
Oleh : Alberth Yomo
Dalam waktu dekat, Papua Barat akan memasuki momentum penting dalam dunia olahraga daerah: pemilihan Ketua Umum dan kepengurusan baru Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua Barat.
Pemilihan ini seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang paling kuat mendapatkan dukungan organisasi olahraga. Lebih dari itu, pemilihan ini harus menjadi momentum untuk menentukan filosofi pembinaan olahraga Papua Barat untuk lima tahun ke depan atau setelah lima tahun.
Sebab persoalan olahraga Papua Barat bukan semata-mata bagaimana mendapatkan medali sebanyak-banyaknya dalam Pekan Olahraga Nasional (PON).
Persoalan yang lebih mendasar adalah: Dari mana medali itu berasal, bagaimana atlet itu dibentuk, dan sistem seperti apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya?
Pertanyaan tersebut penting karena selama beberapa PON terakhir, Papua Barat menggunakan atlet dari luar daerah untuk memperkuat kontingen dalam berbagai perhelatan PON. Dalam praktiknya, terdapat atlet yang sebelumnya ditempa dan dibina di daerah lain, kemudian memperkuat Papua Barat setelah melalui mekanisme mutasi atau perpindahan atlet.
Hal itu mungkin diperbolehkan dalam aturan kompetisi. Namun sesuatu yang diperbolehkan secara administratif belum tentu merupakan strategi terbaik untuk membangun olahraga daerah.
Di sinilah kita perlu berani membedakan antara memenangkan pertandingan dan membangun prestasi olahraga.
Medali bukan satu-satunya ukuran
Pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024, Papua Barat mencatat peningkatan dengan meraih 6 emas, 7 perak dan 16 perunggu. Capaian tersebut patut diapresiasi. Atlet dan pelatih yang bekerja keras untuk mendapatkan medali tentu layak mendapatkan penghormatan. (rri.co.id) Tetapi angka medali tidak boleh menjadi satu-satunya neraca keberhasilan KONI.
Kita perlu melihat proses di belakangnya. Berapa banyak atlet Papua Barat yang dibina sejak usia dini? Berapa banyak atlet yang lahir dari klub-klub lokal? Berapa banyak atlet yang berasal dari kabupaten dan kota di Papua Barat? Berapa banyak atlet yang menjadi juara setelah bertahun-tahun ditempa di Papua Barat? Dan berapa banyak medali yang diraih oleh atlet yang baru didatangkan setelah sebelumnya dibina oleh provinsi lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan atlet dari luar Papua Barat.
Atlet adalah profesional olahraga. Mereka berhak mendapatkan kesempatan untuk bertanding dan mencari lingkungan pembinaan terbaik.
Yang harus dipertanyakan adalah kebijakan organisasi olahraga daerah yang terus mengandalkan atlet yang sudah jadi.
Prestasi instan versus fondasi jangka panjang
Mendatangkan atlet berprestasi dari luar daerah dapat memberikan hasil yang cepat. Seorang atlet yang sudah matang tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibentuk. Ia tinggal dipersiapkan, mengikuti pertandingan dan berusaha memenangkan medali.
Dari sudut pandang target jangka pendek, strategi ini terlihat efektif. Tetapi olahraga tidak boleh hanya dikelola dengan logika jangka pendek. Sebab membangun seorang juara berbeda dengan membeli jasa seorang juara.
Membeli jasa atlet yang sudah jadi mungkin menghasilkan medali. Tetapi membangun atlet sejak usia muda menghasilkan generasi. Perbedaan inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama Ketua KONI Papua Barat berikutnya.
Ketua KONI berikut harus memiliki filosofi pembinaan
Papua Barat membutuhkan Ketua KONI yang tidak hanya memiliki kemampuan lobi, jaringan politik dan kemampuan mendapatkan anggaran.
Papua Barat membutuhkan pemimpin olahraga yang memiliki filosofi pembinaan.
Filosofi tersebut harus sederhana:
Lebih baik membangun fondasi pembinaan yang kuat hari ini daripada mengejar prestasi instan dengan mendatangkan atlet dari luar daerah.
Konsekuensinya tentu tidak mudah.
Mungkin pada satu atau dua PON Papua Barat belum langsung masuk papan atas.
Mungkin jumlah medali justru turun.
