Jayapura (2/1/2025) – Keluarga Besar Suku Khouw Kampung Ayapo merayakan Hari Doa Syukur ke-74 tahun sekaligus launching Yayasan Khouw Bersatu Papua, Jumat (2/1/2025).

Tema perayaan syukuran ini adalah Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga, yang diambil dari Kitab Matius. Sementara itu, subtema yang diusung ialah Melalui Hari Doa Syukur ke-74 Tahun dan Launching Yayasan Khouw Bersatu Papua, 2 Januari 2025, Kita Tingkatkan Revitalisasi Dusun Sagu dan Budidaya Ikan Danau Sentani demi Meningkatkan Ekonomi Keluarga dan Masyarakat.

Prosesi perayaan diawali dengan penjemputan hamba Tuhan, para kepala marga, serta tamu undangan oleh tim penari dan suling tambur dari rumah Marga Ohodo. Rombongan kemudian diantar menuju Gedung Gereja GKI Elim Ayapo.

Sebelum memasuki prosesi ibadah, dilakukan pemutaran langgeng suara yang disusun oleh Ketua Yayasan Khouw Bersatu Papua, Kristian Epa, S.Sos. Langgeng suara ini memberikan pemahaman mendalam tentang makna historis 74 tahun perayaan doa syukur Suku Khouw Kampung Ayapo, sekaligus menandai lahirnya Yayasan Khouw Bersatu Papua.

Pendeta Lince Sineri, S.Si., dalam khotbahnya memberikan teladan dari kisah Nabi Nuh dalam Kitab Kejadian 8:18–22. Dengan tema renungan Dunia Baru, Pendeta Sineri berharap seluruh anak-anak Suku Khouw mengalami hidup baru yang berkenan kepada Tuhan, senantiasa mengangkat hormat dan pujian kepada-Nya, serta menjaga dan mengelola alam ciptaan Tuhan.

“Kita punya danau yang indah, Cycloop yang perkasa, ikan gabus, dan sagu. Mari kita jaga dan rawat agar semuanya memberi kehidupan bagi generasi saat ini maupun generasi yang akan datang,” kata Pendeta Sineri, yang juga menjabat sebagai Ketua PHMJ GKI Elim Ayapo.

Tetua adat Suku Khouw, Pendeta Hendrik Yomo, menegaskan agar anak-anak Suku Khouw lebih peka dan menjiwai makna doa syukur ini. Ia mengingatkan keputusan para leluhur yang berani membakar seluruh jimat kuasa gelap karena melihat masa depan generasi mereka. Meski tidak mengenyam pendidikan formal, para leluhur mengambil keputusan besar—dengan haru dan air mata—menanggalkan seluruh kekuatan lama demi satu tujuan: agar anak-anak mereka dapat bersekolah dan menjadi pintar.

“Orangtua dulu itu melihat kita ke depan, sehingga keputusan berat itu diambil. Tetapi anak-anak sekarang justru menganggapnya remeh. Itu yang membuat saya marah,” kata Hendrik Yomo (diterjemahkan dari bahasa Sentani). Karena itu, ia berharap seluruh anak-anak Khouw memiliki kepekaan dan kepedulian untuk memaknai tanggal 2 Januari dengan sungguh-sungguh.

Ketua Yayasan Khouw Bersatu Papua, Kristian Epa, S.Sos., selain menyampaikan kronologis lahirnya yayasan, juga berharap agar melalui yayasan ini anak-anak Khouw dapat berkontribusi dalam mengangkat harkat dan derajat masyarakat Kampung Ayapo di masa depan.

Lewi Puhili, yang mewakili Ondofolo Heram Ayapo sekaligus Kepala Kampung Adat, berharap generasi muda Suku Khouw memaknai perayaan ini dengan penuh kesadaran. Menurutnya, generasi tua akan pergi dan generasi muda yang akan melanjutkan tongkat estafet kehidupan, sehingga momentum ini penting menjadi perhatian bersama.

Sebelum acara ramah tamah, dilakukan penanaman pohon secara simbolis oleh Ketua PHMJ GKI Elim Ayapo, Pendeta Lince Sineri, S.Si.; Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura, Yohanes Kampermase, yang mewakili Pemerintah Kabupaten Jayapura; serta Kepala Kampung Adat Ayapo, Lewi Puhili. Prosesi ini turut disaksikan oleh Kapolsek Sentani Timur, Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Pekerjaan Umum, penulis Buku Sejarah Suku Khouw dan Injil Masuk di Ayapo, Korneles Deda beserta tim, serta seluruh warga Kampung Ayapo.

Pada momen perayaan ini juga dilakukan penarikan undian untuk menentukan marga yang akan menjadi tuan rumah perayaan pada tahun berikutnya. Berdasarkan hasil penarikan undian, Marga Aufa ditetapkan sebagai tuan rumah perayaan doa syukur Suku Khouw pada 2 Januari 2027.

Dari Iman ke Pendidikan dan Kelembagaan: Transformasi Sosial Suku Khouw di Kampung Ayapo (1928–2026)

Perjalanan sejarah Suku Khouw di Kampung Ayapo, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, adalah kisah panjang tentang perubahan sosial yang berlangsung perlahan namun mendalam. Sejak masuknya Injil pada 1 Agustus 1928 hingga peringatan 74 tahun Ibadah Syukur Suku Khouw dan peluncuran Yayasan Khouw Bersatu Papua pada 2 Januari 2026, komunitas ini mengalami transformasi yang menyentuh aspek iman, pendidikan, relasi gender, struktur adat, dan bentuk organisasi modern.

Dalam perspektif antropologi dan sosiologi, perubahan ini bukan sekadar proses religius, melainkan pergeseran struktur sosial yang dinegosiasikan terus-menerus antara adat, iman Kristen, dan negara.

 

Injil sebagai Pemicu Perubahan Sosial

Sejarah perubahan itu bermula ketika Derek Samuel Samallo memasuki Dusun Elim Ayapo pada 1 Agustus 1928. Kehadirannya memperkenalkan iman Kristen dengan figur sentral Yesus Kristus. Namun bagi masyarakat Ayapo, Injil tidak hanya dipahami sebagai ajaran spiritual, melainkan sebagai kerangka moral baru yang secara perlahan mengubah cara pandang terhadap kehidupan, pendidikan, dan masa depan anak-anak.

Pada fase awal, masyarakat Khouw digambarkan hidup dalam sistem kepercayaan yang kuat terhadap dunia supranatural. Antropologisnya, kondisi ini mencerminkan masyarakat dengan kosmologi adat yang mapan. Injil kemudian berfungsi sebagai agen inkulturasi, bukan dengan menghapus adat, tetapi dengan memperkenalkan etika baru melalui pendidikan dasar tiga tahun yang berlangsung sejak 1928 hingga 1950-an.

 

Pendidikan sebagai Strategi Kolektif

Pendidikan menjadi pintu utama perubahan sosial. Pada tahap awal, pendidikan tiga tahun di kampung bertujuan membangun kemampuan dasar baca-tulis dan pembentukan karakter. Memasuki dekade 1960-an, terutama setelah perubahan pemerintahan pada 1962, anak-anak Khouw mulai mengakses pendidikan enam tahun di tingkat kampung.

Dalam pandangan sosiologi Papua, pendidikan tidak dimaknai sebagai prestasi individual. Keberhasilan seorang anak adalah keberhasilan kolektif keluarga besar dan suku. Prinsip ini tercermin dari keberhasilan Arnold Epa dan Lukas Epa, dua putra Khouw yang pada Juli 1952 lulus Sekolah Rakyat dan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Sambungan (JVVS) di Genyem.

Pendidikan dipahami sebagai investasi jangka panjang untuk martabat komunitas, bukan sebagai jalan keluar dari identitas adat.

 

Perempuan Khouw dan Perubahan Struktur Gender

Salah satu aspek paling penting dalam perjalanan sosial Suku Khouw adalah peran perempuan. Enam perempuan Khouw—Yosina Ehaa, Yosepina Puhili (Almarhumah), Jebelina Epa, Sarlota Puhili, Magdalena Pulanda, dan Maria Pulanda—diakui sebagai pelopor yang menembus batas budaya dan iman yang sebelumnya membatasi akses perempuan terhadap pendidikan.

Referensi pada pemikiran R. A. Kartini menunjukkan bahwa perubahan ini tidak terlepas dari wacana nasional tentang emansipasi, tetapi mengalami proses lokalisasi dalam konteks Sentani. Dalam antropologi gender, peran perempuan Khouw ini menunjukkan pergeseran relasi kuasa dalam keluarga, dari sistem yang sangat patriarkal menuju relasi yang lebih partisipatif, tanpa memutus ikatan adat.

 

Refleksi Tua-Tua Khouw dan Reposisi Kuasa Adat

Perubahan sosial juga memunculkan refleksi kritis di kalangan tua-tua Khouw. Pertanyaan-pertanyaan tentang makna kuasa adat dan masa depan anak-anak muncul sebagai tanda krisis reflektif dalam struktur kepemimpinan tradisional.

Tokoh-tokoh seperti Cornelis Khaleo Epa, Yeremias Puhili, Yakob Renokho Pulanda, Lambert Ohodo Ehaa, Mesakh Hamilo Ohodo, dan Paulus Pheneh Ohodo berkumpul untuk mencari jalan keluar bersama. Mereka mengakui bahwa kuasa adat—termasuk Kendoafian Heram Ayapo—tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus diarahkan pada pembebasan dan pendidikan generasi berikutnya.

Doa yang dipimpin oleh Yusuf Imaelo Okoko menandai penyerahan ulang kuasa sosial dan spiritual kepada Tuhan. Secara sosiologis, ini adalah momen transformasi legitimasi, dari kuasa adat yang bersifat turun-temurun menuju kuasa moral yang dibingkai oleh iman dan pelayanan.

 

Dari Struktur Adat ke Organisasi Modern

Puncak transformasi sosial kontemporer Suku Khouw terjadi pada pembentukan Yayasan Khouw Bersatu Papua. Dengan persetujuan para kepala suku pada 28 Agustus 2025 dan pengesahan akta pada 4 September 2025 di hadapan Notaris Elsye Sisilia Aipassa, S.H., M.Kn, komunitas Khouw memasuki fase baru: institusionalisasi identitas adat dalam kerangka hukum negara.

Struktur yayasan mencerminkan kesinambungan antara adat dan modernitas. Ondofolo Heram Ayapo dan Enos Eluwaikhending Deda berperan sebagai Pelindung dan Penasehat, sementara pembina yayasan meliputi Lewi Puhili, Pdt. Yohasu Ohodo, S.Th, dan Pdt. Hendrik Yomo. Kepengurusan harian dipimpin oleh Kristian Epa, S.Sos sebagai Ketua, didampingi Drs. Sebulon Pulanda, M.Si, Isaak Puhili, Kristian Everth Ehaa, dan Ibu Maria Ohodo, S.Pd., M.Pd.

Dewan Pengawas yang terdiri dari Frengky H. Ohodo, Ayub N. Epa, Yunias Ehaa, KIT Peter Pulanda, Hans Yeremias Puhili, Mikhael Malamba, dan Noakh Auta, S.H memastikan bahwa keputusan yayasan tetap berakar pada struktur suku dan marga.

