
Manokwari (15/3/2026) – Penelitian internasional menunjukkan ciri-ciri tumbuhan dapat membantu menentukan wilayah konservasi di Tanah Papua
Di bentang hutan tropis yang luas di Semenanjung Kepala Burung, Papua Barat, masa depan konservasi mungkin tidak hanya ditentukan oleh jumlah spesies yang hidup di dalamnya. Para ilmuwan kini menemukan bahwa ciri-ciri biologis tumbuhan—seperti ukuran daun atau warna bunga—dapat menjadi petunjuk penting untuk menentukan kawasan yang harus dilindungi.
Temuan itu muncul dari sebuah penelitian internasional yang dipimpin oleh Liam A. Trethowan dari Royal Botanic Gardens, Kew, Inggris, bersama puluhan peneliti dari berbagai lembaga, termasuk Universitas Papua (UNIPA), Universitas Gadjah Mada, University of Kent, dan Imperial College London.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Conservation Biology (2025) dengan judul “Informing Spatial Conservation Prioritization with Species’ Traits.”
Studi ini menjadi salah satu analisis ilmiah terbaru yang berupaya mendukung Deklarasi Manokwari, sebuah komitmen pemerintah daerah Papua Barat untuk melindungi 70 persen wilayah Semenanjung Kepala Burung sebagai kawasan konservasi.
Ketika Data Spesies Terlalu Sedikit
Papua dikenal sebagai salah satu pulau dengan keanekaragaman tumbuhan tertinggi di dunia. Namun ironinya, banyak spesies tumbuhan di wilayah ini hampir tidak memiliki data ilmiah yang memadai.
Para peneliti hanya memiliki sekitar 2.200 catatan spesimen herbarium yang mewakili 836 spesies tumbuhan untuk mempelajari kawasan seluas sekitar 100.000 kilometer persegi di Kepala Burung Papua.
Keterbatasan data ini membuat pendekatan konservasi tradisional sulit diterapkan.
Biasanya, perencanaan kawasan konservasi bergantung pada data lokasi pasti keberadaan spesies. Namun di kawasan tropis seperti Papua, banyak spesies jarang tercatat sehingga model distribusi spesies menjadi tidak akurat.
Untuk mengatasi persoalan ini, para ilmuwan menggunakan pendekatan baru: memanfaatkan karakter biologis tumbuhan (species traits).
Membaca Ekosistem dari Daun dan Bunga
Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan mengumpulkan data dari 246 publikasi taksonomi tumbuhan serta koleksi herbarium yang tersimpan di berbagai institusi ilmiah.
Mereka menganalisis berbagai ciri biologis tanaman, antara lain:
- ukuran daun
- ukuran bunga dan buah
- warna bunga
- tipe pertumbuhan tanaman (pohon, semak, epifit, herba, atau tanaman merambat)
Ciri-ciri ini kemudian dimasukkan ke dalam model komputer untuk memprediksi kemungkinan keberadaan spesies di berbagai bagian lanskap Kepala Burung.
Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa karakteristik tumbuhan ternyata sangat membantu meningkatkan akurasi model.
Ukuran daun menjadi indikator paling kuat dalam memprediksi keberadaan spesies, diikuti oleh warna bunga—terutama merah dan ungu.
Menurut para peneliti, ciri-ciri tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan tempat tumbuhan hidup.
Misalnya, daun yang lebih kecil sering ditemukan pada habitat yang kering atau terbuka karena membantu mengurangi kehilangan air. Sementara warna bunga tertentu berkaitan dengan jenis penyerbuk yang hidup di suatu wilayah.
Pendekatan ini juga terbukti lebih efektif dalam memprediksi keberadaan spesies langka, yang biasanya memiliki data observasi sangat terbatas.
Menentukan Peta Konservasi Baru Papua Barat
Model yang dikembangkan para ilmuwan kemudian digunakan untuk memetakan wilayah prioritas konservasi di Semenanjung Kepala Burung.
