
Intan Jaya, Tudepoint – Subuh 15 Oktober 2025, Kampung Soanggama di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, diliputi kabut dingin dan ketenangan semu. Tak ada yang menyangka, beberapa jam kemudian, suara tembakan akan mengguncang lembah, memutus kehidupan enam belas warga—sebagian di antaranya adalah petani, pengungsi, dan seorang ibu hamil. Peristiwa itu kini dikenal sebagai “Soanggama Berdarah.”
Tanah Damai yang Menjadi Ladang Operasi
Sebelum dimekarkan menjadi kabupaten, Intan Jaya adalah bagian dari Paniai—wilayah yang lama dikenal tenang. Namun sejak pemekaran dan pembukaan akses ke Blok Wabu, wilayah kaya emas di jantung Papua, situasi berubah drastis.Konflik antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan TNI/Polri meningkat tajam. Warga sipil menjadi korban di tengah perebutan pengaruh antara negara dan kelompok bersenjata.
Menurut laporan sejumlah LSM di Jakarta berjudul Ekonomi-Politik Penempatan Militer di Papua: Kasus Intan Jaya (2021), eskalasi kekerasan di wilayah ini berhubungan erat dengan kepentingan tambang emas di Blok Wabu. Negara disebut berupaya menjaga status quo demi mengamankan wilayah konsesi tersebut.
“Konflik ini bukan hanya soal keamanan, tetapi juga ekonomi politik sumber daya alam. Rakyat menjadi korban di antara dua kepentingan besar,” tulis laporan itu.

Rangkaian Kekerasan Tak Berujung
Tragedi Soanggama hanyalah satu dari banyak peristiwa berdarah di Intan Jaya sejak 2019.
Daftarnya panjang dan menyayat hati:
- 19 September 2020: Pendeta Jeremias Zanambani dibunuh di Hitadipa.
- 2021: Pewarta Rupinus Tigau ditembak di Kampung Jalae.
- 2022: Dua anak SD di Yokatapa tewas tertembak di rumahnya.
- 2023: Satu keluarga dibantai di Kampung Joparu.
- 2024–2025: Rentetan penembakan dan penghilangan paksa yang tak tersentuh pemberitaan.
“Setiap tahun selalu ada korban, tapi tak pernah ada penyelesaian. Masyarakat hanya bisa berduka,” ujar salah satu tokoh gereja di Hitadipa yang meminta namanya disamarkan.
Subuh di Soanggama: Gereja yang Menjadi Saksi
Menurut kesaksian warga, sehari sebelum penembakan, beberapa anggota TPNPB sempat berteduh di rumah warga karena hujan deras. Malam berlalu tanpa insiden. Namun sekitar pukul 04.00 Waktu Papua keesokan harinya, pasukan gabungan Den 1 dan Den 4 Satgas Rajawali II, Yonif 500/S, dan Yonif 712/WT memasuki Kampung Soanggama.
Operasi penyisiran dilakukan dengan cepat.
“Sekitar jam lima pagi, semua warga dipaksa keluar dan dikumpulkan di halaman Gereja Katolik Soanggama,” kata seorang saksi mata. “Mereka memisahkan kami—yang rambutnya gimbal, pakai noken kepala, atau berbulu kasuari disuruh keluar. Katanya mirip anggota TPNPB.”
Pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan wajah warga dengan foto-foto di ponsel aparat. Mereka yang dianggap mencurigakan langsung dieksekusi tanpa peringatan. Beberapa korban ditembak di dekat gereja dan dikuburkan di satu liang tanah. “Mereka yang di dalam gereja tidak boleh keluar, bahkan mau merokok pun disuruh di dalam,” kata saksi lain.
Di saat yang sama, seorang ibu hamil dari kampung sebelah berusaha menyeberang sungai setelah mendengar suara tembakan. Ia terpeleset, hanyut, dan meninggal dunia.
Daftar Korban Soanggama Berdarah

