Enam Gubernur di Tanah Papua Deklarasikan Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan

Papua di titik krusial; Antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat lokal

Manokwari (13/2/2026) – Enam pemerintah provinsi di Tanah Papua menyepakati piagam kolaborasi untuk mempercepat pembangunan berkelanjutan. Kesepakatan ini ditandatangani dalam Pertemuan Gubernur se-Tanah Papua, yang digelar di Manokwari, Papua Barat, sebagai upaya mengelola wilayah tersebut sebagai satu kesatuan ekonomi, sosial, budaya, dan ekologis.

Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan M.Si, dalam sambutannya menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan sebelumnya antara Papua dan Papua Barat. “Karena adanya pemekaran provinsi menjadi enam, kita harus melanjutkan sinergi dan koordinasi,” ujar Mandacan, Kamis (13/2/2026).

Pertemuan ini dimulai sejak 2025 melalui rangkaian konsolidasi, dengan tujuan menyelaraskan arah pembangunan lintas provinsi sesuai visi Papua Emas 2041 dalam Rancangan Induk Pembangunan Papua (RIPP). Visi tersebut menekankan Tanah Papua yang maju, mandiri, dan bermartabat.

Foto bersama Gubernur Papua Barat, tampak Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, Ketua BP3OKP Provinsi Papua Pdt Albert Yoku, Ketua MRP Papua, Nerlince Wamuar, Prof. Charlie dan sejumlah Kepala OPD perwakilan 6 provinsi dan perwakilan para mitra pembangunan.

Tanah Papua dikenal sebagai benteng terakhir hutan hujan tropis utuh terbesar di Asia-Pasifik. Wilayah ini berada pada titik krusial untuk menyeimbangkan konservasi global dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Pemerintah Provinsi Papua Barat menginisiasi agenda ini melalui pendekatan “Joined-up Government”, yang memuncak pada pertemuan gubernur tersebut.

Mandacan menambahkan, kolaborasi ini terinspirasi dari 9 pesan Lembah Baliem. “Pertemuan ini diharapkan memperkuat koordinasi antarprovinsi, sejalan dengan semangat kerjasama melalui Asosiasi Gubernur se-Tanah Papua,” katanya.

Forum ini juga menjadi jembatan pertukaran pengetahuan antara komunitas ilmiah dan pengambil kebijakan, didukung riset serta solusi iklim berbasis alam. Harapannya, pengambilan keputusan stakeholder berorientasi jangka panjang dan berbasis bukti ilmiah, sejalan dengan visi Papua 2100 dan Deklarasi Manokwari.

Sinergi antara sains dan kebijakan dianggap kunci untuk melindungi keanekaragaman hayati Papua sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Momentum ini semakin relevan di tengah transisi pemerintahan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto, serta pasca-UNFCCC COP30 di Brasil. Tanah Papua diposisikan secara strategis untuk mengonversi komitmen global menjadi aksi nyata di lapangan.

Melalui Papua Delivery Unit (Badan Kolaborasi), hasil Konferensi Internasional Nature-based Climate Solutions (NbCS) akan dirangkum dan diintegrasikan ke dalam kesepakatan gubernur. Fokus utama adalah memperkuat komitmen politik enam provinsi dengan data ilmiah kredibel, mendorong pembangunan berkelanjutan dan ekonomi non-deforestasi.

Kegiatan ini bagian dari Konferensi Internasional ke-12 dan NbCS, yang mempertemukan sains, kebijakan, dan komitmen politik. Agenda bertujuan memperkuat kolaborasi lintas provinsi untuk melindungi alam sekaligus mendorong ekonomi berkelanjutan.

Sekilas Tanah Papua

Tanah Papua merupakan kawasan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, mencakup sekitar 39 juta hektare hutan dengan 80 persen masih utuh. Wilayah ini menyimpan 15 miliar ton karbon, berperan vital bagi iklim global, keanekaragaman hayati, dan kehidupan 250 kelompok masyarakat adat. Meski memiliki status otonomi khusus, Papua menghadapi tekanan deforestasi akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, food estate, dan infrastruktur.(*)

 

Admin

Related Posts

Dorong Kemandirian Ekonomi, Kepala Distrik Muara Serahkan Bantuan Sembako bagi Pembuka Lahan

Lanny Jaya – Dalam upaya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan sosial (bansos), Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distrik Muara, Liben Wenda, S.AP, mengambil langkah proaktif dengan memberikan dukungan bagi warga yang…

Sains Baru untuk Melindungi Kepala Burung Papua

Manokwari (15/3/2026) – Penelitian internasional menunjukkan ciri-ciri tumbuhan dapat membantu menentukan wilayah konservasi di Tanah Papua Di bentang hutan tropis yang luas di Semenanjung Kepala Burung, Papua Barat, masa depan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Dorong Kemandirian Ekonomi, Kepala Distrik Muara Serahkan Bantuan Sembako bagi Pembuka Lahan

  • By
  • Maret 26, 2026
  • 0
  • 1 views
Dorong Kemandirian Ekonomi, Kepala Distrik Muara Serahkan Bantuan Sembako bagi Pembuka Lahan

Cahaya Perubahan di Jayawijaya: Dana Desa Wujudkan Listrik di Kampung Yelelo, Warga Desak Infrastruktur Permanen

  • By
  • Maret 21, 2026
  • 0
  • 1 views
Cahaya Perubahan di Jayawijaya: Dana Desa Wujudkan Listrik di Kampung Yelelo, Warga Desak Infrastruktur Permanen

Polisi Bongkar Jaringan Suplai Senjata ke Pegunungan Papua

  • By
  • Maret 16, 2026
  • 0
  • 3 views
Polisi Bongkar Jaringan Suplai Senjata ke Pegunungan Papua

Sains Baru untuk Melindungi Kepala Burung Papua

  • By
  • Maret 15, 2026
  • 0
  • 7 views
Sains Baru untuk Melindungi Kepala Burung Papua

Koalisi Masyarakat Sipil Desak Pengusutan Tuntas Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

  • By
  • Maret 14, 2026
  • 0
  • 6 views
Koalisi Masyarakat Sipil Desak Pengusutan Tuntas Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras, Diduga Upaya Membungkam Pembela HAM

  • By
  • Maret 13, 2026
  • 0
  • 6 views
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras, Diduga Upaya Membungkam Pembela HAM