
Manokwari, Tudepoint(17/9/2026) — Untuk memahami perjalanan manusia Papua, jejaknya tidak hanya dapat dicari melalui catatan sejarah, bahasa, artefak, atau tradisi lisan. Sebagian jejak perjalanan panjang itu tersimpan di dalam tubuh manusia—pada gen, pola pangan yang diwariskan antargenerasi, hingga komunitas mikroorganisme yang hidup di dalam usus.
Perspektif itulah yang mengemuka dalam kuliah tamu bertajuk “Menelusuri Jejak Peradaban Papua: Perspektif Genetika, Pangan, dan Mikrobiota Usus” yang digelar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Papua (UNIPA), Manokwari, Kamis(17/9/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. dr. Herawati Sudoyo, Ph.D, drh. Safarina G. Malik, MS, Ph.D, dan Ahmad Arif, M.Si. sebagai narasumber.
Herawati Sudoyo dan Safarina G. Malik berasal dari Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) dan Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia. Sementara Ahmad Arif merupakan penulis dan peneliti pangan dari Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia.
Pertemuan tiga perspektif tersebut menawarkan cara lain membaca Papua: manusia tidak dipisahkan dari tanah tempatnya hidup, makanan yang dikonsumsi, biodiversitas yang menopangnya, maupun perubahan lingkungan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Gen menyimpan perjalanan manusia Papua

Herawati Sudoyo menempatkan keragaman genetik sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami manusia Papua. Menurut dia, Papua tidak hanya memiliki kekayaan biodiversitas dan budaya, tetapi juga keragaman genetik manusia yang penting untuk dipelajari.
Genetika, dalam pandangan itu, tidak berdiri sendiri. Gen manusia terus berinteraksi dengan lingkungan, pola hidup dan jenis pangan yang dikonsumsi masyarakat. Karena itu, pembicaraan mengenai kesehatan tidak cukup berhenti pada pertanyaan tentang penyakit dan cara mengobatinya.
Kajian juga perlu melihat siapa manusianya, bagaimana lingkungan tempat mereka hidup berubah, dan bagaimana perubahan pola pangan ikut memengaruhi kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pendekatan tersebut membuat genetika bukan semata pembicaraan mengenai DNA. Gen dapat menjadi salah satu jalan ilmiah untuk menelusuri perjalanan populasi dan interaksi manusia dengan lingkungan dalam rentang waktu yang panjang.
“Papua bukan hanya memiliki keragaman hayati dan budaya, tetapi juga keragaman genetik manusia yang sangat penting untuk dipahami,” kata Herawati.
Perspektif genetika itu kemudian bertemu dengan dua unsur lain dalam kuliah tamu tersebut: pangan dan mikrobiota. Ketiganya membawa pembicaraan dari masa lalu menuju persoalan kesehatan masyarakat pada masa kini.
Pangan lokal bukan sekadar makanan

Pangan menjadi bagian penting karena makanan tidak pernah hanya berfungsi menghilangkan lapar. Di dalam pangan tersimpan pengetahuan mengenai lingkungan, cara manusia beradaptasi, kebudayaan, serta hubungan masyarakat dengan sumber daya alam di sekitarnya.
Papua memiliki beragam sumber pangan tradisional. Umbi-umbian, buah, sayuran, ikan dan sumber pangan lainnya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama beberapa generasi.
Herawati mengingatkan pangan lokal tersebut merupakan bagian dari ekosistem kesehatan masyarakat, bukan sekadar peninggalan budaya.
Pandangan itu menjadi penting ketika perubahan lingkungan berjalan bersamaan dengan perubahan pola konsumsi.
Ketika biodiversitas menyusut dan pola makan masyarakat berubah, yang berpotensi hilang bukan hanya spesies tumbuhan atau sumber pangan tertentu. Pengetahuan tentang bagaimana pangan diperoleh, diolah dan dikonsumsi juga dapat ikut menghilang.
“Masyarakat juga berpotensi kehilangan pengetahuan dan budaya pangan serta salah satu lapisan penting yang selama ini mendukung kesehatan dan kesejahteraan,” demikian pokok pandangan Herawati dalam kuliah tersebut.
Dengan demikian, mempertahankan keragaman pangan memiliki dimensi yang lebih luas. Di dalamnya terdapat persoalan biodiversitas, budaya, kesehatan dan keberlanjutan pengetahuan masyarakat.
Dari makanan menuju mikrobiota usus
Perspektif mikrobiota usus memperluas pembacaan tersebut sampai ke dalam tubuh manusia.
Tema kuliah tamu memang sengaja mempertemukan genetika, pangan dan mikrobiota usus sebagai beberapa pintu masuk untuk membaca sejarah serta perjalanan masyarakat Papua.
Dalam kerangka tersebut, makanan dapat dilihat sebagai salah satu penghubung antara lingkungan dengan tubuh. Apa yang tersedia di alam memengaruhi apa yang dimakan masyarakat; pola konsumsi kemudian menjadi bagian dari interaksi kompleks yang berlangsung di dalam tubuh manusia.
Karena itulah perubahan pola konsumsi menjadi persoalan yang layak mendapat perhatian penelitian. Pergeseran dari keragaman pangan tradisional menuju pola konsumsi yang berbeda tidak hanya menyentuh aspek ekonomi atau kebudayaan, tetapi membuka pertanyaan ilmiah mengenai perubahan yang menyertainya pada kesehatan manusia.
Kuliah tamu tersebut pada akhirnya memperlihatkan mengapa genetika, lingkungan, pangan dan kesehatan tidak tepat dipahami secara terpisah. Herawati menilai interaksi di antara faktor-faktor tersebut ikut membentuk kondisi kesehatan manusia sehingga membutuhkan penelitian lintas disiplin.
Papua bukan hanya objek penelitian

Ada pesan lain yang mengemuka dari pertemuan ilmiah tersebut: Papua tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai lokasi atau objek penelitian.
Keragaman manusia, lingkungan, biodiversitas dan sistem pangannya justru menjadikan Papua ruang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
“Semoga diskusi hari ini membantu kita melihat Papua bukan hanya sebagai wilayah dengan persoalan kesehatan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan penting bagi Indonesia bahkan global tentang bagaimana manusia, tanah, lingkungan dan evolusi saling berhubungan,” kata Herawati.
Cara pandang itu juga membawa konsekuensi bagi perguruan tinggi di Papua. Produksi pengetahuan mengenai Papua membutuhkan keterlibatan universitas, peneliti dan terutama generasi muda Papua.
Herawati secara khusus menempatkan mahasiswa sebagai generasi yang kelak melanjutkan pengembangan ilmu pengetahuan tersebut.
Artinya, penelitian tentang genetika manusia Papua, pangan lokal, biodiversitas maupun kesehatan masyarakat idealnya tidak berhenti pada kehadiran peneliti dari luar. Kapasitas akademisi dan mahasiswa Papua untuk terlibat dalam produksi pengetahuan mengenai masyarakat dan wilayahnya sendiri juga perlu diperkuat. Dalam materi kegiatan, posisi perguruan tinggi dan generasi muda Papua memang ditekankan sebagai bagian penting dalam produksi pengetahuan tentang Papua.
Dari laboratorium menuju kebijakan
Persoalan berikutnya adalah bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan BRIDA Papua Barat, Haerul Arifin, S.Hut., M.Si., yang mewakili Kepala BRIDA Papua Barat, mengatakan pemerintah daerah membutuhkan kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian karena kapasitas penelitian tidak dapat dibangun oleh satu institusi saja.
UNIPA, menurut Haerul, selama ini menjadi salah satu mitra penting Pemerintah Provinsi Papua Barat dalam berbagai kegiatan penelitian. Hubungan tersebut dinilainya perlu diperkuat menjadi kerja sama yang lebih formal dan berkelanjutan.
Namun tantangan penelitian tidak selesai ketika data telah dikumpulkan dan artikel ilmiah diterbitkan.
Haerul mengingatkan hasil penelitian seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
“Kita berharap hasil-hasil riset itu memberikan dampak. Tidak hanya berhenti di meja publikasi, jurnal, buku, tesis atau disertasi, tetapi bagaimana memberikan dampak terhadap masyarakat dan pembangunan daerah,” katanya.
Menurut dia, salah satu jalannya adalah menerjemahkan temuan penelitian menjadi rekomendasi kebijakan atau policy brief. Data dan informasi ilmiah dengan demikian dapat menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan dan program pembangunan.
Dalam konteks kuliah tamu tersebut, gagasan itu membuka ruang penelitian yang luas. Kajian mengenai perubahan pangan lokal, biodiversitas, genetika ataupun kesehatan masyarakat dapat memiliki arti strategis apabila temuan-temuannya mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah.
Kampus sebagai ruang produksi pengetahuan Papua
Dekan FMIPA UNIPA, Dr. Markus Heryanto Langsa, S.Si., M.Sc., Ph.D, melihat kegiatan semacam kuliah tamu sebagai bagian dari pembangunan suasana akademik.
Menurutnya, pengetahuan mahasiswa tidak seharusnya hanya diperoleh melalui pembelajaran reguler di ruang kelas. Kuliah umum, seminar, penelitian dan kegiatan ilmiah lain memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk bertemu dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas.
Langsa juga menekankan perlunya memperkuat kolaborasi antara fakultas, program studi, lembaga penelitian, perguruan tinggi lain, pemerintah dan mitra eksternal.
Pertemuan genetika, pangan dan mikrobiota usus di Manokwari itu pada akhirnya membawa pembicaraan kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana memahami manusia Papua secara utuh.
Jawabannya tidak cukup dicari pada satu disiplin ilmu.
Gen dapat menyimpan jejak perjalanan populasi. Pangan membawa pengetahuan dan hubungan manusia dengan alam. Mikrobiota membuka ruang untuk memahami hubungan makanan dengan tubuh. Biodiversitas menyediakan ekosistem tempat seluruh hubungan itu berlangsung.
Karena itu, kehilangan biodiversitas dan pangan lokal berpotensi berarti lebih dari kehilangan sumber makanan. Ia dapat bersinggungan dengan hilangnya pengetahuan, budaya dan bagian dari hubungan panjang antara manusia dengan lingkungannya.
Di titik inilah Papua memperoleh posisi berbeda dalam percakapan ilmiah tersebut: bukan hanya tempat untuk melakukan penelitian, melainkan ruang pengetahuan untuk memahami bagaimana manusia, pangan, lingkungan, kesehatan dan evolusi saling berhubungan. *
( Abe )







