Koalisi Masyarakat Sipil Desak Pengusutan Tuntas Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Jakarta(14/3/2026) — Koalisi masyarakat sipil mengecam keras serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, yang terjadi pada Jumat dini hari, 13 Maret 2026 di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Serangan tersebut menyebabkan Andrie mengalami luka bakar serius pada sekitar 24 persen tubuhnya, termasuk pada bagian wajah, mata, dada, serta kedua tangan. Peristiwa itu terjadi sesaat setelah Andrie menyelesaikan perekaman siniar (podcast) bertema remiliterisasi dan judicial review Undang-Undang TNI di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dua orang pelaku mendekati korban dengan sepeda motor sebelum menyiramkan cairan kimia berbahaya ke arah tubuh Andrie. Setelah melakukan aksinya, kedua pelaku langsung melarikan diri dari lokasi kejadian.

Koalisi masyarakat sipil menilai serangan tersebut menunjukkan indikasi kuat sebagai tindakan yang direncanakan secara terorganisir. Cara pelaku menyiramkan cairan kimia langsung ke bagian tubuh vital korban dinilai mengarah pada dugaan percobaan pembunuhan berencana.

“Serangan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan bentuk intimidasi serius terhadap pembela hak asasi manusia,” demikian pernyataan koalisi dalam sikap resminya di Jakarta, Jumat (13/3).

Menurut koalisi, serangan terhadap Andrie Yunus tidak dapat dilepaskan dari aktivitasnya sebagai pembela HAM yang selama ini aktif mengkritik penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran HAM, serta penyempitan ruang sipil di Indonesia. Dalam beberapa hari sebelum kejadian, korban juga dilaporkan menerima sejumlah panggilan mencurigakan dari nomor tidak dikenal.

Selain itu, Andrie merupakan anggota Komisi Pencari Fakta (KPF) yang selama beberapa bulan terakhir melakukan investigasi independen terhadap rangkaian demonstrasi dan kerusuhan pada Agustus 2025. Laporan investigasi tersebut mengungkap sejumlah temuan, termasuk dugaan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat, penangkapan massal, serta kriminalisasi aktivis dan warga sipil.

Sebelumnya, Andrie juga dikenal vokal mengkritik proses pembahasan revisi Undang-Undang TNI yang dinilai tidak transparan. Pada Maret 2025, ia bersama sejumlah aktivis dari koalisi masyarakat sipil sempat melakukan aksi protes terhadap pembahasan tertutup rancangan undang-undang tersebut antara pemerintah dan DPR.

Koalisi masyarakat sipil menilai serangan terhadap Andrie merupakan bagian dari pola intimidasi terhadap pembela HAM di Indonesia. Jika seorang aktivis HAM dapat diserang secara brutal di ruang publik di ibu kota negara, hal itu menunjukkan rapuhnya perlindungan negara terhadap warga yang memperjuangkan keadilan.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga mengecam peristiwa tersebut dan menyatakan bahwa serangan terhadap Andrie Yunus merupakan pelanggaran atas hak atas rasa aman yang dijamin dalam konstitusi dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

Koalisi masyarakat sipil mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengungkap pelaku serta aktor intelektual di balik serangan tersebut. Mereka juga meminta negara memberikan perlindungan nyata kepada Andrie Yunus dan para pembela HAM lain yang menghadapi ancaman dan intimidasi.

Selain itu, koalisi menuntut negara memastikan pemulihan menyeluruh bagi korban, termasuk perawatan medis terbaik serta rehabilitasi bagi Andrie Yunus dan keluarganya.

Hingga Jumat sore, sedikitnya 175 organisasi masyarakat sipil dan 135 individu menyatakan solidaritas terhadap Andrie Yunus serta mendukung tuntutan pengusutan tuntas kasus tersebut.

Koalisi menegaskan bahwa teror terhadap seorang pembela HAM merupakan ancaman bagi masyarakat sipil secara keseluruhan.

“Tidak boleh ada ruang bagi teror terhadap pembela HAM di negara yang mengaku sebagai negara demokrasi,” demikian pernyataan koalisi.(*)

 

Admin

Related Posts

PTUN Jayapura Tolak Gugatan Jalan 135 Kilometer Wanam–Muting di Merauke

Jayapura, Tudepoint(19/9/2026) – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura menolak gugatan lima warga terkait penerbitan Surat Keputusan Bupati Merauke mengenai kelayakan lingkungan hidup pembangunan jalan sepanjang 135 kilometer dari Wanam…

Koalisi Desak Pengusutan Teror Molotov terhadap Komnas HAM Papua, Jurnalis, dan Pekerja HAM

Jayapura, Tudepoint(9/9/2026) — Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua mendesak Presiden Republik Indonesia memerintahkan Kepala Kepolisian RI mengusut tuntas pelemparan bom molotov ke Kantor Komisi Nasional Hak Asasi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

  • By
  • Oktober 9, 2026
  • 14 views
Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

  • By
  • Oktober 6, 2026
  • 20 views
Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana

  • By
  • Oktober 5, 2026
  • 20 views
Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana

Dokter “Gila Bola” Itu Sudah Berdiri Depan Gerbang Asprov PSSI Papua Barat

  • By
  • Oktober 4, 2026
  • 26 views
Dokter “Gila Bola” Itu Sudah Berdiri Depan Gerbang Asprov PSSI Papua Barat

Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

  • By
  • September 27, 2026
  • 25 views
Transisi Gaya Hidup Ubah Mikrobiota Usus, Riset Ungkap Peran Pola Makan dan Lingkungan

Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras

  • By
  • September 27, 2026
  • 34 views
Ketika Papua Kaya Pangan, tetapi Bergantung pada Beras