Sentani,(19/9/2025) – Di tepian Danau Sentani, tepatnya di Kampung Ayapo, seorang anak lahir pada 17 November 1979. Namanya Alberth Yomo. Sejak kecil, ia dikenal sebagai murid berprestasi sekaligus aktif di berbagai organisasi sekolah: pernah menjadi Ketua OSIS, anggota Paskibraka Papua, hingga pemain olahraga andalan. Dunia olahraga membawanya lebih jauh. Antara tahun 2000–2003, Alberth turun di lapangan hijau membela Perseman Manokwari sebagai pesepakbola nasional.

Namun, hidup kerap membuka jalan baru. Selepas dunia sepak bola, ia beralih ke jalur lain yang tak kalah penuh tantangan: jurnalisme. “Saya awalnya tidak tahu apa itu wartawan,” kenangnya, usai Podcast di Channel Kopi Acem HJK, Sabtu(13/9/2025).   “Teman yang ajak ikut tes masuk di Cenderawasih Pos. Anehnya, justru saya yang lulus, dia tidak.” Sejak 2005, Alberth resmi menjadi wartawan, dan dari situlah karier barunya dimulai.

Dua puluh tahun sudah ia menekuni profesi ini. Kini, Alberth menjabat Editor di Media Jubi Papua, pernah menjadi Sekretaris PWI Papua, General Manager Uni Papua FC, hingga Manajer Komunikasi di beberapa lembaga. Baginya, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk menghadirkan suara-suara yang terpinggirkan.

Dari Bola ke Pena

Meski sempat kembali menjajal peruntungan di klub-klub Jawa seperti Persela Lamongan, Arema Malang, hingga seleksi bersama Persik Kediri, nasib membawanya pulang ke Papua. Di Jayapura, ia kembali ke ruang redaksi. “Sepak bola memberi saya disiplin, jurnalisme memberi saya arah,” ucapnya.

Ia pun jatuh hati pada dunia tulis-menulis. Baginya, menulis adalah seni: merangkai fakta, memberi makna, dan menggugah hati pembaca. “Jurnalis itu punya seni. Bukan hanya berita singkat, tapi juga feature yang punya nilai kemanusiaan,” katanya.

Salah satu liputan paling membekas adalah ketika ia dikirim ke Mamberamo. Medan berat, malaria, lintah, hingga harus makan dalam kelambu ditemani ribuan nyamuk, semua ia hadapi. Dari pengalaman itulah lahir bukunya “Mamberamo: Cerita Kisah Perjalanan” (2020), kumpulan catatan lapangan yang kemudian diterbitkan Balitbangda Papua Barat.

Tantangan dan Integritas

Menjadi jurnalis di Papua bukan tanpa risiko. Alberth pernah nyaris dikeroyok tahanan ketika meliput kasus pembunuhan, pernah harus menahan bau di kamar mayat dengan empat batang rokok di mulut, hingga menghadapi tekanan pekerjaan yang menuntut tiga berita per hari. “Tapi semua itu bagian dari proses belajar,” ujarnya tenang.

Soal integritas, Alberth paham betul dilema wartawan di daerah. Banyak media bergantung pada kerjasama dengan pemerintah daerah. “Kadang itu membatasi ruang gerak kita,” akunya. Namun bagi Alberth, loyalitas sejati wartawan tetaplah kepada publik dan kebenaran.

Alberth Yomo, ketika memberikan pelatihan jurnalistik di Rumah Belajar Honai Jurnalistik Kampung, beberapa waktu lalu.

Mentor Generasi Baru

Di luar redaksi, Alberth Yomo menaruh perhatian besar pada pendidikan jurnalistik bagi anak muda Papua. Ia membangun dan memfasilitasi puluhan pelatihan: dari anak-anak sekolah dasar di Sorong Selatan, pemuda Mandokwari, mahasiswa, hingga staf organisasi masyarakat sipil. Ia juga menjadi inisiator lahirnya program Mata Pena dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Papua Barat. Kini, ia aktif di Rumah Belajar Honai Jurnalistik Kampung, membimbing anak-anak muda menulis, membuat konten, hingga berani bersuara. Beberapa muridnya kini telah menjadi wartawan di berbagai daerah.

“Profesi jurnalis itu tidak banyak disukai orang,” katanya. “Anak muda lebih suka pekerjaan yang ada seragam dan gaji bulanan. Tapi saya ingin menunjukkan, bahwa jadi wartawan itu penting, karena kitalah yang menjaga suara rakyat.”

Dari Ayapo ke Dunia

Perjalanan Alberth bukan hanya soal Papua. Ia pernah mewakili tanah kelahirannya dalam forum-forum internasional, dari Berlin hingga Amerika Serikat. Selain buku tentang Mamberamo dan Buku Berawal dari Berlin, ia juga menerbitkan buku tentang Menguak Realita Papua, lalu tahun ini ia menerbitkan Buku “Kitorang Punya Kepribadian – Menggunakan Interpretasi AI” (2025), refleksi tentang identitas dan teknologi.

Kini, di usia 45 tahun, Alberth Yomo memadukan disiplin atlet, ketajaman jurnalis, kepemimpinan organisatoris, dan kepedulian mentor. Semua demi satu hal: membangun generasi muda Papua yang berani bersuara.(*)

Reporter : Jeger

Related Posts

Sorong(29/7/2026) – Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama berbagai pemangku kepentingan menyepakati sepuluh langkah strategis sebagai tindak lanjut Focus Group Discussion (FGD) Forum Kolaborasi Multipihak…

Bahas penyusunan model pengelolaan bentang alam Mahkota Permata Tanah Papua Sorong (28/7/2026)  – Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya memperkuat komitmen membangun tata kelola bersama Bentang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HAM DAN KEAMANAN

Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

  • Juli 4, 2026
  • 38 views
Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

  • Juli 4, 2026
  • 40 views
PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

  • Juli 3, 2026
  • 33 views
Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

  • Mei 15, 2026
  • 84 views
Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

  • Mei 13, 2026
  • 54 views
Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua

  • Mei 13, 2026
  • 114 views
Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua