Jayapura, (18/9/2025) – Di sebuah sudut Base Camp Cemara, Sentani Timur, aroma kelapa parut yang dibakar bercampur dengan wangi gula aren menyeruak di udara. Dari balik asap tipis itu, tampak seorang anak muda Papua sibuk membalik adonan di atas nyala api. Dialah Naway Berend Rumateray, lelaki yang memilih keluar dari kursi tukang cukur untuk membangun mimpinya lewat sagu bakar—yang ia sebut dengan akronim sederhana: SABAR.

Podcast Kisah Inspiratif Naway “Sagu Bakar”, yang tayang di kanal YouTube Kopi Acem by HJK pada Rabu (20/8/2025), menyingkap perjalanan hidupnya. Naway, atau “Kakak Naway” sebagaimana ia akrab disapa, lahir dari seorang ibu asal Kampung Tablanunsu, Kabupaten Jayapura, dan ayah dari Nabire. Sebelum mengenal dunia bisnis, ia pernah berkeliling menjadi tukang pangkas rambut, bahkan sempat bekerja di sebuah barbershop di Padang Bulan, Abepura.

“Saya bosan kerja dengan orang. Bosan jadi budak di atas tanah sendiri,” ujarnya lirih, seakan menegaskan alasan mengapa ia berani banting setir.

Dari Rambut ke Sagu Bakar

Tanggal 24 Agustus 2024 menjadi tonggak. Bermodalkan uang tiga juta rupiah dan keyakinan penuh, Naway membuka lapak sagu bakar di Base Camp Cemara. Menu yang ditawarkannya tak sekadar roti tradisional dari sagu, melainkan kreasi penuh rasa: cokelat kacang, stroberi, keju, blueberry, hingga nanas dan alpukat. Harganya berkisar Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

Menu andalannya diberi nama Samarasta—akronim dari Sagu Mama Rasa Tambah—sebuah penghormatan pada cita rasa yang diwariskan ibunya. Selain sagu bakar, ia juga menjual sinole, makanan tradisional berbahan sagu dengan harga Rp15 ribu hingga Rp25 ribu.

Tak mudah mempertahankan usaha ini. “Kadang dagangan membusuk. Kadang orang ragu datang karena tempat ini distigma sebagai lokasi berkumpulnya OPM atau KKB,” kata Naway. Tapi ia memilih bertahan, sebab baginya, sagu adalah warisan neneknya dan masa depan anak-anak Papua.

Naway dan gerobak jualan sagu bakarnya yang berlokasi di Basecam Cemara Sentani Timur, Kamis (18/9/2025).(Foto : Son David)

Jejak dari Masa Kecil

Kenangan masa kecilnya ikut menuntun. Saat masih SD, ia sudah berjualan sagu bakar yang dikemas dalam toples dan dititipkan di warung-warung kecil. Uang hasil penjualan dipakai untuk jajan sekolah. Dari ibunya pula ia belajar berinovasi—menambahkan topping keju, cokelat, gula aren, atau kacang.

“Ah, Mama sagu ini kalau orang Papua mau makan, boleh,” kenangnya sambil tersenyum.

Ibunya kerap menerima pesanan dari kantor atau acara ibadah, dengan harga yang bisa mencapai Rp700 ribu per pesanan. Dari sanalah Naway belajar soal rasa, harga, dan nilai kerja keras.

Jalan ke Base Camp Cemara

Langkah Naway makin teguh ketika bertemu komunitas KPA (Kawasan Pelestarian Alam) dan Mapala USTJ. Dari perjumpaan itu, ia mendapat kabar akan ada event reggae memperingati ulang tahun Bob Marley. Ia menempuh perjalanan panjang dengan mobil pick-up dari Tablanunsu—berangkat pukul sebelas siang, tiba pukul sebelas malam—hanya untuk bisa ikut membuka lapak.

Dalam briefing sebelum acara, Naway memberanikan diri meminta izin kepada Jeremy Ohe, pemilik Base Camp Cemara, untuk berjualan secara permanen di lokasi itu. Jeremy mengiyakan, dan sejak saat itu, sagu bakar Naway menjadi bagian dari denyut ekonomi kecil di tempat tersebut.

“Kakak bilang, nanti kalau semua sudah jalan normal baru kita atur bagi hasil. Jadi aturan itu kami buat sendiri,” ujar Naway.

Pesan untuk Anak Muda Papua

Obrolan dengannya ditutup dengan sebuah renungan. Ia menegaskan bahwa anak muda Papua harus berani penasaran, harus mau mencoba hal baru, tetapi hanya pada hal-hal baik. “Hilangkan gengsi. Berkumpul, berpikir, dan kelola apa yang kita punya. Sumber daya alam kita ini berlimpah,” katanya.

Lalu ia menunduk sejenak, seperti mengingat pesan kakaknya.

“Adik, memulai dan mengakhiri itu gampang. Tapi mempertahankan, itu yang sulit.”

Sambil menatap sagu bakar di atas nyala api, Naway seakan mengukir tekadnya sekali lagi: sabar, tekun, dan bertahan di tanah sendiri.(*)

Reporter: Son David

 

Admin

Related Posts

Jayapura ( 22/1/2026) – Pagi itu, Jumat, 19 Desember 2025, Obhe di Kampung Dondai perlahan hidup oleh langkah-langkah kecil Mama-Mama Persekutuan Wanita (PW) GKI Imanuel. Satu per satu mereka datang,…

Jayapura (19/11/2025) — Pada akhir November nanti, GOR Cendrawasih Jayapura akan berubah menjadi ruang perjumpaan besar antara pelaku ekonomi kerakyatan dan teknologi finansial modern. Bank Mandiri menghadirkan Livin’ Fest Jayapura…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Wartawan Liput Masyarakat Adat dan Lingkungan, Raih Penghargaan Jurnalisme

  • By
  • Februari 2, 2026
  • 7 views
Wartawan Liput Masyarakat Adat dan Lingkungan, Raih Penghargaan Jurnalisme

Sulaman di Obhe: Ketekunan Mama-Mama Penjaga Danau

  • By
  • Januari 22, 2026
  • 4 views
Sulaman di Obhe: Ketekunan Mama-Mama Penjaga Danau

Jurnalis Papua Gelar Ibadah Natal dan Tahun Baru, Perkuat Kebersamaan dan Persaudaraan

  • By
  • Januari 22, 2026
  • 11 views
Jurnalis Papua Gelar Ibadah Natal dan Tahun Baru, Perkuat Kebersamaan dan Persaudaraan

Solidaritas Mahasiswa Papua Desak Tarik Militer dan Tolak Investasi dari Papua

  • By
  • Januari 21, 2026
  • 27 views
Solidaritas Mahasiswa Papua Desak Tarik Militer dan Tolak Investasi dari Papua

AWP Deklarasikan Festival Media Papua Tiap Dua Tahun

  • By
  • Januari 19, 2026
  • 15 views
AWP Deklarasikan Festival Media Papua Tiap Dua Tahun

Suku Khouw Ayapo Rayakan 74 Tahun Doa Syukur dan Launching Yayasan Khouw Bersatu Papua

  • By
  • Januari 2, 2026
  • 35 views
Suku Khouw Ayapo Rayakan 74 Tahun Doa Syukur dan Launching Yayasan Khouw Bersatu Papua