Tanah Papua, Lumbung Atlet dan Seniman yang Belum Membangun Lumbungnya

Papua sering disebut gudang atlet. Papua juga dikenal sebagai tanah yang melahirkan musisi, penyanyi, penari, pemahat, pelukis, dan pekerja seni berbakat. Tetapi ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: kalau Papua memang gudang atlet dan seniman, di mana lumbung yang memelihara semua bakat itu?

Pertanyaan ini penting.

Sebab gudang dan lumbung adalah dua hal berbeda. Gudang hanya menunjukkan bahwa sesuatu tersedia. Lumbung memastikan sesuatu ditanam, dirawat, dipanen, disimpan, lalu memberi kehidupan.

Papua selama puluhan tahun melahirkan bakat. Yang belum cukup kuat dibangun adalah sistem yang membuat bakat itu tumbuh menjadi profesi, industri, dan sumber penghidupan.

Kita mengenal banyak nama atlet dari Papua yang mengharumkan daerah maupun Indonesia. Ada atlet atletik, sepak bola, dayung, bulu tangkis, dan berbagai cabang lainnya. Dalam seni pun demikian. Musik Papua hidup di kampung, gereja, sekolah, jalanan hingga panggung nasional. Seni ukir, tari, lukisan, kerajinan, film dan berbagai ekspresi budaya terus lahir.

Persoalannya bukan apakah orang Papua memiliki bakat.

Persoalannya adalah: setelah bakat itu ditemukan, ke mana mereka harus pergi?

Kita Terlalu Lama Membanggakan Bakat

Ada sesuatu yang perlu dikoreksi dari cara kita memandang keberhasilan orang Papua.

Setiap kali seorang atlet Papua memperoleh medali, kita bangga. Ketika penyanyi Papua tampil di panggung nasional, kita bangga. Ketika pesepak bola Papua masuk tim nasional, kita bangga.

Tetapi kebanggaan tidak sama dengan pembangunan.

Kita harus berani bertanya: berapa banyak anak Papua berbakat yang tidak pernah ditemukan? Berapa banyak pesepak bola potensial berhenti bermain karena tidak ada kompetisi berjenjang? Berapa banyak penyanyi berhenti berkarya karena tidak memiliki studio, produser, panggung dan pasar? Berapa banyak pelukis, pemahat, penari, fotografer, pembuat film dan pekerja kreatif Papua akhirnya mencari pekerjaan lain karena seni tidak dapat memberikan penghidupan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita kepada persoalan yang lebih mendasar: Papua membutuhkan lebih dari sekadar program olahraga dan kegiatan kesenian. Papua membutuhkan ekosistem.

Otonomi Khusus dan Ruang yang Belum Kita Optimalkan

Selama lebih dari dua dekade Otonomi Khusus, pembangunan Papua sangat kuat dibicarakan melalui pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi.

Pilihan itu dapat dimengerti. Papua memang menghadapi persoalan serius dalam bidang-bidang tersebut.

Namun pembangunan manusia tidak harus melihat sektor-sektor itu sebagai kotak yang berdiri sendiri.

Olahraga dapat menjadi pendidikan.

Seni dapat menjadi ekonomi.

Industri kreatif dapat menciptakan pekerjaan.

Prestasi olahraga dapat melahirkan profesi.

Ekosistem sepak bola, misalnya, tidak hanya membutuhkan sebelas pemain di lapangan. Ia membutuhkan pelatih, wasit, fisioterapis, dokter olahraga, analis pertandingan, fotografer, videografer, jurnalis, pengelola media sosial, desainer, petugas pertandingan, pengelola stadion, agen pemain, penyelenggara kompetisi, produsen jersey, transportasi, katering hingga UMKM di sekitar pertandingan.

Begitu pula musik.

Seorang penyanyi membutuhkan pencipta lagu, pemain musik, arranger, sound engineer, studio rekaman, videografer, fotografer, desainer grafis, promotor, manajer, penyelenggara konser, pengelola hak cipta, distributor digital dan berbagai profesi lainnya.

Artinya, ketika kita membangun seorang atlet atau seniman, sebenarnya kita dapat membangun rantai ekonomi di sekelilingnya.

Di sinilah paradigma pembangunan Papua perlu diperluas.

Seni dan olahraga jangan ditempatkan hanya sebagai kegiatan tambahan setelah urusan “pembangunan utama” selesai. Keduanya dapat menjadi bagian dari pembangunan utama itu sendiri.

Bayangkan Jika Papua Memiliki Sistemnya

Bayangkan sebuah sistem sepak bola Papua yang dimulai dari usia dini.

Di kampung dan distrik terdapat sekolah sepak bola. Kabupaten mempunyai liga usia 10, 12, 14, 16 dan 18 tahun. Kompetisi berlangsung setiap tahun dengan kalender yang pasti.

Data pemain tercatat.

Pelatih mendapatkan pendidikan kepelatihan.

Wasit dibina.

Talenta terbaik masuk akademi regional.