Berdasarkan catatan Tim Lokal Peduli Kemanusiaan bagi Masyarakat Papua (Kabupaten Intan Jaya), 16 korban tewas terdiri atas warga sipil dan anggota TPNPB.
Berikut identitas yang berhasil dikonfirmasi:
- Kaus Lawiya (TPNPB)
- Roni Lawiya (TPNPB)
- Ipe Kogoya (TPNPB)
- Poli Kogoya (TPNPB)
- Yanuarius Mirip (Warga Sipil, pengungsi Ilaga)
- Pisen Kogoya (Warga Sipil)
- Sepi Lawiya (Warga Sipil)
- Agus Kogoya (Warga Sipil)
- Impinus Tabuni (Warga Sipil)
- Agopani Holombau (Suku Moni)
- Winina Mirip (ibu hamil)
- Sakaria Kogoya (Warga Sipil)
- Kayus Lawiya (Warga Sipil)
14–16. Tiga korban lainnya belum teridentifikasi karena dikuburkan secara tergesa di lokasi kejadian.
Warga belum bisa mengevakuasi jenazah karena masih trauma dan takut dengan kehadiran aparat di sekitar kampung.
Seruan dari Tanah Luka
Tragedi Soanggama memicu reaksi keras dari berbagai kalangan masyarakat sipil di Intan Jaya.
Melalui Forum Rakyat Bergerak dan Bersuara, warga mengeluarkan sepuluh tuntutan moral kepada pemerintah Indonesia, antara lain:
- Mengusut tuntas kasus Soanggama Berdarah.
- Menarik seluruh pasukan non-organik dari Intan Jaya.
- Membentuk tim investigasi independen.
- Menghentikan militerisasi untuk kepentingan korporasi tambang.
- Mengecam kegagalan MRP melindungi masyarakat adat.
- Menolak eksploitasi tambang emas di wilayah Intan Jaya.
- Menetapkan pembunuhan warga sipil sebagai pelanggaran HAM berat.
- Menetapkan 15 Oktober sebagai “Hari Soanggama Berdarah.”
- Menarik seluruh pos militer dari wilayah sipil.
- Mendesak TNI dan TPNPB menghormati prinsip kemanusiaan dalam konflik.
“Kami Tidak Akan Diam”

Tim Lokal Peduli Kemanusiaan bagi Masyarakat Papua menilai, konflik di Intan Jaya bukan sekadar soal keamanan, tetapi usaha sistematis mengosongkan tanah masyarakat adat.
“Konflik ini telah membunuh masa depan anak-anak usia sekolah, mematikan ekonomi lokal, dan memaksa warga meninggalkan kebun dan kampung,” tulis tim dalam pernyataannya.
Mereka menyebut tragedi Soanggama sebagai pelanggaran HAM berat dan menyerukan agar negara mengambil tanggung jawab penuh.
Sebagai bentuk protes damai, para mahasiswa dan pemuda asal Intan Jaya akan menggelar aksi pada Selasa, 28 Oktober 2025.
Bagi mereka, aksi itu bukan sekadar unjuk rasa, tapi doa untuk tanah kelahiran.
“Intan Jaya bukan ladang tambang, melainkan tanah kehidupan,” ujar salah satu koordinator aksi. “Kami hanya ingin hidup tanpa suara tembakan.”
Luka yang Belum Sembuh
Hingga kini, Intan Jaya masih diselimuti ketakutan. Ribuan warga hidup berpindah-pindah di hutan dan kampung sekitar. Sekolah tutup. Kebun tak lagi digarap. Gereja sunyi.
Namun di tengah keheningan itu, masih terdengar doa-doa lirih dari para ibu yang kehilangan anaknya, dan dari anak-anak yang menanti ayahnya tak kunjung pulang.
“Tanah ini telah banyak menyerap darah,” kata seorang pendeta tua di Hitadipa. “Tapi kami percaya, suatu hari nanti, Tuhan akan menuntut keadilan.”
Soanggama berdarah. Intan Jaya menangis. Dan di atas tanah yang terus memerah itu, harapan rakyat kecil masih berbisik: Hentikan perang. Pulihkan kemanusiaan di Tanah Papua.(*)
Sumber : Siaran Pers Tim Lokal Peduli Kemanusiaan bagi Masyarakat Papua







