Senator Lis Tabuni berbincang dengan warga pengunjung Puskesmas Kimi, Distrik Teluk Kimi, Nabire, Papua Tengah, Senin, 23 Februari 2026. – Ana/ tudepoin
Jayapura, Tudepoin – Di tengah upaya pencegahan stunting di wilayah Papua Tengah, Anggota DPD RI Lis Tabuni turun langsung ke lapangan dengan menyalurkan 1.300 bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil melalui sejumlah puskesmas di Kabupaten Nabire.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk memperkuat kesehatan dan gizi anak serta ibu di daerah terpencil, sekaligus menunjukkan perhatian nyata terhadap kesejahteraan masyarakat adat di pedalaman Papua.
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita dan ibu hamil, kata Lis, bertujuan utama untuk meningkatkan status gizi, mencegah stunting, mengatasi kekurangan energi kronis (KEK), dan memastikan tumbuh kembang janin/anak yang optimal. PMT memberikan nutrisi tambahan seperti protein, vitamin, dan mineral yang seringkali kurang dari makanan harian.
Lis mengatakan PMT disalurkan langsung oleh tim-nya secara bertahap melalui sejumlah puskesmas di Kabupaten Nabire.
Hari pertama, PMT disalurkan sebanyak 300 karton melalui tiga puskesmas, yang pertama di Puskesmas Kaladiri, Jl Klamono, Kampung Kaladiri, Distrik Wanggar, kemudian Puskesmas Perawatan Wanggar Sari, Distrik Yaro, dan Puskesmas Kimi, Kampung Kimi, Distrik Teluk Kimi.

“Hari pertama hari Senin (23/2/2026) kami sudah salurkan 300 PMT di tiga puskesmas, yaitu Puskesmas Kaladiri, Puskesmas Perawatan Wanggar Sari, dan Puskesmas Kimi. Masing-masing puskesmas dapat 100 karton, jadi dari 100 karton ini terdiri dari 50 karton untuk ibu hamil dan sisanya untuk balita” kata Lis melalui seluler dari Nabire, Jumat (27/2/2026).
Penyaluran PMT kedua dilakukan pada Rabu (25/2/2026) di tiga puskemas, yakni Puskesmas Kalibumi, Puskesmas Yaro, dan Puskesmas SP3.
“Sama seperti tiga puskesmas sebelumnya, di tiga puskesmas ini kami salurkan masing-masing 100 karton PMT yang terdiri dari PMT untuk ibu hamil dan balita,” katanya.
Anggota DPD RI dari daerah pemilihan Provinsi Papua Tengah ini menemukan beberapa permasalahan, yang harus direspon pemerintah dan berbagai pihak termasuk masyarakat.
Lis mengatakan, rata-rata petugas puskesmas mengemukakan persoalan yang sama. “Mulai dari masalah kebersihan hingga minimnya pengetahuan atau kesadaran dari masyarakat kita tentang pentingnya asupan makanan bergizi bagi ibu hamil dan anak-anak balita,” katanya.
Sweeping dari rumah ke rumah

