Tudepoint, Manokwari(11/8/2026)  — Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si., FLS., mengingatkan pentingnya memastikan seluruh persiapan peluncuran Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia Chapter Papua Barat berjalan matang, terutama karena kegiatan tersebut akan mempertemukan tokoh lintas agama, masyarakat adat, pemerintah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil.

Hal itu disampaikan Charlie saat menerima Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Hening Parlan, bersama jajaran IRI Indonesia di Kantor BRIDA Papua Barat, Fanindi, Manokwari, Selasa (11/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Charlie didampingi Kepala Bidang Sosial dan Pemerintahan BRIDA Papua Barat, Irianti Pasaribu, SE., M.Si. Pertemuan membahas kesiapan teknis dan substansi peluncuran IRI Indonesia Chapter Papua Barat di Manokwari, Kamis(13/8/2026).

Charlie mengatakan kegiatan tersebut memiliki arti penting karena melibatkan banyak pemangku kepentingan, terutama para pemimpin dan tokoh lintas agama. Karena itu, seluruh rangkaian acara perlu dipersiapkan secara detail sejak pembukaan hingga penutupan.

Ia meminta panitia mencermati susunan acara, keterlibatan setiap pihak, hingga hal-hal teknis lainnya sehingga peluncuran chapter dapat berlangsung tertib, sukses, dan meninggalkan kesan yang baik bagi peserta.

Menurut Charlie, perhatian terhadap detail menjadi penting karena kegiatan ini bukan sekadar seremoni peluncuran, tetapi menjadi momentum membangun komitmen bersama untuk menjaga hutan Papua.

Mengusung Tema “Hutan Suci – Masa Depan Bersama”

Peluncuran IRI Indonesia Chapter Papua Barat mengangkat tema “Hutan Suci – Masa Depan Bersama: Membangun Kolaborasi Lintas Iman untuk Keadilan Ekologis dan Perlindungan Hutan Papua.”

Pembentukan chapter tersebut dilatarbelakangi posisi penting hutan Papua sebagai salah satu bentang hutan hujan tropis yang masih tersisa dan memiliki nilai ekologis tinggi. Hutan menjadi habitat keanekaragaman hayati, penyimpan karbon dan pengatur tata air, sekaligus ruang hidup masyarakat adat.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Papua, hutan juga tidak semata-mata dipandang sebagai sumber daya alam. Hutan memiliki keterkaitan dengan identitas budaya, spiritualitas, pengetahuan lokal, serta keberlangsungan hidup masyarakat adat.

Di sisi lain, hutan Papua menghadapi berbagai tekanan, mulai dari perubahan tata guna lahan, aktivitas industri ekstraktif dan pertambangan, pembangunan infrastruktur, eksploitasi sumber daya alam hingga dampak perubahan iklim.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan IRI Indonesia mendorong pendekatan perlindungan hutan yang tidak hanya bertumpu pada aspek lingkungan dan kebijakan, tetapi juga melibatkan nilai moral dan keagamaan.

IRI Indonesia sebelumnya melakukan scoping dan assessment pengembangan chapter di Papua Barat dan Papua Barat Daya pada 2026. Proses tersebut dilakukan melalui konsultasi multipihak, wawancara, diskusi kelompok terarah dan observasi lapangan dengan melibatkan tokoh agama, masyarakat adat, pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil serta komunitas lokal.

Hasil assessment menunjukkan adanya dukungan terhadap pembentukan platform kolaborasi lintas iman yang dapat menghubungkan nilai spiritual, kearifan adat, pengetahuan ilmiah dan aksi kolektif untuk menjaga hutan serta memperkuat hak masyarakat adat.

Khusus di Papua Barat, kolaborasi tersebut juga memiliki pijakan sosial melalui filosofi Tiga Batu Tungku, yang menempatkan unsur agama, adat dan pemerintah sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Bukan Organisasi Baru

IRI Indonesia Chapter Papua Barat dirancang bukan sebagai organisasi baru, melainkan sebagai platform kolaborasi multipihak.

