Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

JAYAPURA (13/5/2026) – Film dokumenter investigatif berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita telah beredar dan diperkenalkan kepada publik dengan membawa isu besar tentang perampasan tanah, eksploitasi sumber daya alam, hingga operasi militer di Papua. Film berdurasi 95 menit itu disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale.

Diproduksi oleh Media Jubi bersama Pusaka Bentala Rakyat, Watchdoc, Greenpeace, LBH Papua Merauke, dan Ekspedisi Indonesia Baru, film ini mempertanyakan satu isu yang selama ini dianggap sensitif: apakah Indonesia sedang menjajah Papua.

Dalam pernyataan sutradara, isu kolonialisme di Papua disebut bukan lagi sekadar narasi sejarah, melainkan praktik yang masih berlangsung hingga kini. Film ini menyoroti proyek konversi hutan dan tanah adat seluas 2,5 juta hektar di Papua Selatan untuk kepentingan lumbung pangan dan energi nasional. Proyek tersebut disebut sebagai deforestasi terencana terbesar dalam sejarah modern.

Film Pesta Babi merekam bagaimana proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu berjalan bersamaan dengan pengerahan ribuan aparat militer dan masuknya sedikitnya 2.000 alat berat ke wilayah adat masyarakat di selatan Papua. Para pembuat film menyebut proyek tersebut melibatkan puluhan perusahaan besar yang beroperasi di bawah label Proyek Strategis Nasional (PSN).

Cerita dalam film berfokus pada pengalaman masyarakat adat dari berbagai suku di Papua Selatan, seperti Marind, Yei, Awyu, dan Muyu. Mereka digambarkan menghadapi tekanan akibat pembukaan hutan, pembangunan perkebunan industri, hingga pembangunan fasilitas militer di wilayah adat mereka.

Salah satu tokoh yang diangkat dalam film adalah Yasinta Moiwend dari suku Marind. Ia dikisahkan terkejut ketika sebuah kapal besar membawa ratusan ekskavator dan dikawal aparat militer bersandar di kampungnya pada Mei lalu. Kedatangan alat berat itu menjadi awal dimulainya proyek konversi hutan berskala besar di wilayah mereka.

Tokoh lain, Vincen Kwipalo dari suku Yei, menemukan tanah marganya dipatok dengan tulisan “Tanah Milik TNI AD”. Di saat bersamaan, wilayah adatnya juga masuk dalam konsesi perusahaan perkebunan tebu.

Sementara itu, Franky Woro bersama komunitas Awyu di Boven Digoel melakukan perlawanan melalui pemasangan palang adat dan salib merah raksasa di area konsesi perusahaan dan wilayah operasi militer. Gerakan yang dikenal sebagai “Gerakan Salib Merah” itu disebut telah memasang sedikitnya 1.800 salib merah di berbagai wilayah Papua Selatan sebagai simbol penolakan terhadap perampasan tanah adat.

Para sutradara menyebut judul Pesta Babi dipilih karena memiliki makna penting dalam budaya masyarakat Papua dan Melanesia. Selain sebagai ritual adat, pesta babi dipandang sebagai simbol gerakan kebudayaan, keagamaan, dan politik masyarakat adat dalam menghadapi perampasan tanah, eksploitasi alam, deforestasi, dan militerisme.

Film ini juga menampilkan bagaimana masyarakat adat membangun jaringan solidaritas dan menempuh berbagai jalur perjuangan, mulai dari aksi hukum hingga perlawanan langsung di lapangan. Para pembuat film menyebut perjuangan tersebut merupakan upaya masyarakat Papua untuk mempertahankan ruang hidup dan menentukan masa depan mereka sendiri.

Melalui film dokumenter ini, para pembuatnya mengajak publik untuk kembali merefleksikan amanat pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.(*)

 

Admin

Related Posts

Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua

WAMENA(13/5/2026)  – Tim kuasa hukum keluarga almarhum Elki Wunungga dari Perkumpulan Pengacara Hak Asasi Manusia untuk Papua menilai penanganan kasus dugaan penembakan warga sipil oleh oknum anggota Polsek Bokondini, Kabupaten…

Enam Gubernur Se-Tanah Papua Sepakati “Kesepakatan Timika” untuk Percepatan Pembangunan Papua

TIMIKA(11/5/2026)  — Enam gubernur di Tanah Papua menandatangani “Kesepakatan Timika” dalam Forum Koordinasi Strategis Asosiasi Kepala Daerah Provinsi se-Tanah Papua yang berlangsung di Timika, Senin (11/5/2026). Kesepakatan itu menegaskan komitmen…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

  • By
  • Mei 13, 2026
  • 0
  • 1 views
Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua

  • By
  • Mei 13, 2026
  • 0
  • 3 views
Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua

Enam Gubernur Se-Tanah Papua Sepakati “Kesepakatan Timika” untuk Percepatan Pembangunan Papua

  • By
  • Mei 11, 2026
  • 0
  • 6 views
Enam Gubernur Se-Tanah Papua Sepakati “Kesepakatan Timika” untuk Percepatan Pembangunan Papua

Gubernur Papua Barat Daya Minta Fleksibilitas Dana Otsus dan Dukungan Nyata untuk DOB Papua

  • By
  • Mei 11, 2026
  • 0
  • 7 views
Gubernur Papua Barat Daya Minta Fleksibilitas Dana Otsus dan Dukungan Nyata untuk DOB Papua

Papua Barat Usulkan Penyesuaian Dana Otsus dan Fleksibilitas DBH Migas

  • By
  • Mei 11, 2026
  • 0
  • 8 views
Papua Barat Usulkan Penyesuaian Dana Otsus dan Fleksibilitas DBH Migas

Gubernur Papua Minta Jakarta Percayakan Pembangunan kepada Orang Papua

  • By
  • Mei 11, 2026
  • 0
  • 8 views
Gubernur Papua Minta Jakarta Percayakan Pembangunan kepada Orang Papua