Sekolah dan klub bekerja sama sehingga seorang anak tidak harus memilih antara pendidikan dan sepak bola.

Pada tingkat provinsi terdapat kompetisi elite dan pusat olahraga dengan sport science.

Klub profesional menjadi ujung piramida.

Dengan sistem seperti itu, kita tidak lagi menunggu munculnya “anak ajaib”. Sistemlah yang mencari, menemukan dan membesarkannya.

Konsep serupa dapat diterapkan pada atletik, tinju, dayung, bulu tangkis dan cabang-cabang yang memiliki potensi sesuai karakteristik masing-masing wilayah.

Hal yang sama dapat dilakukan dalam seni.

Bayangkan setiap kabupaten memiliki ruang kreatif tempat anak muda belajar musik, produksi audio, film, tari, desain, fotografi dan seni rupa.

Kemudian ada festival kabupaten, festival provinsi, residensi seniman, bantuan produksi karya, studio bersama, pasar seni, platform digital dan jejaring promosi.

Karya tidak berhenti setelah festival selesai. Ia masuk pasar.

Di situlah seni berubah dari sekadar “acara” menjadi ekosistem.

Dari Anggaran Acara Menuju Investasi Ekosistem

Salah satu perubahan penting yang diperlukan adalah mengubah orientasi belanja.

Pemerintah daerah perlu mengevaluasi apakah anggaran olahraga dan kesenian lebih banyak menghasilkan kegiatan atau membangun sistem.

Festival tiga hari bisa penting.

Turnamen dua minggu bisa menggembirakan masyarakat.

Tetapi apa yang terjadi pada hari berikutnya setelah panggung dibongkar dan piala dibagikan?

Pertanyaan pembangunan seharusnya bukan hanya, “Berapa kegiatan yang telah dilaksanakan?”

Pertanyaannya harus berubah menjadi:

Berapa atlet yang dibina selama lima tahun?

Berapa pelatih yang memperoleh lisensi?

Berapa kompetisi usia muda yang berjalan konsisten?

Berapa seniman yang memperoleh penghasilan dari karya?

Berapa studio dan ruang kreatif yang aktif?

Berapa karya Papua yang masuk pasar nasional dan internasional?

Berapa pekerjaan baru yang tercipta dari ekonomi olahraga dan industri kreatif?

Itulah perbedaan antara membiayai acara dan membangun ekosistem.

Otonomi Khusus Seharusnya Berani Berpikir Khusus

Undang-undang Otonomi Khusus memberikan penekanan besar pada pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan Orang Asli Papua.

Tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar menghabiskan anggaran berdasarkan pos-pos tersebut.

Tujuan besarnya adalah manusia Papua yang memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya.

Karena itu, kita perlu berani memikirkan hubungan antarsektor.

Ketika seorang anak memperoleh penghasilan sebagai atlet profesional, keluarganya memperoleh manfaat ekonomi.

Ketika musisi hidup dari karya, seni telah menjadi ekonomi.

Ketika pemahat mempunyai pasar, pelestarian budaya sekaligus menjadi mata pencaharian.

Ketika klub sepak bola mempekerjakan puluhan orang, olahraga telah menciptakan lapangan kerja.

Ketika festival dikelola sebagai industri yang terhubung dengan pariwisata, UMKM dan ekonomi kreatif, seni telah ikut menggerakkan daerah.

Dengan cara pandang seperti itu, investasi terhadap seni dan olahraga tidak harus dipertentangkan dengan pendidikan, kesehatan ataupun ekonomi.

Ia dapat menjadi salah satu jalan menuju ketiganya.

Tetapi Jangan Terjebak Romantisme

Ada pula jebakan yang harus dihindari: menganggap semua anak Papua secara alamiah hebat dalam olahraga atau seni.

Anggapan seperti itu terdengar sebagai pujian, tetapi dapat berubah menjadi stereotip.

Prestasi tidak lahir hanya karena bakat atau identitas.

Prestasi membutuhkan nutrisi, pendidikan, fasilitas, kompetisi, pelatih berkualitas, ilmu pengetahuan, manajemen, perlindungan atlet dan kerja bertahun-tahun.

Karena itulah sistem jauh lebih penting daripada slogan “Papua gudang atlet”.

Bakat tanpa sistem adalah kebetulan.

Bakat dengan sistem adalah pembangunan.

Enam Provinsi, Satu Ekosistem Besar

Pemekaran Papua menjadi beberapa provinsi seharusnya membuka kesempatan baru untuk merancang ekosistem yang lebih dekat dengan karakter setiap wilayah.

Tidak semua daerah harus mengembangkan cabang olahraga atau industri seni yang sama.

Satu wilayah dapat menjadi pusat sepak bola. Daerah lain mengembangkan atletik. Wilayah pesisir dapat memperkuat olahraga air. Kota-kota dapat menjadi pusat industri musik, film, desain dan produksi digital. Wilayah dengan tradisi seni kuat dapat mengembangkan pusat seni rupa, kriya, tari dan kebudayaan.

Namun semuanya perlu dihubungkan.

Papua membutuhkan kalender kompetisi bersama.

Papua membutuhkan basis data atlet.

Papua membutuhkan pemetaan seniman dan pekerja kreatif.

Papua membutuhkan pusat pelatihan.

Papua membutuhkan ruang pertunjukan.

Papua membutuhkan industri pendukung.

Dan yang paling penting, Papua membutuhkan kebijakan jangka panjang yang tidak berubah setiap kali kepala daerah berganti.

Dari “Gudang” Menjadi Industri Talenta

Pemerintah daerah tidak harus mengerjakan semuanya sendiri.

Tugas pemerintah adalah menciptakan fondasi dan ekosistem: regulasi, infrastruktur dasar, pembinaan, insentif, perlindungan, pendidikan, akses pendanaan dan ruang tumbuh.

Klub, komunitas, sekolah, perguruan tinggi, gereja, lembaga adat, perusahaan, media dan sektor swasta dapat mengembangkan bagian lainnya.

Perguruan tinggi dapat mengembangkan sport science dan kajian industri kreatif.

Sekolah menjadi tempat pencarian bakat.

Media membangun pasar dan popularitas.

Perusahaan menjadi sponsor.

Komunitas menjadi tempat regenerasi.

Pemerintah memastikan semuanya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Karena sesungguhnya Papua tidak kekurangan bakat.

Yang perlu diperkuat adalah jalan yang membawa bakat itu dari kampung menuju panggung, dari lapangan tanah menuju stadion, dari sanggar kecil menuju industri, dan dari kegemaran menuju profesi.

Kita sudah terlalu lama bangga ketika seorang anak Papua berhasil menembus sistem yang tidak dibangun khusus untuk mendukungnya.

Sudah waktunya pertanyaan itu dibalik.

Bukan lagi: siapa atlet atau seniman Papua berikutnya yang akan muncul?

Tetapi: sistem seperti apa yang harus kita bangun agar ribuan anak Papua tidak perlu menunggu keberuntungan untuk menemukan masa depannya?

Sebab Papua tidak cukup hanya disebut lumbung atlet dan seniman.

Papua harus membangun lumbungnya sendiri.*)

( Alberth Yomo – Editor tudepoint.com )

Admin

Related Posts

Ketua KONI Papua Barat Harus Punya Filosofi Pembinaan, Bukan Membeli Prestasi

Oleh : Alberth Yomo   Dalam waktu dekat, Papua Barat akan memasuki momentum penting dalam dunia olahraga daerah: pemilihan Ketua Umum dan kepengurusan baru Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua…

Friendly Match Manokwari Old Star Ditutup, Asprov PSSI Papua Barat Siapkan Turnamen Usia 40 Tahun

Tudepoint, Manokwari(25/8/2026) — Friendly Match yang digelar Manokwari Old Star resmi ditutup Ketua Asprov PSSI Papua Barat, Faisal Kelian, Selasa (25/8/2026). Kegiatan yang mempertemukan empat tim mantan pemain sepak bola…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Tanah Papua, Lumbung Atlet dan Seniman yang Belum Membangun Lumbungnya

  • By
  • September 21, 2026
  • 7 views
Tanah Papua, Lumbung Atlet dan Seniman yang Belum Membangun Lumbungnya

Kuliah Tamu FMIPA UNIPA : Membaca Peradaban Papua dari Gen, Pangan dan Mikrobiota Usus

  • By
  • September 17, 2026
  • 30 views
Kuliah Tamu FMIPA UNIPA : Membaca Peradaban Papua dari Gen, Pangan dan Mikrobiota Usus

Peluncuran HONAI, Pdt. Andrikus Mofu: Ini Rumah Kita Perjuangkan Kemanusiaan

  • By
  • September 15, 2026
  • 25 views
Peluncuran HONAI, Pdt. Andrikus Mofu: Ini Rumah Kita Perjuangkan Kemanusiaan

Lis Tabuni Ajak Warga Papua Tengah Rawat Persatuan di Tengah Keberagaman

  • By
  • September 14, 2026
  • 2 views
Lis Tabuni Ajak Warga Papua Tengah Rawat Persatuan di Tengah Keberagaman

Koalisi Desak Pengusutan Teror Molotov terhadap Komnas HAM Papua, Jurnalis, dan Pekerja HAM

  • By
  • September 9, 2026
  • 19 views
Koalisi Desak Pengusutan Teror Molotov terhadap Komnas HAM Papua, Jurnalis, dan Pekerja HAM

PAPEDA Summit 2026 Dibuka di Sorong, Dorong Pembangunan Papua yang Berkelanjutan dan Berpihak pada Masyarakat Adat

  • By
  • September 2, 2026
  • 36 views
PAPEDA Summit 2026 Dibuka di Sorong, Dorong Pembangunan Papua yang Berkelanjutan dan Berpihak pada Masyarakat Adat