Dokter “Gila Bola” Itu Sudah Berdiri Depan Gerbang Asprov PSSI Papua Barat

Saya baru mengenal dr. Frans Tan pada April 2024. Waktu itu, Manokwari Old Star datang ke Jayapura untuk mengikuti Turnamen Sepak Bola Old Star Cigombong Putra. Sebagai mantan pemain Perseman, saya juga diundang untuk bergabung bersama mereka.

Pertemuan di Jayapura itulah yang menjadi awal saya mengenal sosok dokter Frans.

Saya mendengar banyak cerita tentang mantan dokter Angkatan Laut ini. Setelah mendengar satu demi satu cerita tersebut, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:

“Ini orang gila bola”

Kalau tidak gila, mungkin levelnya sudah di atas gila.

Ha? Maksudnya bagaimana?

Begini. Kita bahas satu per satu.

Dua Minggu di Jayapura

Pertama, dokter Frans membawa sebuah tim sepak bola dari Manokwari ke Jayapura. Sebagian besar kebutuhan tim ditanggung olehnya. Bahkan tempat tinggal selama kurang lebih dua minggu atau 14 hari disediakan secara gratis.

Pertanyaan saya sederhana: siapa yang mau melakukan itu?

Orang punya uang banyak belum tentu mau. Sebab ini bukan hanya perkara memiliki uang. Ini soal seberapa besar seseorang mencintai sepak bola sampai rela mengeluarkan uang, waktu, tenaga, bahkan mungkin harus berdebat dengan keluarga di rumah karena terlalu banyak mengurus bola.

Karena itu saya bilang: hanya orang “gila” yang mau melakukan hal seperti ini.

Tentu, gila yang saya maksud adalah gila sepak bola.

Tiga Lapangan dan Makan Gratis

Cerita kedua bahkan lebih menarik.

Dokter Frans memiliki fasilitas olahraga di kompleks Aro-M, Bumi Marina, Manokwari. Ada satu lapangan sepak bola dan dua lapangan mini soccer.

Lapangan-lapangan itu terbuka bagi para mantan pemain untuk rutin berolahraga tiga kali seminggu.

Gratis.

Yang lebih aneh lagi, setelah bermain bola, makan juga disiapkan.

Gratis lagi.

Belum selesai.

Keringat pemain bahkan belum kering, dokter sudah bicara lagi soal sepak bola usia dini.

“Lapangan sudah ada nih. Coba buat turnamen usia dini. Tinggal cari uang untuk bayar wasit dan trofi untuk para juara.”

Kurang lebih begitu cerita yang saya dengar di Jayapura tentang dokter yang satu ini.

Saya kembali berpikir: kalau tidak gila bola, orang mana mau repot seperti itu?

Membangun dan menyediakan satu lapangan sepak bola serta dua lapangan mini soccer bukan pekerjaan kecil. Apalagi kalau fasilitas itu kemudian dipakai untuk membuat orang lain bermain, berolahraga, dan anak-anak belajar sepak bola.

Hanya orang yang benar-benar mencintai sepak bola yang mau melakukannya.

Lalu Saya Melihat Sendiri

Tahun 2026 saya pindah ke Manokwari.

Saya kemudian ikut bergabung dalam rutinitas “cari keringat” bersama Manokwari Old Star. Tiga kali seminggu kami bermain di lapangan milik dokter gila bola ini.

Dari situlah saya tidak lagi sekadar mendengar cerita.

Saya melihatnya sendiri.

Apa yang saya dengar di Jayapura dua tahun sebelumnya ternyata bukan cerita yang dilebih-lebihkan.

Dokter Frans memang punya antusiasme besar terhadap sepak bola, terutama pembinaan anak usia dini.

Masalahnya hanya satu: siapa yang mau mengeksekusi gagasan-gagasan itu?

Sekitar lima bulan lalu, kami mulai berdiskusi lebih serius. Dari pembicaraan itu, kami kemudian mencoba mengeksekusi pembinaan sepak bola usia dini di bawah bendera Mnukwar FC.

Anak-anak mulai berlatih. Kami mulai mengikuti turnamen-turnamen usia dini yang digelar PSSI maupun Kemenpora.

Dan setiap kali anak-anak bermain, ada satu pemandangan yang menarik perhatian saya.

Di pinggir lapangan, dokter gila bola itu duduk menonton.

Ia menikmati permainan anak-anak. Dari gesturnya terlihat jelas: dia bahagia.

Bukan karena sedang menonton pertandingan besar. Bukan Persipura. Bukan Timnas Indonesia. Bukan pula pertandingan profesional.

Yang bermain hanyalah anak-anak.

Tetapi mungkin justru di situlah letak kebahagiaannya: melihat masa depan sepak bola mulai berlari di atas lapangan.

Belum Puas, Bikin Lagi!

Dokter Frans ketika foto bersama para pemain usia dini peraih penghargaan individu, belum lama ini di Lapangan Soccer Mini ARO M, usai turnamen Grassrots Kemenpora.

Setelah mengikuti turnamen resmi, saya pikir kegiatan selesai.

Ternyata tidak.

Dokter gila bola ini malah menantang kami lagi.

“Bikin lagi setiap hari Sabtu. Undang semua anak-anak usia dini di Manokwari untuk game.”

Nah, ini lagi.

Orang lain mungkin sudah puas karena tim sudah ikut turnamen. Tetapi bagi dokter Frans, rupanya turnamen bukan tujuan akhir. Anak-anak harus terus bermain. Harus ada pertandingan. Harus ada ruang bagi mereka untuk berkembang.

Saya semakin yakin: penyakit gilanya terhadap sepak bola ini memang sudah kronis.

Dan saya kira, sepak bola Papua Barat justru membutuhkan orang-orang “gila” seperti ini.

Orang yang Dicari Itu Sudah di Depan Pintu

Kemarin, 3 Oktober 2026, saya membaca sebuah pesan di grup Manokwari Old Star.

Dokter Frans sendiri menulis bahwa ia akan maju dalam bursa pencalonan Ketua Asprov PSSI Papua Barat.

Kalian tahu apa yang pertama kali muncul dalam pikiran saya?

Ini dia.

Orang yang kita cari ternyata sudah berdiri di depan pintu.

Tinggal kita dorong masuk.

Namanya dr. Frans Tan, pemilik Marina Farm dan The Aro-M—Arena Rekreasi dan Olahraga Manggoapi di Bumi Marina, Manokwari.

Bagi saya, sepak bola Papua Barat membutuhkan orang yang tidak hanya pandai bicara tentang pembinaan.

Kita membutuhkan orang yang pernah melakukan.

Kalau bicara pembinaan usia dini, dia sudah membuka lapangan untuk anak-anak.

Kalau bicara fasilitas, dia sudah membangun dan menyediakannya.

Kalau bicara kepedulian terhadap mantan pemain, lapangannya sudah dipakai rutin oleh Manokwari Old Star.

Kalau bicara pengorbanan untuk sepak bola, uang pribadinya sudah keluar jauh sebelum ada urusan pencalonan Ketua Asprov.

Itu yang paling penting.

Karena sepak bola tidak bisa dibangun hanya dengan pidato.

Tidak cukup dengan rapat.

Tidak cukup dengan baliho.

Dan tentu saja tidak cukup dengan omon-omon.

Sepak Bola Papua Barat Butuh Orang Gila Bola

Kita sudah terlalu sering mendengar orang berbicara tentang bagaimana sepak bola Papua harus maju.

Kita juga sudah terlalu sering mendengar kata pembinaan, kompetisi usia dini, pemain muda, infrastruktur, dan prestasi.

Pertanyaannya sekarang sederhana:

Siapa yang sudah melakukannya?

Bagi saya, orang yang memiliki fasilitas sepak bola lengkap dan telah membuka fasilitas itu untuk pemain, mantan pemain, serta anak-anak, punya modal penting untuk berbicara mengenai masa depan sepak bola Papua Barat.

Tentu menjadi Ketua Asprov PSSI Papua Barat jauh lebih besar daripada mengelola lapangan atau sebuah klub. Ada organisasi yang harus dibenahi, kompetisi yang harus berjalan, klub-klub dan Askab yang harus dirangkul, pembinaan usia dini yang harus dibuat berjenjang, sepak bola putri yang harus diperhatikan, wasit dan pelatih yang harus ditingkatkan kualitasnya, serta transparansi organisasi yang harus dijaga.

Tetapi semua itu membutuhkan satu modal dasar:

cinta sepak bola.

Dan kalau cinta itu harus sampai pada tingkat “gila”, maka saya sudah melihat salah satu orangnya.

Saya mengenalnya pertama kali dari cerita orang lain di Jayapura.

Dua tahun kemudian, saya melihat sendiri apa yang dikerjakannya di Manokwari.

Karena itu, ketika dokter Frans menyatakan ingin maju sebagai Ketua Asprov PSSI Papua Barat, bagi saya pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah dokter Frans gila bola?”

Itu sudah jelas.

Pertanyaan sebenarnya adalah:

Kalau orang segila bola ini sudah berdiri di depan pintu sepak bola Papua Barat, mengapa tidak kita beri kesempatan untuk masuk dan bekerja?

Hormat semua.

Saya dukung dokter gila bola, dr. Frans Tan, menjadi Ketua Asprov PSSI Papua Barat.

Karena mungkin, untuk membawa prestasi sepak bola Papua Barat terbang lebih tinggi, kita memang membutuhkan orang yang sedikit lebih “gila” daripada yang lain.*

( Abe Yomo – Mantan Pemain Perseman )

Admin

Related Posts

Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Perubahan pola makan, lingkungan, hingga cara masyarakat memperoleh makanan tidak hanya mengubah kebiasaan hidup. Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi komunitas mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh manusia,…

Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Seorang ibu datang dari kampung bersama empat anaknya untuk menukar tomat dengan mi instan. Kisah yang beredar melalui video TikTok itu menjadi salah satu pembuka materi Ahmad…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Dokter “Gila Bola” Itu Sudah Berdiri Depan Gerbang Asprov PSSI Papua Barat

  • By
  • Oktober 4, 2026
  • 10 views
Dokter “Gila Bola” Itu Sudah Berdiri Depan Gerbang Asprov PSSI Papua Barat

Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

  • By
  • September 27, 2026
  • 18 views
Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

  • By
  • September 27, 2026
  • 24 views
Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

Jejak DNA Papua Membuka Cerita Panjang Migrasi Manusia di Nusantara

  • By
  • September 27, 2026
  • 27 views
Jejak DNA Papua Membuka Cerita Panjang Migrasi Manusia di Nusantara

Gubernur Papua Barat Minta Seluruh OPD Lengkapi Data PAPEDA Jelang Peluncuran 12 Oktober

  • By
  • September 26, 2026
  • 31 views
Gubernur Papua Barat Minta Seluruh OPD Lengkapi Data PAPEDA Jelang Peluncuran 12 Oktober

Jurnalis Jayapura Gelar Doa dan Nyalakan 1.000 Lilin untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

  • By
  • September 25, 2026
  • 17 views
Jurnalis Jayapura Gelar Doa dan Nyalakan 1.000 Lilin untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda