
Jayapura (8/12/2025) — Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, media justru menjadi salah satu aktor yang belum menempatkan isu lingkungan sebagai prioritas. Hal ini terungkap dalam riset komprehensif oleh Muslikhin dan Indra Prawira, peneliti dari Fakultas Digital Communication, Hotel, and Tourism, Universitas Bina Nusantara (BINUS), yang menelaah bagaimana tiga media siber besar di Indonesia—Kompas.com, Okezone.com, dan Suara.com—mengkonstruksi isu lingkungan dan perubahan iklim dalam pemberitaan mereka.
Penelitian menggunakan analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis) Norman Fairclough, dikombinasikan dengan data frekuensi kata menggunakan NVivo 12 Plus.
Fokus Media Masih Pada “Apa yang Viral”, Bukan “Apa yang Penting”
Temuan riset yang dipublikasikan pada Jurnal Kajian Komunikasi, Volume 11 No. 2, 31 Desember 2023, menunjukkan bahwa media siber Indonesia:
- Tidak memiliki agenda-setting terkait isu lingkungan.
- Tidak memiliki kanal khusus atau desk lingkungan.
- Tidak memiliki jurnalis spesialis lingkungan.
- Menentukan liputan berdasarkan tren media sosial, viralitas, dan SEO.
“Cyber media tidak menetapkan agenda liputan iklim. Mereka hanya mengikuti isu yang sedang viral atau memiliki potensi pageviews,” tulis para peneliti.
Konsekuensinya, isu-isu lingkungan yang penting tetapi tidak populer hampir tidak pernah muncul dalam pemberitaan.
SEO, Google Trend, dan Algoritma Jadi Penentu Liputan
Para informan redaksi mengakui bahwa strategi pemberitaan kini mengikuti logika algoritma:
- Artikel harus SEO-friendly.
- Pemilihan isu dipengaruhi keyword yang dicari publik.
- Nilai berita ditentukan oleh potensi share di media sosial.
Mast & Temmerman (2021) menyebut fenomena ini sebagai “news value of audience perspective”, artinya nilai berita ditentukan oleh apa yang dicari audiens—bukan oleh prioritas publik atau kepentingan jangka panjang masyarakat.
Riset BINUS menunjukkan bahwa pencarian publik soal perubahan iklim di Google lebih sedikit dibanding topik korupsi atau mata uang kripto, sehingga isu iklim dianggap “tidak menguntungkan” oleh media.
Tidak Ada Jurnalis Lingkungan: Dampaknya Liputan Dangkal
Penelitian menemukan bahwa ketiga media:
- tidak mempekerjakan koresponden khusus isu lingkungan,
- menugaskan jurnalis umum yang tidak memiliki pemahaman mendalam soal isu iklim,
- hanya meliput kejadian permukaan dan tidak melakukan investigasi.
Informan dari redaksi mengatakan:
“Tidak ada perhatian khusus. Tidak ada yang benar-benar memiliki minat pada isu lingkungan.” — HM (Managing Editor Kompas.com)
“Kami masuk ke isu lingkungan hanya kalau ada isu besar seperti polusi atau bencana.” — MBS (Chief Editor Okezone.com)
Ketiadaan jurnalis spesialis menyebabkan pemberitaan sering bersifat:
- reaktif, bukan investigatif,
- sensasional, bukan mendalam,
- berhenti pada peliputan peristiwa, bukan menjelaskan akar masalah.
Atomisasi Berita: Media Mengejar Klik, Bukan Kualitas
Riset menjelaskan bahwa era digital menciptakan fenomena atomisasi berita, yaitu:
- berita pendek dan terpisah-pisah,
- fokus pada clickbait,
- evaluasi kesuksesan berita berdasarkan jumlah klik, likes, shares, dan komentar.
Stroud & Duyn (2023) menyebut bahwa kualitas jurnalisme kini diukur dari angka interaksi, bukan kedalaman peliputan.
Sebagai akibatnya:
- Liputan iklim tidak memenuhi “syarat viral”.
- Berita lingkungan tidak dianggap worth investing di ruang redaksi.
Bencana Alam Justru Menjadi “Gerbang Masuk” Isu Lingkungan
Meski isu lingkungan umumnya diabaikan, ada pengecualian: bencana alam.
Bagi media, bencana memiliki:
- dampak langsung,
- nilai darurat tinggi,
- potensi emosi publik,
- peluang besar menarik pembaca.
Informan menyebut:
“Jika ada gempa, banjir, longsor, kita pasti liput. Karena kita juga mitra BNPB.” — MBS Informan
Bencana menjadi pintu masuk liputan iklim, sehingga wacana lingkungan direduksi menjadi peristiwa bencana, bukan persoalan struktural seperti:
- deforestasi,
- krisis energi,
- polusi industri,
- konflik lahan,
- hilangnya keanekaragaman hayati,
- kebijakan mitigasi/adaptasi iklim.
Kompas.com Konsisten Liput Lingkungan, Tapi Tidak Didukung Sistem
Kompas.com adalah satu-satunya media dalam riset yang mengaku:
- tetap meliput isu lingkungan meski tidak menghasilkan pageviews,
- menganggap isu iklim sebagai tanggung jawab jurnalisme publik.
Namun keputusan itu tidak ditopang kebijakan editorial, seperti:
- tidak ada desk lingkungan,
- tidak ada pelatihan jurnalis khusus,
- tidak ada prioritas anggaran.
Komitmen publik ini akhirnya tidak berjalan optimal.
Temuan Frekuensi Kata: “Iklim” dan “Perubahan” Dominan, Tapi Kontekstual Dangkal
Analisis NVivo menemukan:
- Kompas.com: iklim (264), perubahan (253), Indonesia, dampak, masyarakat.
- Suara.com: iklim (147), perubahan (144), mangrove, lingkungan.
- Okezone.com: Indonesia (241), iklim (175), perubahan (150), negara, energi.
Peneliti menegaskan:
“Isu iklim muncul, tetapi lebih sebagai kata kunci, bukan narasi komprehensif.”
Implikasi Penting: Media Tidak Lagi Menentukan Agenda Publik
Hasil penelitian menunjukkan pergeseran besar:
Dulu — Media menentukan agenda publik (agenda setting).
Sekarang — Media mengikuti apa yang viral di publik.
Ketika media hanya mengikuti algoritma:
- isu penting tetapi tidak populer akan terabaikan,
- pemberitaan lingkungan hanya muncul saat bencana,
- publik tidak mendapat informasi cukup tentang mitigasi, adaptasi, dan solusi,
- advokasi kebijakan lingkungan melemah.
Kesimpulan Penelitian BINUS
Muslikhin dan Prawira menyimpulkan:
- Isu iklim hadir di media, tapi tidak diperlakukan sebagai isu penting.
- Tidak ada agenda-setting, kanal khusus, maupun jurnalis lingkungan.
- Liputan bergantung pada viralitas dan pageviews.
- Media mengikuti algoritma, bukan kepentingan publik.
- Liputan iklim cenderung reaktif (saat bencana), bukan solutif.
Rekomendasi Peneliti: Perlu Reformasi Jurnalisme Lingkungan
Para peneliti menekankan pentingnya:
- membentuk desk lingkungan,
- memperluas kapasitas jurnalis,
- melakukan liputan investigatif,
- mengurangi ketergantungan pada algoritma,
- menghadirkan liputan mitigasi dan adaptasi,
- membangun kolaborasi media–ilmuwan–komunitas adat.
“Mengendalikan perubahan iklim butuh partisipasi semua pihak termasuk media. Tanpa peran media, isu lingkungan tidak akan menjadi perhatian publik.”







