Menjemput Ilmu di Kebun Modern: Cerita Kunjungan Belajar Mama-Mama Hobong, Asei Besar, dan Ifaar Besar

Sentani,(22/8/2025) – Jumat pagi, 22 Agustus 2025, embun di Kota Sentani belum sepenuhnya menguap saat delapan mama-mama dari Kampung Hobong, Asei Besar, dan Ifaar Besar melangkah mantap menuju Taman Agro Modern milik Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua di Yahim. Di wajah mereka tersirat rasa ingin tahu—seperti hendak memetik bukan hanya sayur, tetapi juga ilmu.

Kunjungan belajar ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pelatihan yang telah mereka jalani sebelumnya. Pada 25 Juli 2025, mama-mama ini lebih dulu belajar membuat Pupuk Organik Cair (POC), mengelola hidroponik sistem sumbu dari botol bekas, hingga merangkai makrame gantungan pot di Hena Community Learning Center (CLC). Kali ini, mereka datang untuk mendalami hortikultura—agar halaman rumah tak lagi kosong, tapi jadi sumber pangan.

Sesampainya di lokasi, mereka disambut hangat oleh Dr. Aser Rouw, S.P., M.Si, Kepala BRMP Papua, bersama jajarannya. “Siapa pun yang datang kepada kami, kami terima. Apa pun yang bisa kami bagikan, akan kami berikan,” ucap Aser Rouw sambil menatap para mama dengan senyum tulus. “Apalagi yang datang adalah mama-mama yang ingin memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayur.”

Mama-mama dari ketiga kampung itu saat melihat Taman Agro Modern milik Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua di Yahim.

Ucapan itu bukan sekadar basa-basi. BRMP Papua telah menyiapkan bibit cabai, terong, dan tomat sejak sebulan sebelumnya untuk diberikan kepada mama-mama yang belajar hari itu. Bagi mereka, bibit itu bukan hanya benih tanaman, tetapi benih perubahan.

Setelah penyerahan bibit, Aser Rouw memperkenalkan tim penyuluhnya. “Kalau mama-mama mau konsultasi soal pupuk, hama, atau teknologi pertanian, silakan kemari. Ini wujud pelayanan kami untuk masyarakat,” ujarnya lagi, menegaskan bahwa pintu kebun modern itu selalu terbuka.

Ditemani staf BRMP, mama-mama beranjak ke taman yang berada tepat di depan gedung pertemuan. Hamparan sayur yang ditata rapi menyambut mereka. Ada rasa kagum yang tampak dari cara mereka melangkah pelan, berhenti untuk mengamati, lalu kembali maju menyusuri bedengan demi bedengan. Sesekali tangan mereka terulur, meraba daun yang hijau dan segar, seolah ingin memastikan bahwa semua yang mereka lihat nyata.

Rasa ingin tahu pun segera pecah dalam tanya-jawab. “Kenapa tanaman cabai yang saya tanam buahnya tidak banyak?” tanya Mama Rina Kristina Puhiri dari Asei Besar, yang rupanya sudah menyiapkan pertanyaan itu sejak di kampung. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir: tentang cara menyiram yang tepat, pupuk yang sesuai, hingga masa panen yang ideal.

Ludia Sokoy Kabey, Ketua PKK Kampung Hobong, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. “Mama rasa senang sekali belajar tentang cara tanam dan cara merawat sayur,” katanya sambil tersenyum lebar. “Di kampung, PKK Hobong baru tanam sekali, itu pun siramnya hanya begitu-begitu saja. Ke depan kami akan terus tanam. Ilmu ini berguna untuk jawab kebutuhan dapur.”

Hari belajar itu ditutup dengan kegembiraan kecil: panen terong sepuasnya. Sorak tawa mama-mama terdengar di sela derik burung siang. Mereka pulang membawa lebih dari sekadar keranjang sayur—mereka pulang dengan semangat baru untuk mengubah pekarangan menjadi ladang harapan.

Di balik kunjungan belajar ini, ada cerita sederhana tentang keinginan untuk mandiri dan menyiapkan pangan keluarga dari tanah sendiri. Di wajah-wajah mama yang ceria itu, kita melihat masa depan yang hijau, yang lahir dari tangan-tangan yang tak pernah lelah belajar.(*)

Reporter : Astried

 

Admin

Related Posts

Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Perubahan pola makan, lingkungan, hingga cara masyarakat memperoleh makanan tidak hanya mengubah kebiasaan hidup. Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi komunitas mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh manusia,…

Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

Manokwari, Tudepoint(27/9/2026) — Seorang ibu datang dari kampung bersama empat anaknya untuk menukar tomat dengan mi instan. Kisah yang beredar melalui video TikTok itu menjadi salah satu pembuka materi Ahmad…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Dies Natalis ke-26, UNIPA Catat 16.445 Lulusan dan Siapkan Transformasi Menuju Universitas Riset 2035

  • By
  • November 3, 2026
  • 8 views
Dies Natalis ke-26, UNIPA Catat 16.445 Lulusan dan Siapkan Transformasi Menuju Universitas Riset 2035

Prof. Charlie Dorong UNIPA Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan di Papua

  • By
  • November 2, 2026
  • 11 views
Prof. Charlie Dorong UNIPA Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan di Papua

Bappeda Papua Barat dan Terra Abadi Papua Jajaki Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan

  • By
  • Oktober 27, 2026
  • 19 views
Bappeda Papua Barat dan Terra Abadi Papua Jajaki Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan

Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

  • By
  • Oktober 9, 2026
  • 23 views
Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

  • By
  • Oktober 6, 2026
  • 32 views
Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana

  • By
  • Oktober 5, 2026
  • 29 views
Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana