Yustinus Mirip: Lumpuh Sejak Kecil, Tapi Tidak untuk Menyerah

Sentani ( 31/10/2025) ,- Di tengah riuh tepuk tangan di aula wisuda Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani, seorang pria berusia 30 tahun duduk di kursi rodanya dengan senyum menahan haru. Namanya Yustinus Mirip, mahasiswa asal Kabupaten Intan Jaya yang hari Jumat itu(31/10/2025), menerima ijazah dengan predikat Cumlaude — lulusan terbaik dari seluruh rekan seangkatannya.

Sejak kecil, Yustinus hidup dengan kelumpuhan. Penyakit yang ia derita membuat kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya. Namun, tak satu pun hari dalam hidupnya ia jadikan alasan untuk menyerah.

“Saya termotivasi dari buku-buku dan dari orang-orang yang juga punya keterbatasan, tapi tetap bisa meraih gelar. Dari situ saya belajar bahwa selama Tuhan masih memberi napas, tidak ada kata terlambat untuk berjuang,” ujarnya dengan suara tenang, namun penuh keyakinan.

Perjalanan yang Tak Mudah

Perjalanan kuliah Yustinus di STAKPN Sentani bukan tanpa tantangan. Jarak yang jauh dari keluarga, keterbatasan mobilitas, dan kebutuhan hidup sehari-hari sering menjadi ujian berat. Namun di balik itu semua, tekad dan semangatnya menjadi penopang yang tak pernah goyah.

Ia tak hanya berjuang dalam ruang kelas. Di tengah keterbatasan fisik, Yustinus justru tampil sebagai pemimpin. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Ketua Persatuan Organisasi Mahasiswa (POM) yang menghimpun delapan sekolah teologi di Jayapura.

“Banyak teman bertanya kenapa saya pilih kuliah di STAKPN Sentani. Saya jawab, yang penting saya punya ilmu. Dengan ilmu, saya bisa memimpin bangsa Papua ini. Ternyata benar, Tuhan membuka jalan — saya dipercaya memimpin teman-teman dari delapan STT di Jayapura. Itu kebanggaan yang tidak ternilai,” katanya sambil tersenyum.

Pemimpin yang Dilatih oleh Rasa Sakit

Yustinus saat foto di aula STAKPN usai acara wisuda, Jumat(30/10/2025).

Dalam pandangan Yustinus, kepemimpinan sejati bukan diukur dari tubuh yang sempurna, melainkan dari jiwa yang tidak menyerah. Ia percaya, setiap orang yang mau berjuang akan diberi jalan oleh Tuhan — sekecil apa pun langkahnya.

Skripsi yang ia tulis pun mencerminkan pandangan hidupnya: “Strategi Pendampingan Pastoral Berbasis Rekonsiliasi bagi Masyarakat yang Terdapat Konflik Perang Suku.”
Karya itu bukan sekadar syarat kelulusan, tetapi juga cermin dari kerinduannya melihat Papua yang damai, di mana luka-luka sosial disembuhkan melalui pelayanan kasih dan rekonsiliasi.

“Saya membuktikan bahwa dalam hidup ini tidak ada yang mustahil. Kalau kita mau bergerak dan terus maju, Tuhan pasti menolong kita melewati semua tantangan,” ucapnya penuh keyakinan.

Pesan untuk Generasi Muda Papua

Ketika ditanya tentang pesan bagi generasi muda Papua, Yustinus berbicara dengan nada tegas. Katanya, masa depan Papua tidak akan berubah tanpa kejujuran, tanggung jawab, dan pendidikan yang sungguh-sungguh.

“Jangan belajar menipu. Orang tua sudah berjuang membiayai kuliah, jadi jangan sia-siakan. Fokuslah pada tujuan dan perjuangan. Semua orang punya masa depan, tidak ada kata terlambat. Papua butuh orang yang berpendidikan dan terdidik, bukan sekadar orang yang sekolah,” pesannya menutup percakapan.

Kisah yang Menginspirasi

Hari itu, Yustinus Mirip membuktikan bahwa ketekunan bisa menembus batas tubuh. Bahwa kursi roda bukan simbol kelemahan, melainkan takhta kecil bagi seorang pejuang ilmu.
Di balik senyum dan toga hitamnya, ada cerita panjang tentang keteguhan hati — tentang seorang anak muda dari pegunungan Papua yang tidak pernah berhenti percaya bahwa Tuhan bekerja di tengah keterbatasan.(*)

Reporter : Elwen

 

Admin

Related Posts

Kuliah Tamu FMIPA UNIPA : Membaca Peradaban Papua dari Gen, Pangan dan Mikrobiota Usus

Manokwari, Tudepoint(17/9/2026) — Untuk memahami perjalanan manusia Papua, jejaknya tidak hanya dapat dicari melalui catatan sejarah, bahasa, artefak, atau tradisi lisan. Sebagian jejak perjalanan panjang itu tersimpan di dalam tubuh…

Koalisi Desak Pengusutan Teror Molotov terhadap Komnas HAM Papua, Jurnalis, dan Pekerja HAM

Jayapura, Tudepoint(9/9/2026) — Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua mendesak Presiden Republik Indonesia memerintahkan Kepala Kepolisian RI mengusut tuntas pelemparan bom molotov ke Kantor Komisi Nasional Hak Asasi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Kuliah Tamu FMIPA UNIPA : Membaca Peradaban Papua dari Gen, Pangan dan Mikrobiota Usus

  • By
  • September 17, 2026
  • 22 views
Kuliah Tamu FMIPA UNIPA : Membaca Peradaban Papua dari Gen, Pangan dan Mikrobiota Usus

Peluncuran HONAI, Pdt. Andrikus Mofu: Ini Rumah Kita Perjuangkan Kemanusiaan

  • By
  • September 15, 2026
  • 21 views
Peluncuran HONAI, Pdt. Andrikus Mofu: Ini Rumah Kita Perjuangkan Kemanusiaan

Koalisi Desak Pengusutan Teror Molotov terhadap Komnas HAM Papua, Jurnalis, dan Pekerja HAM

  • By
  • September 9, 2026
  • 17 views
Koalisi Desak Pengusutan Teror Molotov terhadap Komnas HAM Papua, Jurnalis, dan Pekerja HAM

PAPEDA Summit 2026 Dibuka di Sorong, Dorong Pembangunan Papua yang Berkelanjutan dan Berpihak pada Masyarakat Adat

  • By
  • September 2, 2026
  • 32 views
PAPEDA Summit 2026 Dibuka di Sorong, Dorong Pembangunan Papua yang Berkelanjutan dan Berpihak pada Masyarakat Adat

PAPEDA Summit 2026 Digelar di Sorong, Dorong Ekonomi Regeneratif dan Perlindungan Alam Tanah Papua

  • By
  • September 1, 2026
  • 28 views
PAPEDA Summit 2026 Digelar di Sorong, Dorong Ekonomi Regeneratif dan Perlindungan Alam Tanah Papua

Hutan Papua Didorong Jadi Fondasi Ekonomi Hijau, Bukan Sekadar Sumber Bahan Mentah

  • By
  • Agustus 31, 2026
  • 27 views
Hutan Papua Didorong Jadi Fondasi Ekonomi Hijau, Bukan Sekadar Sumber Bahan Mentah