Tudepoint, Jayapura (10/8/2026) – Sekitar 10 muda-mudi Papua mengenakan pakaian adat menampilkan fragmen bertajuk: “Titipan Warisan Nenek Moyang” di malam peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia pada 9 Agustus, di Aula Asrama Liborang Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua.

Aktor perempuan mengenakan Martutiet, yang membungkus tubuh dari batas dada hingga kaki, dengan aksesori kalung manik-manik panjang dan mahkota sederhana nan alami dari anyaman daun. Dalam bahasa sehari-hari, martutiet juga biasa disebut kain tenun atau kain timor.

Sementara para aktor pria mengenakan matiet, berbahan kain merah polos, menutupi hanya sebagian tubuh sebatas pinggang. Dada mereka dihiasi kalung manik-manik dan mengenakan mahkota dari anyaman daun dan bulu burung. 

“Dulunya orang tua memakai [pakaian adat] dari kulit kayu. Kulit kayu berwarna putih, awalnya putih tapi makin lama dia berubah warna jadi coklat karena orang tua simpan di atap, dia kena asap,” kata mentor tari, Samuel Narai, kepada tudepoint di sela-sela acara Festival Film Papua ke-8, dimana Narai dan tim-nya diundang tampil pada Minggu (9/8/2026).

Samuel Narai.

Narai menjelaskan, beberapa dekade terakhir, martutiet dan matiet diakui dan digunakan sebagai pakaian adat masyarakat Papua dari wilayah kepala burung–atau dalam administrasi pemerintah mencakup Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya.

Berdasarkan cerita orang tuanya, Narai menjelaskan perubahan bahan pakaian adat dari bahan-bahan alami menjadi kain timor dan kain merah terjadi sejak daerah mereka didatangi orang luar, melalui agama dan perdagangan.

“Kemudian cawat yang digunakan sekarang mengikuti perkembangan. Pada saat itu misionaris-misionaris yang membawa penginjilan di situ, budaya luar masuk. Di situ sebagian besar orang tua sudah tidak menggunakan atau tidak membuat matiet dari kulit kayu lagi dengan kita ketemu kain,” katanya. 

Seiring perkembangannya, kain tersebut dipandang sebagai benda bernilai tinggi dan dijadikan sebagai alat barter.

“Dan kain ini sebenarnya barter untuk tukar barang dengan orang tua, makanya orang tua angkat itu jadikan sebagai budaya,” jelas Narai.

Kemudian martutiet–yang dikenal sebagai kain timor, pun dijadikan sebagai barang berharga.

Martutiet juga awalnya pakai kulit kayu.Tapi dengan perkembangan zaman, barter memakai kain timor. Dan kain itu juga orang bisa gunakan sebagai pembayaran mas kawin, acara adat-istiadat di Kabupaten Tambrauw tapi juga di [wilayah] kepala burung, papua barat, papua barat daya. Semua sudah fokus barter semua dengan kain timur. Untuk tarian, pembayaran juga sama,” kata Narai.

Pesan fragmen

Pada momen memperingati hari Masyarakat Adat Sedunia, Narai bersama kelompoknya mengajak semua orang terutama generasi muda untuk bangga terhadap warisan budaya dari wilayah adatnya masing-masing.

“Kita punya hutan, kita punya tanah, kita punya bahasa, kita punya pakaian adat, dan masih banyak lagi. Kita punya adat-istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang kita, oleh karena itu mari kita jaga. Sepakat e,” ajak salah satu aktor fragmen, disambut para peserta saat pentas fragmen: Titipan Warisan Nenek Moyang.

Pesan di atas disampaikan anak adat Papua dari Kabupaten Tambrauw di hadapan puluhan orang yang menyaksikan penutupan Festival Film Papua ke-8, di Aula Asrama Liborang Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua, Minggu (9/8/2026). FFP merupakan agenda tahunan Papua Voices–komunitas pembuat film dokumenter, berbasis di Jayapura, yang diselenggarakan selama tiga hari: 7-9 Agustus 2026.

Mentor tari, Samuel Narai menjelaskan, di tengah-tengah perkembangan zaman dan teknologi, kebanggaan terhadap budaya dan adat dinilai semakin menurun, terutama di kalangan generasi muda. 

Karenanya, melalui pakaian adat, tarian dan nyanyian, kelompoknya ingin mengajak semua orang Papua untuk cinta dan bangga terhadap budayanya. 

“Dalam tarian atau drama yang tadi dimainkan bercerita tentang bagaimana generasi zaman sekarang, ada yang sudah lupa dengan budayanya, pakaiannya, dan juga tanah adatnya sendiri. Dan juga ada yang sudah malu terhadap dia punya budaya, dan juga bahasa,” kata Narai.

“Kita jangan malu dengan kita punya pakaian adat kita karena ini menunjukkan jati diri kita. Kita harus menjaga dan melestarikan adat sebagai warisan leluhur,” kata Narai.

Bangga

Hentin Wabia dan Juventus Ajai.

Hentin Wabia, salah satu peserta fragmen mengaku bangga menjadi anak adat Tambrauw dan menampilkan fragmen tentang budaya.

“Saya bahagia di saat malam ini, kita bermain fragmen tentang budaya. Untuk itu, buat teman-teman jangan takut atau jangan bilang, ‘ah, saya pakai pakaian adat itu lucu,’ tidak boleh teman-teman,” pesan Wabia.

“Pakaian adat itu, su dari dulu, atau su dari nenek moyang kita. Kita tidak boleh membuang itu sia-sia. Tetapi kita harus mempertahankan budaya kita karena sekarang budaya-budaya lain dari luar merampas budaya kita dan membuang itu keluar,” sambungnya.

“Dan juga buat teman-teman sa mau titip pesan, jangan malu kalau kita punya rambut keriting, kulit hitam,” kata Wabia.

Hal senada disampaikan Juventus Ajai, peserta fragmen lainnya. 

“Hari ini saya bangga, hari ini hari yang bagus, pas hari masyarakat adat. Saya juga bangga saya pakai pakaian adat,” ujarnya.

Meski begitu, ada kesedihan dibalik semangatnya. 

“Hari ini juga saya sedih karena di Tambrauw banyak kejadian, banyak datang dengan perusahaan-perusahaan. Perusahaan jagung, dan perusahaan emas, minyak, mau datang untuk hancurkan kita,” ucap Ajai.

Di tengah ketakutan itu, Ajai berharap hutan di kampungnya tidak rusak.

“Semoga pemerintah bisa lindungi masyarakat adat. Perusahaan tidak boleh hancurkan hutan kami, rumah kami,” ujar Ajai. (Yulan)

 

Related Posts

Tudepoint, Manokwari(11/8/2026)  — Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si., FLS., mengingatkan pentingnya memastikan seluruh persiapan peluncuran Interfaith Rainforest Initiative…

Tudepoint, Manokwari(11/8/2026) – Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si., FLS., meminta para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan Pegawai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HAM DAN KEAMANAN

Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

  • Juli 4, 2026
  • 40 views
Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

  • Juli 4, 2026
  • 44 views
PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

  • Juli 3, 2026
  • 35 views
Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

  • Mei 15, 2026
  • 90 views
Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

  • Mei 13, 2026
  • 57 views
Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua

  • Mei 13, 2026
  • 118 views
Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua