Mahasiswa mengutuk penembakan warga sipil di Puncak

Potret peserta aksi yang menentang penembakan terhadap perempuan dan anak-anak dalam operasi militer di Puncak, Papua Tengah pada 13 dan 14 April 2026 lalu. – Tudepon/Ana

Jayapura, Tudepoin Puluhan mahasiswa di Kota Jayapura melontarkan orasi-orasi mengutuk tindakan aparat TNI, yang diduga menembak masyarakat sipil di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Senin-Selasa, 13-14 April 2026 lalu. Aksi serupa juga dilakukan di sejumlah daerah pada Senin (20/4/2026).

Di Kota Jayapura, aksi damai dihadiri puluhan mahasiswa dan mahasiswi dari tiga kabupaten–Puncak, Puncak Jaya, dan Tolikara–di halaman Asrama Mimika.

Salah satu orator, Lince Tabuni mengatakan, “…semenjak ada presiden Prabowo, negara instruksikan pendropon militer lebih banyak di [tanah] Papua untuk operasi-operasi militer, tertutup dan terbuka,” disambut teriakan mahasiswa, “betul.”

Suasana demo damai mahasiswa sedang mendengarkan orasi dari Lince Tabuni, di Kota Jayapura, Papua, Senin (20/4/2026). – Tudepoin/Ana

Lince mengatakan akibat operasi militer, setidaknya, pengungsian besar-besaran sudah terjadi sejak tahun 2022 dan masih berlangsung hingga tahun ini.

“Operasi ini menyebabkan kerusakan rumah warga, gereja, hilangnya ternak, hingga trauma di tengah masyarkat sipil. Pembunuhan secara terstruktur dan masif terus terjadi di kabupaten Puncak, khususnya distrik Kembru dan distrik Pogoma, ini pelanggaran ham yang terjadi pada 14 April lalu,” katanya.

Orator lainnya, yang juga Korlap Aksi, Aiton Kogoya mengatakan pasca insiden Puncak pekan lalu, banyak masyarkat yang terpaksa meninggalkan rumah dan kampungnya ke daerah lain untuk mencari tempat yang aman.

“Situasi di Puncak hari ini tidak baik-baik, khususnya di distrik Sinak, Pogoma, dan Kembru,” katanya.

Suasana aksi damai Mahasiswa Puncak,Puncak Jaya, dan Tolikara di halaman Asrama Mimika, Kota Jayapura, Senin (20//4/2026). – Tudepoin/Ana

Aiton menjelaskan, dari operasi militer, terdapat tujuh kampung yang paling terdampak di Distrik Kembru.

“Operasi yang besar-besaran terjadi di Distrik Kembru terdiri dari tujuh kampung… dua kampung di antaranya sudah dievakuasi mayatnya [korban jiwa] dan fasilitas yang sudah dirusak oleh pemboman, dan serangan udara, serangan darat sudah dievakuasi,” katanya.

Ia melanjutkan, selain dua dari tujuh kampung tersebut, belum dievakuasi. ” Sama sekali belum evakuasi, tim palang merah pun belumturun di sana,” ujarnya.

Setelah orasi yang berlangsung sekitar dua jam, para mahasiswa membacakan pernyataan sikapnya.

“Kami seluruh mahasiswa dan mahasiswa Puncak, Puncak Jaya, dan Tolikara yang sedang menempuh studi di Kota Jayapura dengan tegas mengutuk tindakan aparat TNI, Polri, baik organik maupun nonorganik yang diduga melakukan pembunuhan terhadap warga sipil yang tidak bersalah,” kata Aiton Kogoya yang membacakan pernyataan tertulis di hadapan wartawan.

Selain Kota Jayapura, aksi yang sama juga dilakukan di Ilaga (Puncak), Nabire, hingga di luar Papua: Semarang. (*)

Berikut data korban pasca insiden Puncak pada 13 dan 14 April 2026:

Data korban tewas:

1)            Wundilina Kogoya (36),

2)            Kikungge Walia (55),

3)            Pelen Kogoya (65),

4)            Tigiagan Walia (76),

5)            Ekimira Kogoya (47),

6)            Daremet Telenggen (55),

7)            Inikiwewo Walia (52),

8)            Amer Walia (77),

9)            Para Walia (5 tahun).

Korban luka:

1)            Onde Walia (5 tahun),

2)            Aliko Walia (5 tahun),

3)            Nokia Kogoya (21 tahun),

4)            Anite Telenggen (19 tahun)

5)            Daniton Tabuni.

*Anite Telenggen dan Onde Walia sudah dirujuk ke Jayapura dan Nabire, sementara korban luka lainnya di rawat di Rumah Sakit Mulia (Puncak Jaya).

*Korban luka ini belum termasuk yang dirawat di rumah.

 

Related Posts

Senator Lis Tabuni dorong pembentukan Balai Inseminasi Buatan di Papua Tengah

Foto bersama usai rapat kerja Komite II DPD RI bersama Balai Inseminasi Buatan Lembang, Jawa Barat, yang juga dihadiri Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Wakil Bupati Lembang Barat, serta peserta…

GMKI Jayapura Desak Investigasi Independen Konflik Bersenjata di Puncak dan Dogiyai

Jayapura(20/4/2026) — Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Jayapura menyatakan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban sipil dalam konflik bersenjata di Kabupaten Puncak dan Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Dalam pernyataan resminya,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Senator Lis Tabuni dorong pembentukan Balai Inseminasi Buatan di Papua Tengah

  • By
  • April 20, 2026
  • 0
  • 13 views
Senator Lis Tabuni dorong pembentukan Balai Inseminasi Buatan di Papua Tengah

Mahasiswa mengutuk penembakan warga sipil di Puncak

  • By
  • April 20, 2026
  • 0
  • 6 views
Mahasiswa mengutuk penembakan warga sipil di Puncak

GMKI Jayapura Desak Investigasi Independen Konflik Bersenjata di Puncak dan Dogiyai

  • By
  • April 20, 2026
  • 0
  • 6 views
GMKI Jayapura Desak Investigasi Independen Konflik Bersenjata di Puncak dan Dogiyai

Persipura Menang Telak 3–1 atas PSIS Semarang

  • By
  • April 18, 2026
  • 0
  • 1 views
Persipura Menang Telak 3–1 atas PSIS Semarang

Warga ditembak, Senator Lis Tabuni: Negara harusnya jadi pelindung

  • By
  • April 18, 2026
  • 0
  • 9 views
Warga ditembak, Senator Lis Tabuni: Negara harusnya jadi pelindung

BEM FKM UNCEN GELAR PELATIHAN MULTIMEDIA DAN PENULISAN KARYA ILMIAH

  • By
  • April 17, 2026
  • 0
  • 9 views
BEM FKM UNCEN GELAR PELATIHAN MULTIMEDIA DAN PENULISAN KARYA ILMIAH