 

Revitalisasi Dusun Sagu dan Ekologi Sosial

Program revitalisasi dusun sagu yang menjadi ikon yayasan menunjukkan bahwa pembangunan tidak dimaknai semata sebagai pertumbuhan ekonomi. Dalam antropologi ekologi Papua, sagu adalah simbol relasi manusia dengan alam. Menghidupkan kembali dusun sagu berarti memulihkan ingatan ekologis, solidaritas kerja, dan kemandirian pangan berbasis adat.

 

Menuju Satu Abad Injil: Melawan Lupa, Merawat Identitas

Menjelang peringatan satu abad masuknya Injil pada 1 Agustus 2028, komitmen Suku Khouw untuk menerbitkan buku sejarah dan mengenalkan kembali identitas suku kepada generasi muda merupakan tindakan sadar melawan lupa. Dalam perspektif sosiologi pengetahuan, penulisan sejarah adalah bentuk klaim atas narasi diri, agar perubahan sosial tidak memutus hubungan dengan masa lalu.

Kisah Suku Khouw di Kampung Ayapo adalah kisah tentang bagaimana iman, pendidikan, adat, dan negara dinegosiasikan dalam satu lintasan sejarah. Transformasi yang terjadi tidak bersifat revolusioner, melainkan bertahap dan kolektif. Dari pendidikan dasar, peran perempuan, refleksi tua-tua adat, hingga pembentukan yayasan, semuanya menunjukkan bahwa modernitas dapat dirangkul tanpa kehilangan akar budaya.

Bagi Suku Khouw, masa depan bukanlah meninggalkan masa lalu, tetapi menafsir ulang warisan adat dan iman agar tetap hidup dan relevan bagi generasi yang akan datang.(*)

Oleh : Alberth Yomo

Admin

Related Posts

Panitia Perayaan Natal Jurnalis se-tanah Papua. SENTANI | tudepoin.com – Jurnalis se-Tanah Papua akan menggelar Perayaan Natal dan Tahun Baru akhir pekan ini. Perayaan ini sebagai momentum mempererat kebersamaan dan…

Solidaritas Mahasiswa Papua membacakan pernyataan sikap dalam aksi damai di Jayapura. Di antaranya tarik militer dan tolak investasi dari Papua, Rabu (21/1/2026). – tudepoin/Elwen Wenda Abepura, Jayapura | tudepoin.com –…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Wartawan Liput Masyarakat Adat dan Lingkungan, Raih Penghargaan Jurnalisme

  • By
  • Februari 2, 2026
  • 7 views
Wartawan Liput Masyarakat Adat dan Lingkungan, Raih Penghargaan Jurnalisme

Sulaman di Obhe: Ketekunan Mama-Mama Penjaga Danau

  • By
  • Januari 22, 2026
  • 4 views
Sulaman di Obhe: Ketekunan Mama-Mama Penjaga Danau

Jurnalis Papua Gelar Ibadah Natal dan Tahun Baru, Perkuat Kebersamaan dan Persaudaraan

  • By
  • Januari 22, 2026
  • 11 views
Jurnalis Papua Gelar Ibadah Natal dan Tahun Baru, Perkuat Kebersamaan dan Persaudaraan

Solidaritas Mahasiswa Papua Desak Tarik Militer dan Tolak Investasi dari Papua

  • By
  • Januari 21, 2026
  • 27 views
Solidaritas Mahasiswa Papua Desak Tarik Militer dan Tolak Investasi dari Papua

AWP Deklarasikan Festival Media Papua Tiap Dua Tahun

  • By
  • Januari 19, 2026
  • 16 views
AWP Deklarasikan Festival Media Papua Tiap Dua Tahun

Suku Khouw Ayapo Rayakan 74 Tahun Doa Syukur dan Launching Yayasan Khouw Bersatu Papua

  • By
  • Januari 2, 2026
  • 36 views
Suku Khouw Ayapo Rayakan 74 Tahun Doa Syukur dan Launching Yayasan Khouw Bersatu Papua