asupan diet, suplemen, prebiotik atau probiotik, mikrobiota, faktor genomik hingga kesehatan manusia.

Bali memperlihatkan proses transisi

Gambaran perubahan tersebut antara lain terlihat dalam studi terhadap populasi Bali.

Penelitian terhadap 41 perempuan di Denpasar menemukan struktur komunitas mikrobiota yang terbagi menjadi tipe yang kaya Prevotella dan tipe yang kaya Bacteroides. Individu dengan obesitas dalam studi itu memiliki kekayaan mikrobiota pada tingkat filum yang lebih rendah dibandingkan individu dengan berat badan normal.

Data berikutnya menempatkan Bali sebagai populasi yang berada dalam transisi antara kelompok dengan pola kehidupan tradisional atau pra-transisi dan kelompok masyarakat industri atau pascatransisi. Materi tersebut menegaskan bahwa perubahan lingkungan dan gaya hidup dapat mendorong perubahan komposisi maupun kelimpahan mikrobiota usus.

Temuan-temuan tersebut memperlihatkan sebuah hubungan yang panjang: lingkungan membentuk cara hidup, cara hidup memengaruhi makanan, makanan dan interaksi sosial turut membentuk mikrobiota, dan perubahan mikrobiota pada akhirnya berkaitan dengan kesehatan.

Safarina merangkum bahwa karakteristik mikrobiota yang spesifik pada populasi menunjukkan adanya adaptasi terhadap inang. Perbedaan gaya hidup antarpopulasi di Indonesia secara signifikan memengaruhi komposisi mikrobiota usus, sementara interaksi antara gaya hidup, struktur populasi dan mekanisme transmisi bakteri ikut membentuk keanekaragaman mikrobiota.

Dalam konteks masyarakat yang sedang mengalami perubahan cepat, temuan itu membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang kesehatan. Persoalannya bukan semata-mata apa yang dimakan seseorang hari ini, tetapi juga bagaimana perubahan lingkungan, pasar, pola hidup dan kehidupan komunitas secara perlahan ikut mengubah ekosistem mikroskopis di dalam tubuh manusia.*

(abe)

Admin

Related Posts

Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Seorang ibu datang dari kampung bersama empat anaknya untuk menukar tomat dengan mi instan. Kisah yang beredar melalui video TikTok itu menjadi salah satu pembuka materi Ahmad…

Jejak DNA Papua Membuka Cerita Panjang Migrasi Manusia di Nusantara

Manokwari, Tudepoint(26/9/2026) — Papua bukan hanya wilayah dengan kekayaan hayati dan budaya yang tinggi. Dari perspektif genetika, Papua menyimpan bagian penting dari sejarah perjalanan manusia di Nusantara, bahkan dapat membantu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

  • By
  • September 27, 2026
  • 2 views
Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

  • By
  • September 27, 2026
  • 7 views
Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

Jejak DNA Papua Membuka Cerita Panjang Migrasi Manusia di Nusantara

  • By
  • September 27, 2026
  • 8 views
Jejak DNA Papua Membuka Cerita Panjang Migrasi Manusia di Nusantara

Gubernur Papua Barat Minta Seluruh OPD Lengkapi Data PAPEDA Jelang Peluncuran 12 Oktober

  • By
  • September 26, 2026
  • 8 views
Gubernur Papua Barat Minta Seluruh OPD Lengkapi Data PAPEDA Jelang Peluncuran 12 Oktober

Jurnalis Jayapura Gelar Doa dan Nyalakan 1.000 Lilin untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

  • By
  • September 25, 2026
  • 6 views
Jurnalis Jayapura Gelar Doa dan Nyalakan 1.000 Lilin untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

Pemprov Papua Barat Lepas 209 Peserta Ziarah Keagamaan 2026

  • By
  • September 24, 2026
  • 9 views
Pemprov Papua Barat Lepas 209 Peserta Ziarah Keagamaan 2026