Usaha Ikan Asin Lohan Mama-Mama Kampung Asei Besar: Menjaring Peluang di Danau Sentani

Sentani,(17/9/2025) – Di Kampung Asei Besar, tepi Danau Sentani yang biru berkilau, dua mama-mama Papua tak lagi hanya menunggu turis datang membeli lukisan kulit kayu. Mereka kini menjemur harapan di terik matahari, di atas anyaman bambu yang dipenuhi ikan lohan.

Mama Delila Kagere mengingat betul aroma asin yang dulu pernah ia hirup pada 1980-an. Waktu itu, ia sering melihat pengusaha ikan asin di Sentani mengolah hasil tangkapan danau menjadi santapan kering gurih. Puluhan tahun kemudian, ingatan itu tak pudar. Ia mengajak saudaranya, Mama Yaneke Kagere, untuk menghidupkan kembali tradisi yang hampir hilang—mengolah ikan lohan menjadi ikan asin.

Berbekal jaring ikan dan dukungan dari Pemerintah Kampung Asei Besar bersama Samdhana Institute, pada Sabtu, 9 Agustus 2025, mereka memulai produksi perdana. Semua hasil jaring Mama Delila pagi itu digunakan. Sore harinya, 16 bungkus ikan asin siap dijual. “Kami senang, hasil pertama tidak sia-sia,” ujar Mama Delila dengan mata berbinar.

Kedua mama ini bukan orang baru dalam dunia kerja keras. Selain melaut di danau setiap subuh, mereka juga dikenal sebagai pengrajin lukisan kulit kayu (khombouw)—ikon seni khas Asei Besar yang memikat wisatawan mancanegara. Namun, arus turis yang datang kerap tak menentu. Hari-hari menunggu pembeli terasa panjang. Dari kegelisahan itulah lahir ide baru: mengolah waktu luang menjadi penghasilan tambahan.

“Duduk-duduk tunggu turis, sambil jaga ikan asin yang dijemur,” kata Mama Delila sambil tertawa kecil, seolah menunjukkan bahwa kesabaran bisa jadi lahan emas bila pandai membaca peluang. Apalagi bahan baku ikan lohan melimpah di Danau Sentani.

Kepala Kampung Asei Besar, Anthoneta Ohee, tak menutupi kebanggaannya. “Saya sangat mendukung usaha ini. Tinggal bagaimana mempromosikan supaya pasarnya lebih luas,” ujarnya. Ia berharap langkah dua mama ini jadi inspirasi bagi mama-mama lain di kampung. “Yang punya jaring, ayo bikin juga. Ikan lohan masih banyak,” tambahnya.

Harga satu bungkus ikan asin dipatok Rp15.000. Meski saat ini baru dipasarkan di lingkungan kampung dan Kalkhote, semangat wirausaha kedua mama itu tak surut. Mereka menamai usaha kecil ini Oheykiki, diambil dari nama perairan di antara Pulau Wayo dan Pulau Asei—sebuah simbol perjalanan menuju tujuan yang ingin dicapai.

“Kami produksi santai saja. Hari Sabtu begitu baru duduk belah ikan,” ujar Mama Delila, menekankan bahwa mereka ingin menikmati setiap proses dengan sukacita. “Yang penting rutin produksi,” katanya mantap.

Di tepi danau yang tenang, di antara anyaman kulit kayu dan kilauan air, Mama Delila dan Mama Yaneke perlahan menapaki jalan menjadi wirausahawan ikan asin. Sambil menunggu turis datang, mereka menjemur asa—membuktikan bahwa peluang selalu ada bagi yang mau melihatnya.(*)

Reporter : Astried

Admin

Related Posts

Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Perubahan pola makan, lingkungan, hingga cara masyarakat memperoleh makanan tidak hanya mengubah kebiasaan hidup. Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi komunitas mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh manusia,…

Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Seorang ibu datang dari kampung bersama empat anaknya untuk menukar tomat dengan mi instan. Kisah yang beredar melalui video TikTok itu menjadi salah satu pembuka materi Ahmad…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Dies Natalis ke-26, UNIPA Catat 16.445 Lulusan dan Siapkan Transformasi Menuju Universitas Riset 2035

  • By
  • November 3, 2026
  • 8 views
Dies Natalis ke-26, UNIPA Catat 16.445 Lulusan dan Siapkan Transformasi Menuju Universitas Riset 2035

Prof. Charlie Dorong UNIPA Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan di Papua

  • By
  • November 2, 2026
  • 11 views
Prof. Charlie Dorong UNIPA Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan di Papua

Bappeda Papua Barat dan Terra Abadi Papua Jajaki Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan

  • By
  • Oktober 27, 2026
  • 19 views
Bappeda Papua Barat dan Terra Abadi Papua Jajaki Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan

Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

  • By
  • Oktober 9, 2026
  • 23 views
Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

  • By
  • Oktober 6, 2026
  • 32 views
Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana

  • By
  • Oktober 5, 2026
  • 29 views
Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana