Dari Bukit Aumambe ke Tungku Api: Perjalanan Gerabah Abar

Sentani(31/10/2025) – Kampung Abar merupakan salah satu kampung wisata di Kabupaten Jayapura. Kampung ini dikenal dengan kerajinan gerabahnya. Butuh sekitar 20 menit perjalanan menggunakan speed boat untuk tiba di kampung ini dari Dermaga Yahim Sentani.

Sedikit tentang gerabah — gerabah merupakan benda yang dibuat dari tanah liat, bisa berupa peralatan rumah tangga maupun hiasan. Para pengrajin gerabah Kampung Abar biasanya membuat sempe, pot bunga, belanga ikan, cetakan sagu bakar, belanga tanah untuk merebus ramuan, asbak, tungku briket, dan lain-lain.

Kerajinan ini diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang Kampung Abar. Berdasarkan informasi dari Bapak Naftali Felle, Ketua Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional Titian Hidup, “Kerajinan ini sudah kami lakukan sejak zaman nenek moyang dulu, sekitar tahun 1809,” cerita Naftali.

Mengapa warga Kampung Abar menekuni kerajinan ini? Karena bahan bakunya tersedia di kampung, yaitu tanah liat yang terhampar di sepanjang perbukitan di belakang kampung. Hamparan tanah liat ini biasa disebut Aumambe. “Ada enam spot tanah liat yang biasa diambil oleh para pengrajin, tapi pada dasarnya tanah liat terhampar di sepanjang bukit,” kata Ekson Liboye, Kepala Kampung Abar, sambil mengarahkan telunjuknya ke arah bukit.

Berdasarkan penelusuran, butuh waktu sekitar 30 menit berjalan kaki menelusuri jalan setapak untuk sampai ke spot tanah liat terdekat. Perjalanan ini tidak terlalu berat; selain tidak begitu jauh, bukit yang dilewati juga tidak terjal. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan dengan pemandangan rerumputan hijau dan Danau Sentani dari atas bukit.

Bagaimana cara para pengrajin membawa tanah liat turun ke kampung? Dipikul. Tanah liat dimasukkan ke dalam karung, lalu dipikul. Ada yang dipikul sendiri oleh pengrajin, ada juga yang menggunakan jasa pemuda kampung.

Salah satu yang menarik adalah Marsina Pahabol (39 tahun), anggota kelompok pengrajin gerabah Titian Hidup. Ia memiliki caranya sendiri, yakni memikul tiga karung tanah liat seberat lima kilogram sekali jalan dengan menggunakan noken, turun menyusuri perbukitan hingga ke sanggar atau rumahnya.

Setelah mengambil tanah, para pengrajin biasanya merendamnya di dalam ember selama 5–10 menit, lalu menapisnya untuk memisahkan tanah liat dari kerikil. Setelah itu, tanah liat didiamkan selama dua minggu. Saat teksturnya masih terasa lembap, tanah liat sudah siap digunakan.

Tahapan ini berbeda dengan cara nenek moyang dulu. Berdasarkan cerita Naftali Felle (62 tahun), “Zaman dulu, setelah ambil tanah liat, tanah liat disebar di sekitar rumah. Setiap pagi disiram selama dua minggu, lalu dilakukan pemijatan dan pemisahan kerikil-kerikil. Setelah itu, ‘barang’ sudah siap digunakan,” tutur Naftali. “Cara ini sudah tidak kami gunakan lagi, apalagi sekarang bisa pakai mixer untuk lebih menghaluskan tanah liat sebelum ditapis,” tambahnya lagi.

Gerabah bukan hanya sebuah kerajinan biasa, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya warga Kampung Abar. Warisan ini terus dilestarikan oleh lima kelompok pengrajin yang ada di kampung, yaitu Titian Hidup, Hunuyo, Holey Narey, Roli Yauw, dan Yauw Enggo. Kehadiran kerajinan ini juga menjadi sumber peningkatan ekonomi bagi kelompok pengrajin maupun kampung secara keseluruhan.(*)

Reporter : Astried

 

Admin

Related Posts

Jurnalis Jayapura Gelar Doa dan Nyalakan 1.000 Lilin untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

Jayapura, Tudepoint(25/9/2026) — Puluhan jurnalis di Kota dan Kabupaten Jayapura menggelar doa bersama dan menyalakan 1.000 lilin sebagai bentuk solidaritas bagi lima jurnalis yang hingga kini belum ditemukan setelah hilang…

Koalisi Desak Pengusutan Teror Molotov terhadap Komnas HAM Papua, Jurnalis, dan Pekerja HAM

Jayapura, Tudepoint(9/9/2026) — Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua mendesak Presiden Republik Indonesia memerintahkan Kepala Kepolisian RI mengusut tuntas pelemparan bom molotov ke Kantor Komisi Nasional Hak Asasi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Dies Natalis ke-26, UNIPA Catat 16.445 Lulusan dan Siapkan Transformasi Menuju Universitas Riset 2035

  • By
  • November 3, 2026
  • 6 views
Dies Natalis ke-26, UNIPA Catat 16.445 Lulusan dan Siapkan Transformasi Menuju Universitas Riset 2035

Prof. Charlie Dorong UNIPA Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan di Papua

  • By
  • November 2, 2026
  • 10 views
Prof. Charlie Dorong UNIPA Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan di Papua

Bappeda Papua Barat dan Terra Abadi Papua Jajaki Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan

  • By
  • Oktober 27, 2026
  • 18 views
Bappeda Papua Barat dan Terra Abadi Papua Jajaki Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan

Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

  • By
  • Oktober 9, 2026
  • 22 views
Diantar Puluhan Legenda Perseman, Dokter Frans Resmi Daftar Calon Ketua PSSI Papua Barat

Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

  • By
  • Oktober 6, 2026
  • 31 views
Charlie Heatubun Resmi Dilantik sebagai Kepala Bappeda Papua Barat

Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana

  • By
  • Oktober 5, 2026
  • 28 views
Mnukwar FC Mulai Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, 35 Anak Ikuti Latihan Perdana