Penanggung Jawab Gizi pada Puskesmas Perawatan Wanggar Sari, Sritaati S.Gz mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi adalah minimnya kesadaran orang tua dalam hal melakukan kontrol rutin terhadap balita.
Padahal, orang tua harus rutin memeriksakan balita ke Puskesmas atau posyandu setiap bulan untuk memantau tumbuh kembang dan mencegah stunting. Hal utama yang diperiksa meliputi antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala), status imunisasi, deteksi dini tumbuh kembang (DDTK), serta konsultasi gizi dan pola asuh.
Untuk saat ini, kata Sritaati, terdapat 400 balita yang menjadi sasaran perhatian di puskesmas tersebut. Namun, tidak semua menjalani pemeriksaan rutin.
“Dari total sasaran sebanyak 400 anak, hanya 250 yang menjalani pemeriksaan rutin. Jumlah balita pasti di bawah 50 persen. Susah, jadi biasanya kita yang datang sweeping ke rumah-rumah. Jadi yang tidak datang [ke puskesmas/posyandu], kita datangi sweeping, gitu,” kata Sritaati.
Perawat yang sudah mengabdi di Papua sejak tahun 1993 ini mengaku menghadapi tantangan dalam upaya membangun kesadaran orang tua.
“Selama ini, tidak bisa dipungkiri, karena hanya di bawah 50 persen [yang kembali kontrol], mau bagaimana lagi. Apalagi kalau sudah selesai imunisasi mereka tidak datang lagi. Apalagi kalau sudah ke TK, PAUD, di atas 4 tahun itu susah sekali. Jadi kita kejar ke sana. Kan ada SDIDTK (Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang) untuk di TK, jadi kita datang ke sana untuk timbang berat badan, suntik vitamin A. Seperti itu,” kata Sritaati.
Melalui sweeping dari rumah ke rumah, juga menjadi cara untuk membantu orangtua terutama para ibu yang mengalami halanangan atau kendala.
“Sebetulnya kalau untuk penyampaian, ktia sering sampaikan. Tapi dilihat dari kesadaran dan kesibukan ibu-ibu, kita tidak bisa untuk memaksakan. Kadang-kadang ibu-ibu sibuk bekerja, anak-anaknya dijaga. Terus, di sini jauh-jauh, nggak ada kendaraan jadi ngga bisa datang,” katanya.
Sementara itu, untuk ibu hamil yang menjadi sasaran PMT Puskesmas Perawatan Wanggar Sari sebanyak 20an ibu.
Gizi Buruk
Dari kunjungan ini, Senator Lis Tabuni mendapati informasi adanya kasus gizi buruk yang masih dialami warga Kabupaten Nabire, seperti di Distrik Yaro.
“Ternyata masih ada masyarakat kita yang alami gizi buruk. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah semua tingkat, terutama kabupaten Nabire dan Pemprov Papua Tengah,” kata Lis.
Kasus ini ditemukan dalam kunjungan ke Puskesmas Perawatan Wanggar Sari. Penanggung Jawab Gizi pada Puskesmas Perawatan Wanggar Sari, Sritaati S.Gz mengatakan kasus gizi buruk ditemukan dalam keluarga yang hidup jauh dari kecukupan hingga berpengaruh pada kondisi kesehatannya.
Bahkan PMT, yang harusnya diberikan pada balita dan ibu hamil, juga terpaksa dikonsumsi anggota keluarga lainnya.
“Apalagi kalau ada balita gizi kurang, gizi buruk, kita datang dengan membawa ini [PMT]. Tapi faktor penyebab banyak sekali karena mungkin faktor ekonomi, pengetahuan, faktor lingkungan juga,” kata Sritaati.
“Soalnya sekarang ini banyak gizi buruk, dalam satu rumah ada beberapa KK [kepala keluarga]. Ada tiga KK, jadi seperti itu, makanannya semua jadi satu. Jadi pernah kita bagi ini [PMT], ya semua keluarga yang makan, gitu,” lagi kata Sritaati.

Sementara itu, Puskesmas Kimi meminta pemerintah memperhatikan edukasi gizi, bukan hanya suplai makanan.
Penanggung Jawab Gizi Puskesmas Kimi di Kampung Kimi, Distrik Teluk Kimi, Nelviana Nelce Laloan mengungkapkan pentingnya pendekatan holistik dalam program gizi masyarakat. Menurutnya, selama ini makanan sehat berbasis pangan lokal sudah tersedia, namun pemahaman ibu-ibu masih menjadi tantangan utama.
“Kami rutin edukasi, tapi ibu-ibu sering lupa karena kesibukan sehari-hari. Kami berharap Kementerian bisa mengirim tenaga yang mampu mengubah pola pikir, bukan hanya fokus pada pemberian asupan,” ujarnya.
Ia menekankan, perubahan perilaku dan kesadaran gizi jauh lebih penting daripada sekadar menyediakan makanan — karena tanpa pemahaman, program gizi sulit berdampak jangka panjang.
Koordinator Bidan Puskesmas Kaladiri, Enny Mulyati, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 116 ibu hamil dan 158 balita yang menjadi sasaran perhatian dalam program kesehatan ibu dan anak. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Senator Lis Tabuni atas bantuan yang diberikan.
“Kami mewakili Puskesmas Kaladiri mengucapkan banyak terima kasih atas kepedulian Ibu Lis. Semoga bantuan ini tidak berhenti di sini, dan kami berharap ada bantuan-bantuan berikutnya,” ujar Enny. (*)