Platform ini akan mempertemukan tokoh agama, masyarakat adat, pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, perempuan, pemuda dan media untuk memperkuat perlindungan hutan, keadilan ekologis dan hak masyarakat adat melalui pendekatan berbasis nilai moral dan keagamaan.

Chapter tersebut diharapkan menjadi ruang dialog dan kerja sama sekaligus pusat pembelajaran dan penguatan kapasitas. Selain itu, chapter akan mendorong kampanye dan edukasi publik, advokasi serta dialog kebijakan, hingga berbagai aksi nyata untuk perlindungan hutan.

Program yang dikembangkan antara lain penguatan kapasitas melalui Interfaith Immersion Training, pendidikan lingkungan, kampanye publik serta aksi kolaboratif bersama organisasi keagamaan, masyarakat adat dan pemangku kepentingan lainnya.

Melalui pendekatan itu, tokoh agama diharapkan memiliki peran semakin besar dalam membangun kesadaran bahwa persoalan kerusakan hutan dan perubahan iklim bukan semata-mata persoalan ekologis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral manusia terhadap alam dan generasi mendatang.

Tokoh Lintas Agama hingga Masyarakat Adat

Peluncuran Chapter IRI Indonesia Papua Barat dirancang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Selain pemerintah daerah, kegiatan akan menghadirkan tokoh Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu serta unsur penghayat kepercayaan dan komunitas adat.

Sejumlah organisasi keagamaan, lembaga masyarakat adat, organisasi lingkungan, perguruan tinggi, kelompok perempuan dan organisasi masyarakat sipil juga masuk dalam unsur yang diundang.

Rangkaian kegiatan mencakup sambutan multipihak, peluncuran resmi chapter, pernyataan komitmen bersama untuk perlindungan hutan tropis dan masyarakat adat, paparan IRI Indonesia, pandangan tokoh agama Papua hingga penanaman pohon bersama.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, dijadwalkan terlibat dalam peluncuran Chapter IRI Indonesia Papua Barat bersama perwakilan agama, lembaga masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil dan unsur pemerintah.

Sementara Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Hening Parlan, dijadwalkan memberikan paparan mengenai pentingnya aktivasi Chapter IRI di Tanah Papua. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Papua Barat, Pdt. Sadrak Simbiak, juga dijadwalkan menyampaikan pandangan tokoh agama Papua.

Peluncuran tersebut diharapkan tidak berhenti pada deklarasi. Chapter diharapkan menghasilkan agenda prioritas serta rencana tindak lanjut yang dapat diterjemahkan menjadi kerja bersama dalam perlindungan hutan, penguatan hak masyarakat adat dan pembangunan berkelanjutan.

Melalui semangat “Hutan Suci – Masa Depan Bersama”, IRI Indonesia ingin menempatkan perlindungan hutan sebagai tanggung jawab bersama lintas agama, adat, pemerintah dan masyarakat.

Hutan Papua, dalam pendekatan tersebut, tidak hanya dilihat sebagai bentang alam yang harus dipertahankan, tetapi sebagai rumah bersama yang menyimpan nilai ekologis, budaya dan spiritual serta menjadi warisan bagi generasi mendatang.(abe)

Related Posts

Tudepoint, Manokwari(11/8/2026) – Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si., FLS., meminta para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan Pegawai…

Tudepoint, Jayapura (10/8/2026) – Sekitar 10 muda-mudi Papua mengenakan pakaian adat menampilkan fragmen bertajuk: “Titipan Warisan Nenek Moyang” di malam peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia pada 9 Agustus, di Aula…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HAM DAN KEAMANAN

Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

  • Juli 4, 2026
  • 39 views
Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

  • Juli 4, 2026
  • 44 views
PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

  • Juli 3, 2026
  • 35 views
Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

  • Mei 15, 2026
  • 89 views
Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

  • Mei 13, 2026
  • 56 views
Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua

  • Mei 13, 2026
  • 117 views
Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua