“Get up, stand up. Stand up for your right.”
Suara Bob Marley menggema dari Jamaika, menembus batas laut dan benua, hingga ke Tanah Papua yang masih berjuang menemukan wajah keadilannya. Lagu ini bukan cuma seruan untuk bangun dari tidur, melainkan panggilan bagi manusia untuk menyadari nilai dirinya — bahwa hidup bukan untuk tunduk, melainkan untuk berdiri.
Marley menyanyikan, “So now you see the light, you stand up for your right.”
Dalam filsafat kesadaran, terutama sebagaimana dikatakan Paulo Freire, kebebasan dimulai dari kesadaran akan penindasan. Kesadaran itu yang kini sedang tumbuh di Papua — di tengah ketimpangan, kekerasan, dan kemiskinan yang sering disembunyikan di balik kata “pembangunan”.
Rakyat Papua telah lama diajari untuk menunggu “surga setelah mati”, sebagaimana Marley kritik: “Preacher man don’t tell me heaven is under the earth.”
Lagu ini menolak teologi yang meninabobokan rakyat — teologi yang membuat orang menerima ketidakadilan di bumi demi janji surgawi. Dalam konteks Papua, itu seperti suara yang menegur: jangan pasrah pada penderitaan dengan dalih “nasib dari Tuhan.” Tuhan hidup dalam perjuangan, bukan dalam kepasrahan.
Menolak Spirit Ketergantungan
“Most people think great God will come from the sky, take away everything, and make everybody feel high.”
Kalimat ini seperti sindiran terhadap mentalitas menunggu bantuan — entah dari pemerintah, lembaga donor, atau gereja. Banyak orang Papua berharap hidupnya berubah lewat “bantuan dari langit”, padahal kunci perubahan ada di tangan sendiri.
Dalam filsafat eksistensialisme, Jean-Paul Sartre menegaskan: manusia adalah proyeknya sendiri. Ia bebas menentukan makna hidupnya. Maka “bangkit dan berdirilah” bukan slogan politik, tapi panggilan moral agar masyarakat Papua berhenti hidup dari belas kasihan, dan mulai menegakkan kehidupan dari kesadaran, kerja, dan solidaritas.
Melawan “Ism” dan “Schism”
Marley berkata lantang: “We’re sick and tired of your ism and schism game.”
Kalimat ini seperti tamparan bagi dunia yang terus membelah manusia dengan ideologi, ras, dan agama. Di Papua, rakyat juga lelah dengan permainan “isme” — nasionalisme yang menindas, rasisme yang membunuh pelan-pelan, dan kapitalisme yang merampas tanah adat atas nama kemajuan.
Filsafat keadilan Emmanuel Levinas mengajarkan bahwa etika dimulai dari wajah orang lain. Tetapi dalam sistem yang meminggirkan Papua, wajah itu sering tidak dianggap manusia. Maka “stand up for your right” berarti menegakkan kembali wajah kemanusiaan yang selama ini disembunyikan di balik laporan proyek dan statistik pembangunan.
Tuhan yang Hidup di Tubuh Manusia
Marley menegaskan: “Almighty God is a living man.”
Inilah kalimat yang paling revolusioner — Tuhan tidak datang dari langit, Ia hadir dalam tubuh manusia yang berjuang. Di Papua, Tuhan itu adalah mama-mama yang menjual hasil kebun di pasar, guru yang tetap mengajar di kampung terpencil, anak muda yang menulis, bernyanyi, atau melawan dengan pena.
Filsafat teologi pembebasan dari Gustavo Gutiérrez berbicara tentang “iman yang menjadi tindakan.” Bahwa beriman kepada Tuhan berarti menegakkan keadilan di bumi, bukan sekadar menunggu keselamatan di langit.
“Don’t Give Up the Fight”: Etika Keteguhan
Marley menutup lagunya dengan ajakan abadi: “Don’t give up the fight.”
Ini bukan ajakan untuk kekerasan, melainkan seruan etis agar manusia tidak menyerah pada keputusasaan. Di Papua, perjuangan itu bisa berarti menjaga hutan dari investor, menulis berita dengan jujur, mengajar anak di kampung, atau sekadar menolak diam ketika melihat ketidakadilan.
Filsafat Stoisisme mengajarkan bahwa martabat manusia ditentukan oleh keteguhan hatinya — bukan oleh kemenangan, tapi oleh keberanian untuk tetap berdiri di tengah badai.
“Get up, stand up” bukan lagu nostalgia. Ia adalah filsafat hidup — bahwa manusia sejati tidak menunggu surga, tapi membangunnya di bumi.
Di Tanah Papua, surga itu bukan tempat, tapi kesadaran: ketika manusia berdiri untuk haknya, menjaga tanahnya, dan mencintai hidupnya sendiri.
Maka ketika Bob Marley berkata “Don’t give up the fight”, sesungguhnya ia sedang berbicara kepada kita — kepada bangsa yang masih belajar berdiri, dengan luka yang belum sembuh, tetapi dengan cahaya yang terus menyala.(*)
( Oleh Alberth Yomo – Jurnalis di Media Jubi )






