Jayapura (19/11/2025) – Festival Literasi dan Resiliensi resmi dibuka oleh Pdt. Benny Giay, Moderator Dewan Gereja Papua. Dalam pandangannya, festival ini adalah salah satu bentuk perlawanan. Seperti ungkapan lama “banyak jalan menuju Roma”, kerja pembebasan pun membutuhkan banyak jalan, banyak pintu, banyak suara.

“Ko punya waktu bikin apa, bikin! Bangkit lagi!” serunya.

Bagi Giay, persoalan Papua tidak berdiri sendiri. Ia juga dialami kelompok minoritas lain di Indonesia, lahir dari kebijakan yang diskriminatif—pembangunan yang tidak melihat manusia secara utuh. Literasi, katanya, bukan hanya perkara aksara, tetapi cara untuk kembali menekuni kekayaan Papua: tanahnya, bahasanya, serta cerita-cerita yang hidup dari generasi ke generasi.

Namun kekayaan itu perlahan tergerus oleh pendidikan, agama, dan pola pemerintahan yang tak berpihak pada budaya Orang Papua.

Pdt. Yemima Krey : Kondisi Papua Hari Ini Tidak Waras

Hari pertama pelaksanaan Festival Literasi dan Resiliensi: Merawat Ingatan Melalui Kata, yang berlangsung di Waena Kota Jayapura, menghadirkan sejumlah pembicara inspiratif.

Pdt. Yemima Krey membuka hari pertama festival dengan sebuah renungan yang menuntun para partisipan menatap kenyataan Tanah Papua apa adanya—tanpa tirai, tanpa penghalang.

“Kondisi hari ini tidak waras. Rumah-rumah kita tidak punya cerita yang senang-senang. Di pasar, di ruang tamu, hanya ada cerita duka. Saudara kita mengalami kekerasan, ada saudara-saudara kita dalam pengungsian,” ujarnya, suaranya seperti menggema di antara gelisah yang sudah lama tidak terucap.

Ia mengingatkan, ada banyak jalan untuk bertahan dan bangkit, dan salah satunya melalui literasi dan resiliensi. Bagi Yemima, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan latihan batin: memahami, mengolah budi pekerti, dan menghadirkan pengaruh baik bagi masyarakat. Gereja—yang ia kritisi dengan pertanyaan sederhana namun menusuk, “Apakah gereja hanya tradisi?”—harus turut berdiri di garda depan.

Gereja, katanya, mesti menjadi ruang penguatan resiliensi, terutama bagi Orang Papua yang terus mengimani kerja-kerja perjuangan. Iman yang diwujudkan dalam tindakan bukan hanya memulihkan Papua, tetapi membawa dunia pada pertobatan.

 

Suasana Talkshow Festival Literasi dan Resiliensi, Rabu (19/11/2025)

Tanah sebagai Ingatan dan Masa Depan

Gagasan tentang cerita dan tanah kembali ditegaskan oleh Sepi Wanimbo, salah satu narasumber talkshow Literasi & Resiliensi Papua — 5 Penulis Papua. Ia menuturkan motivasinya menulis buku “Tanah Kami, Masa Depan Kami” (2024), yang berangkat dari pengalaman menyaksikan perubahan hutan Papua sejak 1975—deforestasi yang menyayat bentang alam dan jiwa masyarakat adat.

“Jika tanah kita gadai, maka kita menggadaikan kehidupan kita untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Baginya, tanah bukan sekadar sumber daya alam. Ia adalah modal budaya, bahasa, dan keberlangsungan hidup suku-suku di Tanah Papua. Karena itu, orang Papua harus jujur menolak narasi bahwa tanah adalah milik negara. Tanah Papua dikelola dan dirawat secara komunal, dan dari sanalah lahir “pemimpin-pemimpin Papua”.

Melawan Narasi Tunggal, Merebut Kendali Pikiran

Suara penolakan terhadap narasi tunggal juga datang dari Abed Tabuni, akademisi dan hamba Tuhan dari STT Walter Post Jayapura. Gerakan literasi, baginya, adalah cara menggagalkan hegemoni dan mendekolonisasi pikiran.

“Momen seperti ini mengajak kita mencari logos—akal budi—dalam budaya kita. Mengambil teologi yang kontekstual, merebut kendali pikiran kita yang merdeka dan berdaulat di atas tanah sendiri, yang takut kepada Tuhan.”

Abed mengingatkan bahwa kerja perubahan harus dibangun di atas kesadaran kolektif dan jejaring. Ia mengawali talkshow dengan membaca laporan Human Rights Monitor tentang pengungsi internal akibat militerisme di Papua, lalu bertanya pada dirinya sendiri: apa yang sudah saya lakukan sebagai hamba Tuhan?

Ia menegaskan, gereja-gereja di Papua harus menjadi motor penggerak kesadaran spiritual dan politik umat.

Ingatan dan Bahasa: Dua Pilar Dekolonisasi

Pada tingkat personal, dekolonisasi pikiran dapat dimulai dari merawat ingatan dan memberi ruang bagi suara-suara yang diabaikan. Hal ini disampaikan oleh Alberth Yomo, jurnalis dan editor podcast JubiTV.

Ia mengenang liputannya di Mamberamo:
“Setelah 10 tahun,saya bertemu seorang bapa dari kampung di Mamberamo yang pernah saya datangi. Saya tanya, apakah kampungnya ada perubahan? Bapa itu bilang, kondisi 10 tahun lalu itu, masih sama sampai sekarang. Itu yang memotivasi saya mengumpulkan artikel tentang Mamberamo, dan akhirnya menjadi buku. Jadi, sepertinya ada yang salah dengan bangsa ini,” jelasnya.

Menulis, baginya, adalah cara merawat ingatan—bukan hanya ingatan pribadi, tetapi ingatan leluhur yang tidak akan pernah tercatat dalam dokumen negara.

Hal serupa ditegaskan oleh Markus Haluk, penulis seri “Sejarah Politik, HAM, dan Demokrasi West Papua”. Dokumentasi melalui tulisan adalah kontribusi personal yang mampu menguatkan gerakan advokasi hingga ke tingkat internasional.

“Menulis bersama adalah metode penting. Ia membuat orang percaya diri. Marah atau bahagia, semua kita olah di halaman-halaman,” katanya.

Bagi Esther Haluk, penyair Nyanyian Sunyi, karya sastra adalah rumah bagi perasaan. Puisi, cerpen, dan novel lahir dari gejolak batin saat ia menyimak berita-berita konflik Papua ketika menempuh pendidikan di Jawa.

“Ada banyak cara untuk resiliensi selain menulis—lukisan, lagu, rap. Kita harus cerita. Tidak bisa seakan-akan tidak ada masalah di Papua. Menulis itu cara kita bertahan.”

Usulan dari Ruang Partisipan: Literasi Dimulai dari Kampung

Talkshow ini juga membuka ruang bagi partisipan mengusulkan gagasan penguatan literasi.

Alex Giyai, dari Komunitas Sastra Papua (KOSAPA), menekankan bahwa kerja literasi harus dimulai dari kampung—memperkenalkan bacaan tentang politik, sejarah, budaya, pangan, dan topik lain yang jarang hadir di ruang formal.

“Kita harus mendekolonisasi pengetahuan. Menulis dengan cara dan bahasa kita sendiri, tidak perlu peduli EYD.”

Moderator Novita Opki menutup diskusi dengan penegasan:
Kita perlu duduk bersama, membicarakan masalah yang terjadi, dan merespons kebijakan yang berdampak pada Orang Asli Papua. Salah satu jalannya—yang telah diwarisi dari leluhur sejak lama—adalah kekuatan literasi.(*)

 

Related Posts

Sorong(29/7/2026) – Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama berbagai pemangku kepentingan menyepakati sepuluh langkah strategis sebagai tindak lanjut Focus Group Discussion (FGD) Forum Kolaborasi Multipihak…

Bahas penyusunan model pengelolaan bentang alam Mahkota Permata Tanah Papua Sorong (28/7/2026)  – Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya memperkuat komitmen membangun tata kelola bersama Bentang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HAM DAN KEAMANAN

Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

  • Juli 4, 2026
  • 38 views
Ikatan Pilot Indonesia Kecam Keras Insiden Pesawat PK-RCY di Papua

PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

  • Juli 4, 2026
  • 40 views
PAKHAM Papua Mengutuk Keras Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya, Mendesak Investigasi Independen, Penegakan Hukum, dan Penyelesaian Konflik Melalui Dialog

Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

  • Juli 3, 2026
  • 33 views
Tragedi Kemanusiaan di Intan Jaya, Exco Partai Buruh Papua Tengah: “Enam Gubernur Jangan Diam. Uang dan Pembangunan untuk Siapa Kalau Rakyat Terus Terbunuh?”

Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

  • Mei 15, 2026
  • 83 views
Bupati Nduga Serukan Warga Tidak Terlibat Konflik Brutal di Wamena: “Jangan Ikut Menjadi Bagian dari Perang Suku”

Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

  • Mei 13, 2026
  • 54 views
Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Kolonialisme, Perampasan Tanah, dan Operasi Militer di Papua

Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua

  • Mei 13, 2026
  • 114 views
Dugaan Penembakan Warga Sipil di Tolikara, Kuasa Hukum Soroti Lambannya Penanganan Polda Papua