
Manokwari, Tudepoint(24/9/2026) – Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., secara resmi melepas 209 peserta Ziarah Keagamaan Provinsi Papua Barat Tahun 2026 di Manokwari, Kamis (24/9/2026).
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Papua Barat, Dirsia Natalia Atururi, S.E., M.M., dalam laporannya mengatakan program ziarah keagamaan tahun ini semula diikuti 210 peserta dari tujuh kabupaten di Papua Barat. Namun, satu peserta dari umat Hindu meninggal dunia sebelum keberangkatan sehingga jumlah peserta yang diberangkatkan menjadi 209 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 88 peserta melakukan perjalanan ke Mekkah, 91 peserta berziarah ke Israel, 15 peserta ke India, dan 15 peserta ke Tiongkok.
Khusus perjalanan ke India, semula terdapat 16 peserta dari umat Hindu. Jumlah itu kemudian menjadi 15 peserta setelah seorang calon peserta meninggal dunia sebelum keberangkatan.
Atururi mengatakan program ziarah keagamaan dilaksanakan untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, memperdalam nilai-nilai spiritual serta mempererat dan memperkuat kerukunan umat beragama di Papua Barat.
“Pelaksanaan ziarah ke tanah suci dilatarbelakangi oleh tujuan untuk meningkatkan iman dan ketakwaan, memperkuat pembinaan kehidupan keagamaan, serta membangun persaudaraan dan kerukunan umat beragama,” kata Atururi.
Menurut dia, kegiatan tersebut diharapkan memberikan pengalaman spiritual yang bermakna kepada peserta sekaligus mendukung terwujudnya kehidupan masyarakat Papua Barat yang harmonis.
Program tersebut dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Papua Barat dengan skema pembiayaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam sambutannya, Mandacan menegaskan perjalanan ke tempat-tempat suci tidak semestinya dipandang hanya sebagai perjalanan fisik. Ziarah, menurutnya, harus menjadi kesempatan melakukan refleksi diri, memperdalam iman dan memahami sejarah keagamaan masing-masing.
“Perjalanan ziarah ke tanah suci bukanlah sekadar perjalanan fisik menuju suatu tempat. Lebih dari itu, ziarah merupakan kesempatan melakukan refleksi diri, memperdalam penghayatan iman dan memahami sejarah perjalanan keagamaan,” kata Mandacan.
Ia berharap pengalaman spiritual selama perjalanan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Para peserta diminta membawa pulang nilai-nilai yang diperoleh dan menerapkannya dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, masyarakat serta kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mandacan mengatakan pembangunan Papua Barat tidak hanya dapat diukur melalui kemajuan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga harus menghasilkan masyarakat yang memiliki nilai moral, kepedulian sosial dan kehidupan spiritual yang baik.
Menurut dia, agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter, mengajarkan kebaikan, memperkuat solidaritas serta mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang damai, rukun dan saling menghormati.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat berkomitmen terus mendukung pembangunan bidang keagamaan sebagai bagian dari pembangunan manusia.
Mandacan juga menekankan bahwa keberagaman agama, suku, budaya dan tradisi merupakan kekayaan Papua Barat yang harus dijaga bersama.
Kepada 209 peserta yang diberangkatkan, Mandacan menitipkan tiga pesan. Pertama, menjaga kesehatan dan keselamatan serta mengikuti arahan panitia dan pendamping selama perjalanan. Kedua, memanfaatkan setiap tempat yang dikunjungi untuk memperdalam iman, melakukan refleksi dan memahami nilai-nilai sejarah keagamaan. Ketiga, menjaga nama baik Papua Barat selama berada di luar negeri.

Ia berharap seluruh peserta kembali ke Papua Barat dalam keadaan sehat dan membawa pengalaman spiritual yang dapat memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat.
Ziarah, menurut Mandacan, tidak berhenti ketika peserta meninggalkan tempat suci. Makna perjalanan justru harus diwujudkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat melalui sikap saling menghormati, kepedulian terhadap sesama serta komitmen menjaga toleransi, persaudaraan dan kerukunan umat beragama di Papua Barat.(abe)