Beberapa kawasan muncul secara konsisten sebagai wilayah penting untuk perlindungan ekosistem, antara lain:
Pegunungan dan kawasan hutan utama
- Tambrauw
- Pegunungan Arfak
Kawasan dataran rendah yang kritis
- Moskona
- Bintuni
- Babo
- Kaimana
- Manokwari
- Pulau Waigeo
Kawasan-kawasan tersebut tidak hanya memiliki keanekaragaman spesies tinggi, tetapi juga keragaman fungsi ekologis tumbuhan yang penting bagi ketahanan ekosistem.
Penelitian ini juga menemukan bahwa pendekatan berbasis sifat tumbuhan meningkatkan kemungkinan terpilihnya kawasan yang memiliki risiko deforestasi tinggi, sehingga perlindungan dapat difokuskan pada wilayah yang paling rentan.
Konservasi yang Melihat Fungsi Ekosistem
Salah satu inovasi penting dari penelitian ini adalah penggunaan konsep trait diversity, yaitu keragaman fungsi ekologis tumbuhan dalam suatu ekosistem.
Pendekatan ini melampaui metode konservasi tradisional yang hanya menghitung jumlah spesies.
Menurut para peneliti, keragaman fungsi tumbuhan sangat penting karena berkaitan dengan:
- penyimpanan karbon hutan
- stabilitas ekosistem
- ketahanan terhadap perubahan iklim
- kemampuan hutan pulih dari gangguan
Dengan mempertimbangkan fungsi ekologis tumbuhan, kawasan konservasi dapat dirancang untuk menjaga ketahanan jangka panjang ekosistem.
Pentingnya Koleksi Herbarium
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya koleksi herbarium dan literatur taksonomi yang sering dianggap sebagai arsip ilmiah semata.
Spesimen tumbuhan yang dikumpulkan puluhan hingga ratusan tahun lalu ternyata dapat menjadi sumber data penting untuk menjawab tantangan konservasi modern.
Menurut tim peneliti, koleksi tersebut memungkinkan ilmuwan mempelajari ribuan spesies yang belum pernah diamati secara langsung di lapangan.
Di wilayah tropis seperti Papua, di mana banyak spesies masih jarang diteliti, pendekatan ini menjadi sangat penting.
Masa Depan Hutan Papua
Bagi Papua Barat, penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting untuk mendukung implementasi Deklarasi Manokwari.
Dengan menggabungkan data keanekaragaman spesies, fungsi ekologis tumbuhan, penyimpanan karbon, serta risiko deforestasi, para ilmuwan dapat merancang strategi konservasi yang lebih efektif.
Namun mereka juga menegaskan bahwa model ini masih membutuhkan lebih banyak data lapangan untuk meningkatkan akurasinya.
Di tengah meningkatnya tekanan pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam, masa depan hutan Papua kemungkinan akan sangat bergantung pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan untuk melindunginya.
Dan dalam banyak kasus, jawabannya mungkin tersembunyi pada hal-hal kecil di dalam hutan—seperti ukuran daun atau warna bunga.(abe)
Sumber Penelitian :
Trethowan, L.A., Jennings, L., Arifin, H., Borosova, R., Bramley, G.L.C., Briggs, M., Chu, O., Clark, R.P., Dawson, S., Dhanjal-Adams, K.L., de Freitas, Y., Hartup, J., Heatubun, E.G.E., Lee-Grant, C., Mapandin, L.V., Marwa, J., Moore, A., Murdjoko, A., Puglisi, C., Schuiteman, A., Seaman, D.J.I., Sinaga, N., Struebig, M.J., Blasi, A.T., Utteridge, T., Voigt, M., Wanma, J.F., & Heatubun, C.D. (2025).
“Informing Spatial Conservation Prioritization with Species’ Traits.”
Jurnal Conservation Biology.