Tetapi apabila dalam lima atau sepuluh tahun lahir atlet-atlet Papua Barat yang mampu menjadi juara nasional dan internasional, maka investasi tersebut jauh lebih berharga daripada puluhan medali yang diperoleh melalui perekrutan atlet yang sudah jadi.
Karena itu, Ketua KONI Papua Barat berikut harus berani menetapkan politik pembinaan. Bukan politik partai. Bukan politik kekuasaan.
Tetapi politik kebijakan olahraga yang menempatkan pembinaan atlet Papua Barat sebagai prioritas utama.
Berani mengatakan: cukup dengan ketergantungan atlet luar
Kita juga perlu berani membicarakan satu hal yang selama ini mungkin dianggap sensitif:
Papua Barat perlu mengurangi, bahkan dalam jangka panjang menghentikan, ketergantungan pada atlet dari luar Papua Barat. Bukan karena atlet luar tidak berkualitas.
Justru karena Papua Barat harus memiliki keberanian untuk membangun atletnya sendiri.
Jika setiap PON kita mencari atlet yang sudah matang dari daerah lain, kapan anak-anak Papua Barat mendapatkan kesempatan untuk menjadi juara?
Jika atlet terbaik selalu didatangkan dari luar, bagaimana klub-klub lokal berkembang?
Jika anggaran lebih banyak digunakan untuk mendapatkan atlet jadi, berapa banyak anggaran yang tersisa untuk pembinaan usia dini?
Dan jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, maka Papua Barat akan memiliki kontingen yang mungkin kompetitif, tetapi belum tentu memiliki ekosistem olahraga yang kompetitif. Itulah perbedaan yang sangat mendasar.
Atlet Papua Barat harus menjadi investasi
Bayangkan jika sebagian besar anggaran yang selama ini digunakan untuk mengejar prestasi jangka pendek dialihkan secara sistematis untuk pembinaan.
Sekolah-sekolah menjadi tempat pencarian bakat. Klub-klub menjadi pusat pembinaan. Kabupaten dan kota menjadi basis kompetisi. Pelatih lokal mendapatkan pendidikan dan sertifikasi. Atlet muda mendapatkan nutrisi dan fasilitas latihan. Kompetisi usia dini berlangsung rutin. Data atlet dibangun sejak awal. Talenta terbaik kemudian masuk dalam sistem pembinaan provinsi.
Lima tahun pertama mungkin belum menghasilkan banyak medali.
Tetapi sepuluh tahun kemudian, Papua Barat bisa memiliki generasi atlet yang benar-benar lahir dari sistem sendiri.
Itulah investasi olahraga yang sesungguhnya.
Jangan mengukur keberhasilan hanya dari PON
PON memang penting. Tetapi PON seharusnya menjadi ujian terhadap sistem pembinaan, bukan alasan utama mengapa sistem pembinaan itu dibuat.
Jika PON menjadi tujuan utama, maka segala cara yang menghasilkan medali akan terlihat menarik. Termasuk mencari atlet yang sudah jadi.
Tetapi jika pembinaan menjadi tujuan utama, PON hanya menjadi salah satu tahapan untuk mengukur keberhasilan sistem.
Cara pandangnya berubah. Bukan: “Berapa medali yang kita dapat?” Tetapi: “Berapa banyak atlet Papua Barat yang berhasil kita lahirkan?” Bukan: “Siapa atlet terbaik yang bisa kita datangkan?” Tetapi: “Siapa anak Papua Barat yang memiliki potensi menjadi atlet terbaik dan bagaimana kita membinanya?” Perubahan cara berpikir inilah yang dibutuhkan.
Politik dan olahraga
Di sinilah persoalan politik kembali relevan.
Jabatan Ketua KONI memiliki akses kepada jaringan olahraga yang luas. Kegiatan olahraga juga mampu mengumpulkan masyarakat dalam jumlah besar.
Turnamen, pembukaan pertandingan, penyerahan hadiah dan berbagai kegiatan olahraga dapat menjadi ruang pertemuan antara pengurus, pejabat dan masyarakat.
Semua itu sah apabila dilakukan untuk kepentingan olahraga.
Tetapi ketika pengurus memiliki kepentingan politik, harus ada batas yang jelas agar sumber daya olahraga tidak berubah menjadi instrumen politik praktis.
Anggaran olahraga adalah uang publik.
Karena itu, manfaat utamanya harus kembali kepada publik, terutama atlet.
Jangan sampai kegiatan olahraga menghasilkan popularitas bagi pengurus, sementara atlet hanya menjadi latar belakang.
Ketua KONI bukan pengumpul medali
Pemimpin KONI Papua Barat berikutnya harus berani keluar dari paradigma lama.
Ketua KONI tidak boleh hanya dinilai dari kemampuannya mendapatkan medali.
Ia harus dinilai dari kemampuannya membangun sistem yang membuat Papua Barat mampu menghasilkan atlet sendiri. Ia harus berani mengatakan kepada masyarakat:
“Kita mungkin tidak langsung mendapatkan banyak medali. Tetapi kita akan membangun sistem agar anak-anak Papua Barat menjadi juara.”
Pernyataan seperti itu mungkin tidak populer. Politik olahraga sering menginginkan hasil cepat. Masyarakat ingin melihat medali. Pemerintah ingin menunjukkan keberhasilan. Pengurus ingin mempertanggungjawabkan target.
Tetapi pemimpin yang berpikir jauh ke depan harus berani mengambil risiko untuk sesuatu yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Itulah kepemimpinan olahraga.
Fondasi lebih penting daripada gedung
Papua Barat tidak membutuhkan sekadar kontingen yang kuat setiap empat tahun. Papua Barat membutuhkan fondasi olahraga yang kuat setiap hari. Sebab PON datang dan pergi. Pengurus berganti. Ketua berganti. Pemerintahan berganti. Partai politik berganti. Tetapi sistem pembinaan yang baik dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Itulah yang seharusnya menjadi warisan Ketua KONI Papua Barat. Bukan sekadar jumlah medali. Bukan sekadar banyaknya event. Bukan sekadar besarnya anggaran. Tetapi berapa banyak anak Papua Barat yang menemukan jalan menjadi atlet karena sistem yang dibangun oleh kepengurusan tersebut.
Pemilihan kali ini harus memilih filosofi
Karena itu, menjelang pemilihan Ketua Umum KONI Papua Barat, pertanyaan publik seharusnya tidak hanya: “Siapa yang akan menang?” Tetapi: “Apa filosofi pembinaan yang dibawa?”
Apakah kandidat akan melanjutkan pola mengejar medali dengan merekrut atlet yang sudah jadi? Ataukah berani membangun fondasi pembinaan atlet Papua Barat meskipun hasilnya tidak langsung terlihat?
Apakah ia berani mengurangi ketergantungan pada atlet luar? Apakah ia bersedia menjadikan pembinaan usia dini sebagai prioritas? Apakah ia berani mengalokasikan anggaran lebih besar untuk klub, pelatih dan atlet muda daripada kegiatan yang bersifat seremonial?
Dan apakah ia bersedia membuka kepada publik berapa besar anggaran yang digunakan untuk pembinaan atlet Papua Barat dibandingkan dengan perekrutan atlet dari luar?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu akan menunjukkan apakah seseorang benar-benar datang untuk membangun olahraga atau hanya untuk memimpin organisasi olahraga.
Karena juara tidak lahir menjelang PON
Seorang juara tidak lahir ketika PON dimulai. Ia lahir bertahun-tahun sebelumnya. Di lapangan kampung. Di sekolah. Di klub kecil. Dalam latihan yang tidak diliput media. Dalam perjuangan orang tua membeli sepatu. Dalam kesetiaan seorang pelatih mendampingi anak didiknya. Dan dalam sebuah sistem yang percaya bahwa anak daerah sendiri layak mendapatkan kesempatan.
Karena itu, Papua Barat harus berhenti berpikir bahwa prestasi hanya berarti membawa pulang medali. Prestasi yang sesungguhnya adalah ketika Papua Barat mampu melahirkan juara dari tanahnya sendiri.
Jika untuk mendapatkan medali kita harus terus membeli atlet yang telah dibina daerah lain, maka kita mungkin memenangkan pertandingan. Tetapi kita belum tentu memenangkan masa depan olahraga Papua Barat.
Ketua KONI Papua Barat berikutnya harus memilih: mengejar medali hari ini atau membangun juara untuk masa depan. Pilihan itu bukan sekadar soal olahraga. Itu adalah pilihan tentang warisan apa yang ingin ditinggalkan kepada generasi muda Papua Barat.*
( Redaktur tudepoint.com )







