Manokwari (20/5/2026)  — Tim peneliti dari MOCHTAR RIADY INSTITUTE FOR NANOTECHNOLOGY (MRIN) mempresentasikan rencana penelitian bertajuk “Pemetaan Dampak Migrasi Biologis dan Budaya Papua ke Daerah Wallacea” di Manokwari, Rabu(20/5/2026).

Presentasi penelitian dipimpin langsung oleh Ketua Tim Peneliti MRIN, Prof. dr. Herawati Sudoyo, MS, PhD. Presentase ini turut disaksikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Bappeda Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS, Wakil Rektor UNIPA Bidang Perencanaan dan Kerjasama, Dr. Yusuf Sawaki, Direktur RSUD Provinsi Papua Barat, dr. Arnoldus Tiniap, M.Epid, Antropolog UNIPA Adolof Ronsumbre, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, serta sejumlah akademisi dan peneliti dari UNIPA.

Gludhug Ariyo Purnomo, PhD, mewakili tim Peneliti MRIN, dalam presentasenya memaparkan, bahwa penelitian ini berfokus pada kajian hubungan antara keragaman genetik, bahasa, dan sejarah migrasi manusia di Papua Barat dan wilayah Wallacea. Dalam proposal penelitian dijelaskan bahwa Papua memiliki posisi penting dalam sejarah migrasi manusia modern sejak sekitar 50–60 ribu tahun lalu, ketika manusia bergerak dari Asia menuju paparan Sahul yang mencakup Papua dan Australia.

Gludhug menjelaskan bahwa penelitian dirancang dalam dua studi lapangan utama, yakni di Pegunungan Arfak, Kabupaten Manokwari, dan Kabupaten Fakfak, khususnya Semenanjung Onin. Kedua wilayah tersebut dipilih karena memiliki keragaman bahasa serta sejarah populasi yang berbeda dan dinilai penting dalam memahami dinamika migrasi manusia di Papua bagian barat.

Di Pegunungan Arfak, penelitian akan melibatkan pengambilan sampel genetik dari berbagai kelompok bahasa Papua seperti Meyah, Hatam, Manikion, dan Moskona, serta kelompok bahasa Austronesia seperti Wandamen dan Tanahmerah. Analisis dilakukan untuk memahami hubungan antara variasi genetik dan penggunaan bahasa di wilayah pedalaman Papua Barat.

Sementara di Fakfak, penelitian diarahkan untuk menelusuri jejak migrasi penutur bahasa Papua yang diduga menyebar hingga kawasan Timor, Alor, dan Pantar. Penelitian juga akan mengkaji hubungan antara migrasi manusia prasejarah dengan distribusi bahasa Papua di wilayah pesisir barat Papua.

Penelitian ini direncanakan berlangsung pada 13 hingga 20 Juli 2026 dan melibatkan sekitar 120 relawan dari berbagai suku di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Meski demikian, soal waktu penelitian ini akan disesuaikan dengan kesiapan tim dan proses administrasi lainnya.

Selain pengambilan sampel genetik, penelitian juga akan disertai wawancara terkait asal-usul keluarga, bahasa daerah, pola hidup, hingga pemeriksaan kesehatan dasar bagi peserta penelitian. Tim peneliti menegaskan bahwa pendekatan penelitian dilakukan melalui community engagement dengan melibatkan masyarakat, tokoh adat, dan pemangku kepentingan lokal.

Melalui penelitian ini, MRIN berharap dapat membangun basis data genetika populasi Papua yang lebih lengkap dan memperkuat pemahaman mengenai sejarah migrasi manusia, hubungan antarpopulasi, serta dinamika bahasa di Papua Barat dan Papua Barat Daya.

Usai presentase, tim MRIN juga mendapat sejumlah masukan dari audiens, diantaranya dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Bappeda Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS, Wakil Rektor UNIPA Bidang Perencanaan dan Kerjasama, Dr. Yusuf Sawaki, Direktur RSUD Provinsi Papua Barat, dr. Arnoldus Tiniap, M.Epid, Antropolog UNIPA Adolof Ronsumbre, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, serta masukan dari akademisi dan peneliti UNIPA.

Ketua Tim Peneliti MRIN, Prof. dr. Herawati Sudoyo, MS, PhD. menyampaikan apresiasi atas semua masukan yang diberikan. Pihaknya akan terus membangun diskusi dan komunikasi untuk memperkaya dan mempertajam kualitas penelitian ini.(abe)

Related Posts

Tudepoint,Manokwari(19/8/2026) — Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengusulkan tiga prinsip penyelarasan dalam memperbaiki hasil evaluasi pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Otonomi Khusus (Musrenbang Otsus) 2026. Langkah itu dinilai penting agar perbaikan…

Tudepoint, Manokwari(19/8/2026) — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menyoroti masih rendahnya keselarasan program dan subkegiatan yang diusulkan melalui dana Otonomi Khusus dengan Rencana Aksi Percepatan Pembangunan Papua (RAPPP) 2025–2029. Di Provinsi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HAM DAN KEAMANAN

Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

  • Juli 4, 2026
  • 50 views
Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

  • Juli 4, 2026
  • 50 views
PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

  • Juli 3, 2026
  • 42 views
Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

  • Mei 15, 2026
  • 103 views
Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

  • Mei 13, 2026
  • 63 views
Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua

  • Mei 13, 2026
  • 125 views
Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua